Diposkan pada artikel, Kisahku

Telur Ayam Bule di Jerman


Nama saya Robita. Kali ini saya akan bercerita tentang telur putih yang ada di Jerman. Saya tidak tahu apakah di negara Eropa lainnya ada telur berwarna putih seperti ini atau tidak.

Isi telur pada umumnya berwarna kuning dan bening (atau bisa juga disebut putih karena setelah direbus akan berwarna putih). Tapi, bukan tentang isinya yang ingin saya ceritakan, melainkan tentang cangkangnya.

Saya tinggal di Jerman hampir 2 bulan lamanya. Saya tidak kaget dengan cuaca, suhu, dan budayanya yang pasti berbeda dengan Indonesia. Saya sudah menduga perbedaan-perbedaan tersebut sebelum saya pergi ke Jerman.

Yang membuat saya kaget justru hal-hal sepele seperti telur ayam berwarna putih. Lihat gambar berikut ini!

Telur bule di Jerman

Telur yang biasa saya jumpai atau konsumsi adalah telur dengan cangkang berwarna cokelat, seperti 2 telur dalam gambar tersebut. Akan tetapi, di sini saya menemukan telur yang cangkangnya berwarna putih.

Awalnya, saya pikir telur tersebut adalah telur cacat atau telur albino. Tapi, mengapa telur tersebut dijual di toserba? Banyak pula!

Akhirnya, daripada salah membeli telur, saya tidak jadi membeli telur putih tersebut. Saya mencoba mencari telur yang biasa saya konsumsi, tetapi saat itu tidak ada. Semua telur berwarna putih.

Setelah sampai rumah, saya bertanya kepada teman saya yang sudah lama tinggal di Jerman. Saya bingung, mengapa ada telur putih dijual di toserba di daerah ini. Lalu, teman saya menjawab bahwa itu adalah telur bule.

“Hah, telur bule?” tanya saya.

“Di sini tidak hanya orang-orangnya yang berkulit putih, tetapi telur ayam juga,” jawab teman saya sambil tertawa.

“Apakah telur putih itu dapat dimakan?” tanya saya lagi.

“Tentu saja!” jawabnya.

Saya tidak mengerti, mengapa ada telur putih di sini? Apakah ada perubahan genetik di dalam tubuh ayam? Atau, ayam di Jerman berbeda dengan ayam di Indonesia?

Rasa-rasanya saya baru saja membuat pertanyaan bodoh! Haha… Tapi saya penasaran tentang telur tersebut.

Di Indonesia hanya ada satu jenis telur ayam, semua berwarna cokelat. Tidak ada yang berwarna putih. Kalaupun ada, telur putih tersebut biasanya berukuran lebih kecil dan dihasilkan oleh ayam kampung. Warna kuning telur dalam telur ayam kampung juga lebih pekat. Di Indonesia, telur ayam kampung dapat dimakan langsung atau dicampur sebagai ramuan untuk stamina pria. Tapi, di sini, di Jerman, telur putih ini ukurannya sama dengan telur cokelat. Warna kuning telurnya juga sama.

Saya penasaran. Lalu, saya cari di YouTube. Ternyata telur putih ini dapat ditemukan di negara lain juga. Tapi di Indonesia tidak ada, kecuali telur ayam kampung.

Beberapa video di YouTube memberikan saya informasi yang cukup tentang telur ini. Penasaran? Klik tautan berikut ini. ­čĹç­čĆ╝

Perbedaan Telur Putih dan Telur Cokelat

Iklan
Diposkan pada artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Surat untuk Ibu Kartini


Sebagaimana surat-surat yang biasa aku buat, kubuka surat ini dengan salam, assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh.

Ibu, pada hari ini, 20 April 2018, aku ingin menyampaikan sesuatu untukmu. Aku telah membaca beberapa suratmu yang kini telah dibukukan dan dibahasaindonesiakan dengan baik -oleh mereka yang kuyakini sebagai salah satu pengagum beratmu-.

Ibu, dalam salah satu suratmu, engkau menulis menulis bahwa engkau ingin sekali pergi ke Eropa. Dapat kubayangkan, betapa terkungkungnya dirimu kala itu.

Ibu, hari ini kusampaikan, melalui jasadku ini, cita-citamu itu telah terpenuhi. Aku, seorang gadis Indonesia, sama sepertimu, Bu. Hari ini aku berdiri di bumi Eropa, tepatnya di Jerman, membawa nama Indonesia. Walau bukan tanah Belanda yang kujejak, tapi Jerman juga Eropa.

Ibu, aku sangat mengidolakan salah seorang yang jenius asal Indonesia, namanya Pak Habibie. Beliau dulu sekolah di negeri ini, Jerman. Aku sangat senang ketika kesempatan itu datang seperti pelangi pasca-hujan. Kalau kedatangan Pak Habibie ke Jerman adalah untuk studi, kedatanganku ke sini adalah untuk mengajar. Ya, aku datang ke sini sebagai dosen tamu untuk kelas Bahasa Indonesia di Konstanz University of Applied Sciences. Nanti aku ceritakan selengkapnya, Bu. Yang jelas,  kegiatanku di sini adalah sebagai wujud nyata dari Undang Undang No.24 Tahun 2009, pasal 44 ayat (1).

Oh ya, Bu, di sini aku juga bertemu dengan seorang perempuan Eropa, dia sangat baik. Memang bukan Stella, teman yang sering kau kirimi surat, tetapi dia perempuan lain. Dia perempuan Swiss, Bu. Aku pernah menceritakan tentangmu kepadanya dan dia sangat penasaran tentang dirimu. Sayangnya buku berisi surat-suratmu itu belum tersedia dalam bahasa Jerman.

Ibu, kalau aku boleh menebak, tentu, besar keinginanmu untuk dapat pergi ke Eropa dan mendapat banyak pengalaman baru. Ibu, entah bagaimana tapi seolah eksistensiku di sini adalah untuk mewakili kehadiranmu. Aku datang ke bumi Eropa untuk mengenalkan dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka, mahasiswa Eropa. Bahasa Indonesia saat ini sedang diajarkan di banyak negara di dunia, Bu. Aku hanyalah salah satu dari pengajar bahasa Indonesia yang dikirimkan ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia.

Aku ingin bercerita sedikit mengenai kegiatanku di sini, Bu, tidak keberatan, kan?

Jadi begini, Bu, pemerintah Indonesia, tepatnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Pusat Pengembangan Strategi Diplomasi dan Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyelenggarakan program pengiriman pengajar BIPA ke luar negeri. Program ini sudah berjalan selama beberapa tahun belakangan ini. BIPA itu sendiri adalah singkatan dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Jadi, Bu, hari ini bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari dan diperlukan oleh orang Indonesia, Bu, tetapi juga oleh orang lain dari negara lain. Tidakkah kau bangga dengan bahasa dan bangsa ini, Bu?

Oh ya, Bu, sekarang perempuan Indonesia sudah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Perjuanganmu melalui tulisan-tulisan yang kau kirimkan kepada teman-temanmu di Eropa telah memberikan dampak terhadap perempuan Indonesia di masa sekarang. Banyak perempuan Indonesia sukses dan bahkan lebih hebat daripada laki-laki. Tapi, aku tak ingin membicarakan dan membandingkan antara siapa yang paling hebat. Seperti yang kau tulis dalam suratmu, tujuanmu menginginkan hak yang sama dengan laki-laki adalah bukan untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk mendapat manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kaum perempuan itu sendiri. Aku hanya ingin memberi tahu Ibu bahwa sekarang banyak perempuan Indonesia yang hebat, yang dapat berdiri di kakinya sendiri, mewujudkan cita-citanya, mandiri, dan percaya diri. Aku berharap Ibu bangga dengan perempuan Indonesia era sekarang.

Satu lagi, Bu, sekarang perempuan Indonesia dapat sekolah setinggi yang mereka mau, sejauh yang mereka mampu, dan meraih cita-cita yang didambakan. Tak sedikit perempuan Indonesia yang kini menjadi orang sukses dalam takaran kesuksesannya masing-masing. Tidakkah kau bangga dengan hal itu, Bu?

Ibu, surat-suratmu itu tidak hanya memberi kesempatan untuk perempuan Jawa, Bu, tetapi perempuan Indonesia secara keseluruhan. Bukan hanya kesempatan untuk bersekolah, tetapi kesempatan dalam bidang lainnya. Terima kasih kuucapkan atas keberanianmu dalam mengirimkan surat-surat itu. Tanpa surat-surat itu, tentu keadaan kami hari ini tak akan sama.

Bu, aku ingin bercerita banyak tentang Eropa, tetapi satu suratku ini tampaknya tak akan cukup untuk memuat seluruh pengalamanku (sejauh ini) di Eropa. Bu, di sini, di Jerman saat aku mengetik surat ini, adalah pukul 23.44, Bu. Enam belas menit lagi adalah ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Bu.

Surat ini tampaknya harus kuakhiri karena akan membuatmu bosan kalau kuteruskan. Satu hal yang ingin kukatakan sebelum kututup surat ini. Aku adalah perempuan Indonesia. Di mana pun aku berada, jiwaku tetap Indonesia, dan jejakku adalah untuk Indonesia. Walau tak banyak yang kulakukan untuk Indonesia, tetapi dalam kesenyapan, tanpa sorotan media, kulakukan semampuku untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. Aku ingin menginspirasi banyak orang atau setidaknya orang-orang terdekat di sekitarku. Semoga aku mampu.

Akhirnya, kututup suratku ini dengan salam, wassalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh.

Salam hangat,

Robita

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Puisi untuk adikku


Dik, tak terasa waktu telah membawamu beranjak dewasa

Aku masih ingat betul saat pertama kali ibu membolehkanku menggendongmu

kau masih begitu rapuh

Matamu yang sayu, kulitmu yang putih lembut, dan wajahmu yang menggemaskan

membuat aku ingin selalu berada di dekatmu

Dik, aku masih ingat betul saat salah satu kawanku menjahili aku

Lalu tiba-tiba kau menangis seolah tak rela kakakmu disakiti

walau kutahu kawanku itu hanya bercanda

tapi jiwamu yang polos itu tentu belum memahaminya

Dik, tahukah kalau aku begitu bahagia saat Ibu bilang aku punya adik?

Adikku yang cantik, kau sungguh cantik, pun dengan adikmu. Tapi sekarang kita tak sedang membicarakan si bungsu.

Dik, tahu tidak

kadang-kadang kamu rese karena selalu ingin gabung dengan teman-temanku

atau merengek minta ikut ke manapun aku pergi

Tapi sungguh tak ada kebencian sedikitpun di hatiku

Walau mungkin kau tak tahu

Dik, di benakku kau masih anak kecil berumur lima tahun

Mungkin karena pada saat itulah kita berpisah

Aku merantau saat kau masih berusia lima tahun

Aku menjauh tanpa kusadari

Tapi sungguh, ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku lakukan hanya denganmu

Dengan adikku yang masih berumur lima tahun
bermain bersama
pakai baju dengan motif sama
menghabiskan waktu bersama
tapi kita tak boleh menyesalinya
karena takdir Tuhan tak pernah salah

Dik, hari ini kamu bertambah usia
Dua puluh tahun

Kepalamu jadi dua sekarang
Bukan dua sekadar angka dua,
tapi dalam banyak makna

kau akan segera mengetahuinya seiring berjalannya waktu
hadapilah dengan sabar dan tawakal

Dik, kalau kau kehilangan jejak,
kakakmu ada di sini
mungkin bukan dalam artian jarak
tapi aku akan selalu ada, insyaallah.

Jangan sungkan, Dik!

Dik, percayalah dengan dirimu sendiri
Tataplah masa depan
Menataplah dengan bangga dan yakin

Jadilah diri sendiri!
Melangit, tapi membumi!
Aku yakin kau bisa.

Selamat ulang tahun, adikku.
Semoga Allah selalu melindungimu.
Semoga Allah selalu memudahkan jalanmu.
Semoga Allah selalu menyayangimu.

Salam hangat dari Konstanz.

Jerman, 16 April 2018

Robita

Diposkan pada Cerpen, Kisahku, Opini

Lalala Lilili


Ini adalah satu kisah tentang diriku. Aku adalah seorang wanita kuat, tegar menghadapi hidup, dan mandiri. Aku telah belajar hidup mandiri selama 15 tahun.

Kemandirian adalah yang positif. Juga dengan kekuatan dan ketegaran menjalani hidup yang pastinya tak mudah.

Kali ini, aku ingin bercerita tentang satu yang yang aku abaikan dari diriku sendiri. Ini adalah kisah cinta. Jadi, nikmatilah ceritanya, tak perlu berkomentar, dan tak perlu merasa sedih.

Kisah ini bermula ketika aku menyukai seseorang berwujud laki-laki yang kuyakini sebagai salah satu dari kaum Adam yang utuh.

Kami berkenalan. Tak mudah, tapi mengalir dengan lancar.

Tak lama kemudian, kami berteman. Dia baik. Dia juga berparas rupawan. Dia bisa melucu juga. Kadang-kadang dia keras kepala.

Aku senang bisa berteman dengannya, sampai aku tak menyadari bahwa hatiku menaruh simpati yang lebih daripada seorang teman. Aku menyukainya, terlepas dari beberapa hal yang tidak kusukai darinya.

Aku menyukainya sampai-sampai aku meyakini bahwa akan ada jalan bagi kami untuk bersatu, suatu saat nanti.

Namun, suatu hari, ketika aku menjadi lebih dekat dengannya, dan salah satu anggota keluarganya, dia berkata kepadaku bahwa tidak mungkin bagi kami untuk bersatu. Maksudku, bersatu sebagai sepasang kekasih. Dia lebih tertarik dengan sejenis dengannya.

Entah benar atau tidak. Tapi, kepalaku terus berpikir bahwa (mungkin) itu hanya alasan dia saja untuk menolakku.

Tapi, bisa jadi apa yang dia katakan itu benar. Terlebih ketika anggota keluarganya mengiyakan informasi tersebut.

Patahlah hatiku.

Tapi, aku tak ingin menunjukkan patah hati yang kurasakan. Aku berusaha untuk tetap ceria dan tampak normal-normal saja. Aku berusaha untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Aku tahu percis dampak yang akan aku rasakan kalau aku menceritakannya. Aku akan sedih.

Tapi, dengan menahan rasa sedihku, tubuhku justru memberikan reaksi yang tidak biasa. Seperti air sungai yang tak dibiarkan mengalir. Begitulah kira-kira analoginya.

Emosiku menjadi tak biasa. Kalaupun aku tersenyum, mataku menunjukkan kehampaan. Walaupun aku ceria, hatiku sedih. Meskipun aku senang berada dalam keramaian, aku merasa kesepian.

Aku tidak menikmati hari-hariku di saat teman-temanku cemburu kepadaku.

Aku tak pernah menangis. Oh, mungkin lebih tepatnya jarang menangis. Bahkan ketika aku tahu dia tak akan pernah memilihku. Sebenarnya aku bisa saja langsung menangis ketika mendengarnya, tapi aku tak membiarkan emosi sedihku muncul. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bersyukur dan tetap bahagia walaupun hanya bisa berteman dengannya.

Tapi, tak baik melawan arah. Aku harus melepaskan rasa sedihku, lalu melanjutkan perjalanan hidup ini (move on).

Akhirnya, malam ini kucoba menonton film yang dapat membuatku menangis. Aku menonton “50 First Dates”, dan benar saja aku menangis mengingat apa yang terjadi padaku.

Banyak orang bilang, “Cocok!”

Tapi apalah dayaku, ujung jalan kami tak tampak sama.

Malam ini, kubiarkan air mataku mengalir. Hanya untuk membuat hatiku lega. Berharap, setelah ini aku dapat benar-benar mengikhlaskannya.


Ternyata, aku tak menyadari hatiku sendiri, yang ingin menjerit atau sekadar meneteskan air mata.

Ternyata, aku acuh tak acuh dengan perasaanku sendiri ketika sebuah penolakan aku dapatkan.

Ternyata, aku mengabaikan respons naluriku yang menginginkan berekspresi sebagaimana-mestinya.


Malam ini, di Konstanz, aku minta maaf kepada diriku sendiri, kepada hatiku, dan kepada pikiranku, yang telah kuabaikan selama beberapa waktu.

Semoga, aku kembali bersemangat dan menemui ujung yang indah. Terima kasih, Cinta.

.

.

Konstanz, Jerman, April 2018

Robita

Diposkan pada Kisahku

Ngeceng di Masa Cinta Monyet


Malam ini aku membaca novel Dilan 1990 (lagi). Halaman 157-164. Di sana adegannya Dilan menelepon Milea, malam-malam, via telepon umum. Pada saat membacanya, aku teringat masaku dulu, waktu masih jadi monyet.

Kata orang, cintanya anak remaja itu cinta monyet. Iya kan? Jadi kuanggap itu adalah masa-masa monyet. Hehehe… (jangan berpikiran negatif ya)

Oke, mengenai ceritaku, saat itu aku berumur sekitar 14 tahunan. Cinta monyet tentu sedang tumbuh-tumbuhnya. Eh bukan cinta denk, tapi suka aja. Soalnya temenku yang satu ini imut, kalem, menarik, dan aku ingin lebih dekat dengannya.

Suatu hari, eh malam denk, aku menelepon dia. Saat itu sudah ada HP sih, tapi aku belum punya HP. Kalaupun punya, harga pulsanya mahal!

Aku senang menggunakan fasilitas wartel. Menelepon teman atau keluarga sambil melihat argo. Hehehe…

Malam itu aku menelepon dia. Sebutlah namanya si E. Sebenarnya aku tahu bahwa tidak ada PR untuk besok, tapi pengen aja aku menelepon dia. Haha…

Kutekan nomor telepon rumahnya dari bilik wartel dekat kosanku. Kutunggu beberapa detik.

Klek. Seseorang di seberang sana terdengar mengangkat teleponku.

“Halo,” katanya. Itu bukan suara dia, tapi ibu-ibu paruh baya.

“Halo, assalamualaikum,” jawabku.

Wa alaikumussalam,” jawabnya lagi.

“Ibu, maaf, E ada? Ini saya A, teman sekolahnya.”

“Oh iya ada, tunggu sebentar ya, Nak.”

“Iya, Bu, terima kasih.”

E… ini ada telepon untukmu! Terdengar ibu itu memanggil si E. Aku deg-degan. Dalam hitungan detik kami akan segera terhubung melalui telepon ini.

“Halo,” katanya.

Ya Allah, jantungku berdegup kencang! Deg-degan banget! Tapi aku harus tenang dan terdengar natural.

“Halo, E, ini A,” jawabku.

“Oh iya, ada apa?”

“Engga, aku cuma mau memastikan aja, kita besok gak ada PR kan?”

“Hm… kayanya gak ada deh.”

“Oh oke sip, makasih ya. Hehe…” suaraku terdengar sedikit bergetar, tak bisa menyembunyikan rasa senang karena sudah terhubung dengannya via telepon.

“Iya,” jawabnya santai.

“Ya udah, makasih ya, hehe… daaaaahh…” kucoba menutup obrolan kami yang gak jelas itu.

Kututup telepon. Kubayar argo telepon. Dua ribu rupiah. Setelah itu aku kembali ke kosanku. Waktu menunjukkan pukul delapan malam.

Dalam perjalanan pulang ke kosan, aku jalan berjingkrak karena senang. Ahahaha… kalian bisa bayangkan sendiri lah ya. Di jalanan yang remang itu aku berjalan dengan penuh rasa bahagia. Aku berjingkrak ke kanan dan ke kiri.

Ya, itu saja yang ingin kuceritakan malam ini. Sebuah kenangan masa monyet. Lucu! Setidaknya begitu bagiku. Ahahaha…

Bersambung…


Konstanz, 19 Maret 2018

Robita

Diposkan pada Kisahku

Pengalaman Seram: Hati-hati dengan Orang Asing!


Kemarin, Sabtu, 17 Maret 2018, saya pergi jalan-jalan sendirian ke kota Konstanz. Saya berangkat sekitar pukul 14.00 naik bus nomor 6.

Di tengah perjalanan, sekitar pukul 14.10, terjadi tabrakan antara bus yang saya naiki dengan sebuah mobil. Untungnya saya tidak apa-apa karena di depan tempat duduk saya ada sebuah penghalang. Tapi, sayangnya penumpang yang lain yang mayoritas orang-orang lanjut usia itu ada yang terpental ke depan dan ada yang cedera. Saya juga mendengar tangis anak bayi di bus ini. Semua orang panik dan penasaran dengan apa yang terjadi.

Pengemudi bus bertanya kepada semua penumpang, “Apakah semuanya baik-baik saja? Ada yang terluka?”

Sementara itu, di luar bus aku melihat bapak-bapak, mungkin usia 50 tahunan, mendatangi sopir bus dan entah apa yang mereka bicarakan. Minta maaf mungkin.

Sampai saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Aku juga tidak mengerti yang ditanyakan oleh sopir bus, tapi bisa dikira-kira sopir bus menanyakan siapa yang mengalami cedera.

Saat peristiwa terjadi, aku sedang menulis sesuatu di instagram, tentang sebuah kata bijak. Setelah peristiwa tabrakan itu, aku langsung membuat catatan tentang hari ini. Begini isinya.

Sabtu, 17 Maret 2018

Pukul 14.10 waktu Jerman

Siang ini aku naik bus nomor 6. Dalam perjalanan, tiba-tiba bus berhenti. Ternyata ada mobil di depan bus. Aku gak tahu siapa yang menabrak dan siapa yang ditabrak.

Aku kaget! Lumayan kaget.

Penumpangnya kebanyakan orang tua.

Mereka pada ngomongin tentang peristiwa ini sih. Andai aku ngerti, aku pasti tahu siapa korban dan siapa yang menabrak dalam insiden ini. Sayangnya aku gak ngerti.

Selang 3 menit, 2 mobil ambulan datang dan mengecek penumpang yang cedera. Aku gak kenapa-kenapa sih, jadi aku gak berkata sepatah kata pun. Aku cuma kaget.

Selang 5 menit kemudian datang lagi 2 mobil medis dan mengecek penumpang. Aku masih diam karena tidak tahu harus bilang apa.

Selang 1 atau 2 menit kemudian datang mobil polisi.

Ada beberapa penumpang yang cedera karena benturan yang lumayan keras. Selain itu, mungkin karena faktor usia juga. Soalnya yang muda semuanya baik-baik aja.

Setelah kejadian itu, aku dan beberapa penumpang lainnya pindah ke bus nomor 6 yang lain, sedangkan beberapa penumpang yang lain memilih jalan kaki menuju tempat tujuan mereka, mungkin karena sudah dekat.

Di bus yang kedua ini, aku memilih duduk di belakang. Kursi paling belakang. Kubiarkan tempat duduk yang biasa aku pilih diduduki orang-orang lanjut usia. Khawatir terjadi kecelakaan lagi.

Tiba-tiba seorang penumpang dari bus yang sebelumnya terlihat mengikutiku, dia juga duduk di belakang. Dia terus melihat ke arahku. Aku berusaha untuk tidak ge-er. Untuk apa juga aku ge-er!

Lalu, dalam sebuah kesempatan dia bertanya, “Kamu gak apa-apa?” Kurang lebih itu yang dia tanyakan dalam bahasa Jerman. Kujawab, “Aku baik-baik saja,” dalam bahasa Inggris.

Dia bilang dia gak lancar berbahasa Inggris. Aku bilang aku gak bisa berbahasa Jerman. Akhirnya dia mencoba ngobrol denganku dalam bahasa Inggrisnya yang terbatas.

Dia mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya, Mohammed. Dia berasal dari Syria. Artinya, dia pengungsi di sini.

Dia bilang sudah satu setengah tahun tinggal di sini. Dia bisa berbahasa Arab, Turki, Jerman, dan beberapa bahasa dari Timur Tengah. Di sini dia tinggal bersama ibu, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya. Tapi dia tidak tinggal dengan mereka. Ingin mandiri mungkin. Mungkin!

Kujabat tangannya dengan menyebut namaku, Robita. Dalam hati aku berkata, “Aneh! Kalau memang dia seorang muslim yang paham ajaran Islam, dia tidak akan mungkin mengulurkan tangan untuk berkenalan. Ah, tapi mungkin saja dia sudah menyesuaikan diri dengan budaya di Jerman.”

Setelah perkenalan itu dia bertanya lagi, “Kamu ada waktu?”

“Ya,” kujawab.

“Mau ngopi bareng?”

“Hm… boleh deh!”

Ini bukan Robita yang biasanya, yang gak menanggapi orang asing. Mungkin kali ini Robita ingin mencoba pengalaman baru. Apa yang akan terjadi kalau merespons orang asing seperti ini.

Akhirnya, setelah turun dari bus kami berjalan menuju tempat kopi. Tapi, kemudian dia bertanya lagi, “Robita, kamu lapar?”

Aku memang belum makan siang sih, jadi kujawab, “Ya, lumayan, tapi gak laper-laper banget!”

Aku masih berpikiran positif sampai sejauh ini. Mungkin dia ingin berteman denganku, mungkin saja kan?

Setelah itu, dia membawaku ke sebuah restoran kecil di kota tua dengan nama Ali Baba. Dia memesankan kebab untukku. Duh, gue kan gak suka kebab! Porsinya itu loh! Tapi akhirnya ku makan juga kebab itu. Sedikit! Aku gak sanggup makan banyak kebab!

Setelah dia membayar makanan, aku bilang mau ke M├╝ller, sebuah toko di kota tua. Aku ingin membeli beberapa kosmetik yang katanya lagi diskon. Hehe…

Dia menemani aku sampai ke toko itu. Pada waktu naik lift, dia nempel banget! Beneran nempel seolah di tangga itu memang penuh dengan orang, padahal tidak. Aku tidak nyaman dengan hal itu, jadi aku naik satu tangga. Dalam pikiranku aku berkata, “Ngeselin! Ngapain sih nempel-nempel!”

Aku bisa melihat gelagatnya yang menunjukkan ketertarikan terhadapku. Tapi, hey… kita baru ketemu, itu tidak sopan tahu!

Aku tidak jadi membeli banyak barang di M├╝ller. Gak enak diikuti cowok yang baru dikenal. Akhirnya aku hanya membeli 1 barang. Lalu, pada saat aku mau bayar di kasir, aku mencoba menemukan koin euro yang pas, jadi gak perlu kembalian. Eh… tiba-tiba dia bayarin. Ngeselin! Emang gue gak punya duit apa!

Oke, walaupun aku kesal, aku mencoba berpikiran positif. Mungkin dia ingin akrab denganku. Mungkin!Setelah selesai belanja, dia mengajakku melihat Bodensee.

Dalam perjalanan menuju Bodensee, dia bertanya lagi, “Robita, boleh aku cium kamu?”

Anjir… gak sopan banget ini orang. Aku kaget mendengarnya. Langsung aku jawab, “No! No way!”

Gila banget ya tu cowok! Kucoba bertanya untuk memverifikasi apakah benar dia muslim atau tidak, “Kamu muslim?” tanyaku.

“Ya, aku muslim, namaku Mohammed,” jawabnya sambil terus mendekatkan jarak denganku.

Ya Allah, lindungi aku. Aku gak yakin dia beneran muslim. Muslim yang baik tak akan mungkin bertanya seperti itu. Itu sungguh keterlaluan.

Lalu dia bertanya denga penuh protes, “Kenapa, Robita? Kenapa aku gak boleh cium kamu?”

“Ya, gak boleh aja! Di Islam gak boleh kaya gitu! Selain itu, aku berasal dari Indonesia. Tidak ada budaya seperti itu di negaraku!” jawabku kesal.

Sambil terus berjalan menuju Bodensee, aku terus menjaga jarak dengannya dan berkata, “Pokoknya aku gak mau dicium kamu! No way! Gak perlu ada alasan! Aku gak mau, pokoknya gak mau!”

“Kenapa? Masalahnya apa gitu?” dia terus bertanya dan merengek.

Sesampainya di Bodensee, kami duduk bersama. Sejauh itu aku masih berusaha untuk menahan diri dan menghormati niatannya untuk berteman denganku. Tapi, aku pikir ini akan menjadi sebuah kebodohan yang nyata kalau aku terus mengikuti dia dan terus memberinya waktu untuk berbicara denganku.

Ketika duduk itu, jarinya berusaha menggapai wajahku. Aku menghindar.

“Kamu Beneran muslim? Kamu Beneran belajar tentang Islam?” tanyaku.

“Ya, namaku Mohammed, aku beragama Islam juga, sama sepertimu,” jawabnya.

Orang seperti ini yang merusak citra Islam dan pemeluk Islam. Ingin sekali rasanya aku berkata kasar, tapi kutahan.

Setelah terus-menerus bertanya mengapa dia tidak boleh menciumku, aku mengambil sebuah tindakan berani. Ya, menurutku itu tindakan yang cukup berani.

“Maaf, sepertinya aku harus pulang. Percuma juga aku menjelaskan ini dan itu. Kamu gak akan ngerti. Lagian aneh aja, kamu seorang muslim tapi kamu ingin mencium seseorang yang bukan mukhrim untukmu,” kataku.

“Tapi, Robita, aku mencintaimu,” jawabnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

Anjir, ini orang gila atau gimana ya? Baru juga ketemu udah bilang cinta! Sorry, aku tidak semudah itu untuk kau dapatkan. Aku juga bukan tipe orang yang akan jatuh cinta pada pandangan pertama. No way!

“No, I hape to go,” jawabku.

“Kamu mau simpan nomorku?” tanya dia lagi.

“Gak perlu,” jawabku. Lalu aku membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.

Ya Allah, kok ada orang macam itu ya? Kalau memang dia seorang muslim, apalagi dari negara muslim, gak akan mungkin dia akan seperti itu. Dengan membawa nama Muhammad, dia tidak hanya merusak citra Islam, tetapi juga mencemarkan nama baik Nabi Muhammad SAW! Geram, aku sungguh geram!

***

Teruntuk pembaca blog-ku, melalui pengalamanku ini aku ingin sampaikan kepada kalian, khususnya teman-teman Indonesiaku, berhati-hatilah dengan mereka yang mengaku seorang muslim. Bukan suudzon ya, tapi berhati-hati. Nyatanya, tidak semua bule muslim itu baik. Dan, aku mendapat informasi bahwa sejak banyak terjadi pemerkosaan di sini, juga pelecehan seksual.

Apa yang aku alami itu, sebenarnya itu termasuk pelecehan juga. Hanya saja aku baru tahu itu pelecehan setelah aku menceritakan ini kepada orang terdekatku di sini.

Kawan, berhati-hati itu harus, apalagi terhadap orang asing. Jangan terbuai dengan wajah dan status lisan dia yang menyatakan dirinya seorang muslim, jangan! Hati-hati ya!

Sekarang aku jadi agak takut keluar sendirian, walaupun siang hari.

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia

Boots-ku Jebol (Lagi)


Hari ke-6 di Jerman. Cuaca cukup cerah hari ini. Tapi, melihat boots yang sudah kubawa dari tanah air, yang sebenarnya dibeli di negeri kanguru dan sudah mendekam di lemari selama kurang lebih 2 tahun, kupakai juga hari ini.

Yap! Si boots yang dari permukaan luar sudah semi berjamur, tetapi masih bagus di bagian dalam itu aku pakai hari ini. Cuaca cerah tak menghalangiku. Dalam pikiranku aku berkata, “Bodo amat, Bit! Orang bule kan pada cuek, gak akan komen juga mereka!”

Haha… dan akhirnya kupakai si boots andalanku itu.

Cerita punya cerita, sebenarnya boots ini adalah boots kedua, tapi boots yang sama. Bingung? Oke, jadi begini ceritanya…

Di pertengahan musim dingin di Australia, saat dua temanku sudah bergaya dengan boots andalan masing-masing, aku masih belum punya boots. Aku masih mengandalkan si Nike-ku, sebuah running shoes. Tapi, rasanya “ateul” gak pake boots kaya teman-temanku. Hahaha… Akhirnya, dalam sebuah perjalanan menuju pusat Kota Melbourne, aku dan teman-temanku mampir ke beberapa toko di Jalan Sydney di Melbourne. Di sanalah aku menemukan boots ini. Boots berwarna coklat dengan bulu-bulu halus di dalamnya. Harganya sekitar 70$ Australia. Itupun sudah mendapat diskon.

Nah, dengan bangganya boots itu aku pakai ke salah satu pusat perbelanjaan di Melbourne dan dalam kesempatan lain aku pakai ke Healesville Sanctuary. Dua kali dipakai dalam waktu kurang dari seminggu. Kulihat bagian belakang boots-ku jebol. Hal ini aku ketahui setelah pulang dari Healesville Sanctuary.

Berhubung di Australia ada peraturan boleh menukar barang yang sudah dibeli dengan menunjukkan struk pembelian, kubawa boots itu ke toko di Jalan Sydney, Melbourne. Aku bilang bahwa aku membelinya sekitar 5 hari yang lalu dan aku baru memakainya 2 kali. Aku tinggal jauh dari sini, jadi untuk sampai ke toko ini perlu waktu yang “tumaninah”. Aku berusaha menjelaskan keadaanku dan keinginanku kepada si penjual.

Ternyata orang yang menjual boots di toko yang luasnya seluas Indomaret itu bilang bahwa dia bukan pemilik toko ini. Aku gak mau tahu juga ya, yang pasti aku beli boots ini di toko ini. Aku membawa bukti yang jelas, struk belanja.

Setelah diplomasi yang cukup alot, akhirnya dia bilang, “Oke, tunggu sebentar ya, saya tanyakan ke bos dulu.”

Aku menunggu dengan memasang wajah yang agak tegas, bukan wajah penuh senyum seperti biasanya. Hehe…

Setelah sekitar 10-15 menit, datanglah si pelayan toko dengan membawa kabar dari bosnya. Dia bilang, “Oke bisa ditukar. Nomor berapa?”

“Nomor 7,” kataku. Nomor 7 kalau di Indonesia sama saja dengan nomor 38. Sebenarnya aku lebih nyaman pakai nomor 7,5 alias nomor 39, tapi gak ada coy! Ya udah, berhubung nomor 7 muat, jadinya pakai nomor 7.

Singkat cerita, setelah berhasil menukar boots-ku yang seumur jagung itu dan mendapat boots yang baru, aku pulang ke Alexandra. Aku pulang dengan wajah gembira.

Tapi, selang beberapa hari musim dingin selesai, berganti ke musim semi. “Yaaahh… boots, kamu gak bisa ku pakai! Terlebih-lebih aku juga punya boots baru yang lebih praktis dan dapat dipakai dalam cuaca apapun.”

Akhirnya kusimpan boots itu. Aku berharap Allah memberiku kesempatan untuk berkunjung ke negara subtropis dan berkesempatan memakai boots itu lagi.


2018, aku mengunjungi Eropa, tepatnya Jerman, di akhir musim dingin.

“Yes! Aku bisa pakai boots ini lagi!” kataku gembira.

Eh belum genap 2 hari aku sampai di Jerman, salju telah mencair dan itu adalah pertanda musim dingin berakhir.

“Ya Allah… kok sedih ya, jauh-jauh dari Indonesia bawa boots. Boots-nya dibeli di Australia, belum sempat dipakai karena musim dinginnya selesai, eh… giliran sekarang dapat musim dingin cuma sehari.”

Sedih!

Tapi, hari ini, di hari ke-6 ini kuputuskan untuk memakai boots itu kembali. Bodo amat dengan apa yang orang pikirkan tentang penampilanku. Hahaha…

Aku menjalani hariku seperti biasanya. Datang ke kantor, duduk, kulepas boots-ku dan diganti dengan sandal sejenis sandal hotel, lalu mulai mengerjakan tugas di komputer.

Sorenya aku pulang naik bus. Tak lupa kupakai boots itu sebelum keluar dari ruang kantor. Setelah keluar dari kantor, aku langsung baik bus nomor 2 dan berdiri selama kurang lebih 5 menit, selebihnya aku lebih memilih duduk.

Setelah sampai di halte tujuan, Wollmatingen, aku berjalan menuju rumah. Sesampainya di rumah, kulepas boots itu. Nah, di sinilah aku baru sadar bahwa bagian belakang boots-ku jebol lagi! Sama seperti dulu, waktu baru 2 kali dipakai.

Bye bye boots!

Jadi, aku ada alasan untuk beli boots yang baru, kalau ada uangnya. Hehehe…

Diposkan pada Kisahku

Willkommen in Deutschland, Robita!


Dulu, waktu di Australia 3 tahun yang lalu, aku kaget dengan toilet, cuaca, dan budaya yang ada di sana. Sangat berbeda dengan Indonesia. Kini aku mendapat kesempatan untuk menjelajahi bumi Eropa. Aku tidak lagi kaget dengan toilet, cuaca, dan budayanya. Walaupun budaya di Eropa dan di Australia belum tentu sama, setidaknya ini bukan kali pertama aku ke luar negeri. Aku siap mengenalmu lebih jauh, Duhai Eropa, atau lebih tepatnya Jerman.

Aku siap dengan apapun itu. Aku siap dengan pengalaman baru, petualangan baru, tantangan baru, cerita baru, dan tentunya hal-hal lainnya yang belum pernah aku tahu. Jerman, aku datang!

Danau di Konstanz

Pengalaman pertama ke Eropa, seorang diri, tanpa teman, tanpa keluarga. Takut? Iya! Deg-degan? Pasti! Seneng? Uh… banget!

Jadi, kali ini aku mendapat kesempatan berkunjung ke Jerman, untuk menunaikan tugas sebagai pengajar BIPA. Alhamdulillah!

Tak tanggung-tanggung, aku ditempatkan di salah satu kota wisata di daerah Jerman Selatan, namanya Konstanz. Kota ini dekat sekali ke Swiss, bahkan jaraknya lebih dekat daripada ke Munich.

Hari pertama aku sampai di Jerman sungguh menyenangkan! Allah memberikan kesempatan padaku untuk merasakan kembali musim dingin dan melihat salju turun bagai hujan. Ya, aku melihatnya walau hanya sehari. Dengan kata lain, itu adalah hari terakhir musim dingin.

Boots, tampaknya kamu harus tetap di koper! Entah kapan aku akan memakaimu, hiks hiks…

Hari kedua, aku diajak jalan-jalan ke daerah di mana masih banyak bangunan tua di kota ini, Konstanz. Konon katanya di antara kota-kota lain di Jerman, di Konstanz-lah yang masih menyisakan bangunan lama peninggalan orang-orang Jerman tempo dulu. Di kota lain, kebanyakan bangunannya musnah akibat atau pada saat perang dunia kedua.

Di kota ini ada sungai yang pernah kudengar namanya ketika kuliah S-1 dulu. Sungai Rhein.

Entah dalam puisi apa, karangan siapa, judulnya apa, aku lupa. Yang pasti aku pernah membaca tentang puisi di bawah jembatan sungai Rhein.

Kini aku menyaksikan sungai itu dengan mata kepalaku sendiri. Sungai Rhein berasal dari danau Konstanz. Airnya dingin, tentu saja! Di Eropa mana ada air sungai hangat! Hahaha…

Oh ya, waktu aku pertama kali jalan-jalan ke danau Konstanz, aku melihat permukaan danau yang semula beku, perlahan mulai retak dan mencair. Yap, di sinilah aku sekarang. Di belahan bumi Allah yang indah. Tapi negeriku tak kalah indah dan sekarang aku merindukannya.

Minggu pertamaku di sini cukup berat karena aku tak pandai berbahasa Jerman ataupun bahasa Turki. Aku yang cerewet harus jadi orang cuek atau pendiam dulu. Sampai aku bisa bertegur sapa dengan mereka.

Terima kasih atas kesempatan ini. ­čśŐ

Bersambung …

Diposkan pada artikel, Opini

Jam Makan Siang di Aussie Dibatasi


Jam makan siang yang bertepatan dengan jam istirahat, waktu untuk salat dan jeda dari hiruk pikuk pekerjaan adalah waktu yang sangat dinantikan. Ya gak? Hehe…

Nah, kali ini aku mau bercerita tentang jam makan siang di Aussie. Soalnya aku mengalami ini beberapa kali ketika masih di sana.

Facebook mengingatkanku bahwa aku punya cerita menarik yang ingin kusampaikan melalui blog ini.

2015, kala itu aku masih di Australia. Suatu hari, aku ingin membeli makan siang di luar, lagi malas masak dan perut sudah kadung kelaparan, sudah kukuruyuk.

Di daerah tempat aku tinggal, Alexandra, kuputuskan untuk makan siang di pub. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.15 waktu setempat, kalau ingatanku tak salah. Hehe… Saat itu aku lapaaaar banget! Masuklah ke sebuah pub yang terletak di perempatan jalan Grant Street. Biasanya, mereka punya menu khusus lunch yang berbeda setiap harinya. Otakku sudah bertanya-tanya, kira-kira menu apa yang mereka sajikan untuk makan siang kali ini.

Begitu masuk ke pub tersebut, seorang pramuniaga bertanya, “Ada yang bisa dibantu?”

“Aku mau makan siang di sini, kira-kira menu hari ini ada apa aja ya?” tanyaku sumringah.

“Oh maaf, jam makan siang sudah lewat. Jadi, kami tidak bisa melayani pesanan makan siang lagi,” jawabnya.

“Hah?” tanyaku tak percaya.

“Iya, di sini jam makan siang hanya sampai pukul 2 siang.”

Yaaaah… aku makan apa dong? Udah laper banget pula!

“Oh oke, terima kasih ya,” jawabku menyerah dan berjalan keluar pintu sambil memikirkan makanan apa yang bisa aku makan untuk siang hari ini.

Tidak aku sangka, ternyata tertibnya mereka terhadap waktu tak hanya berlaku di rumah dan di sekolah saja, tetapi juga di pub dan restoran-restoran.

Di kesempatan yang lain, aku mengalami hal yang sama. Saat itu adalah beberapa hari sebelum aku pulang ke Indonesia. Aku ingin sekali mengunjungi Great Ocean Road. Kuajak Ben dan Adit untuk menemaniku ke Great Ocean Road. Aku tak ingin melewatkan satu tempat pun di Australia sebelum aku kembali ke Indonesia.

Ben menyetir membawa mobil tuanya. Aku duduk di depan dan Adit di belakang. Rasa deg-degan muncul sangat kuat. Aku juga canggung. Karena duduk di samping Ben. Jujur saja saat itu aku menyukainya, hingga pada suatu detik aku mendengar dia mengatakan bahwa dia baru saja punya pacar.

Yaaah… telat! Padahal aku udah siapkan mental kalau memang harus aku yang nembak duluan.

Mengesalkan sekali!

“Baru saja jadian,” kata Ben.

Hiks, kenapa tidak dari dulu kukatakan padanya bahwa ada ruang di hatiku untuknya. Ruang yang sangat rapi dan siap dihuni.

Setelah mendengar pernyataan Ben tentang pacarnya, aku berusaha untuk tidak berubah. Aku berusaha untuk menunjukkan ekspresi yang sama, antusias yang sama, dan kegembiraan yang sama. Fokuskan saja bahwa kami akan bersenang-senang di Great Ocean Road hari ini. Bersama.

Dalam perjalanan, kudengar terjadi kebakaran di lingkungan sekolah di Alexandra. Marian meneleponku dan menanyakan lokasiku saat itu. Langsung saja kujawab bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju Great Ocean Road bersama temanku. Marian senang bahwa aku tidak sedang di Alexandra. Setidaknya aku tidak berada di lokasi terjadinya kebakaran.

Setelah menceritakan kepada Ben bahwa sedang terjadi kebakaran di lingkungan sekolahku, Ben menceritakan peristiwa kebakaran hutan yang dahsyat yang terjadi pada tahun 2009. Katanya, saat itu cuaca sangat panas, beberapa hari bahkan berminggu-minggu hujan tak turun. Udara sangat kering. Orang Australia mengenang peristiwa itu dengan nama black Saturday. Peristiwa itu memang terjadi pada hari Sabtu dan api membakar apapun yang dilaluinya. Suasan menjadi kelam. Banyak orang berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Beberapa selamat, tapi tak sedikit pula yang menjadi korban. Sungguh, ini bukan cerita yang bagus untuk dikenang.

Setelah bercerita panjang lebar tentang black Saturday, Ben bertanya padaku.

“Kalau kita tidak sampai Great Ocean Road, kamu kecewa gak?”

“Hm…,” aku tak langsung menjawab, tapi juga tak ingin membebaninya untuk mengantarkanku ke Great Ocean Road. Jadi, kuputuskan, “Ya, tidak apa-apa. Jadinya kita akan ke mana?”

“Kita akan ke Bell beach,” jawab Ben.

“Sebenarnya kita sudah berada di jalur Great Ocean Road. Hanya saja aku tidak bisa mengantarmu sampai tujuan yang kamu inginkan. Maaf ya,” sambungnya.

“Oh, jadi kita sudah berada di jalur Great Ocean Road? Jadi, jalan ini dapat membawa kita ke Great Ocean Road?” tanyaku antusias juga penasaran.

“Iya, betul.”

Tak lama kemudian, dia mengarahkan mobilnya ke sebuah pantai. Tak terlalu ramai, tapi ombaknya bagus untuk berselancar.

“Kita akan berselancar?” tanyaku.

“Yuhu!” jawabnya.

“Wah… serius?”

“Iya, serius. Kamu pernah berselancar?”

“Ya, pernah, waktu di Phillip Island bersama murid dan staf sekolah.”

“Wow… keren tuh!”

“Iya, dan kamu tahu gak, aku berhasil berdiri di atas papan selancar pada percobaan pertama loh!” jawabku bangga, “tapi sayangnya tak ada yang menyaksikan hal itu selain instrukturku. Jadi gak ada yang percaya kalau aku berhasil berdiri di atas papan selancar.”

“Nanti aku bantu kamu untuk belajar berselancar lagi ya.”

“Beneran? Yes! Aku mau!”

Kekecewaanku terhadapnya, tentang pacar yang baru saja dimilikinya, pupus begitu saja. Digantikan dengan kegembiraan bahwa kami akan berselancar.

Tak lupa kuajak Adit untuk mencoba berselancar juga. Itu adalah kali pertama Adit berselancar. Secara, dia belum lama juga tiba di Australia. Dengan senang hati Adit mengikuti ajakanku.

Berselancarlah kami. Tidak bertiga, karena ternyata Ben mengajak temannya dan temannya mengajak pacarnya yang orang Tiongkok itu. Jadilah kami berlima berselancar di pantai Bell.

Senang?

Pastinya dong!

Ya… walaupun secara tidak langsung aku menunjukkan bentuk tubuhku dalam balutan baju menyelam ke hadapan Ben, Adit, Daniel, dan pacarnya Daniel. Tapi pacarnya Daniel tidak ikut berselancar. Dia hanya duduk di tepi pantai.

Setelah beberapa jam. Tak kunjung aku berhasil berdiri di atas papan selancar. Tapi tubuhku sudah mulai kelelahan. Ben melihatnya. Sontak dia mengajakku keluar dari pantai dan beristirahat sejenak.

Oh my God! He is such a good man! Meleleh aku dibuatnya. Dia perhatian banget! Tapi sayangnya sudah ada yang punya.

Setelah beberapa saat, dia menawariky untuk kembali berselancar. Kuiyakan tawarannya itu. Berselancarlah kami. Namun, cuaca tampak mendung dan langit menjadi gelap. Lalu, Ben mebgajakku untuk menyudahi kegiatan berselancar ini. Berbahaya, katanya.

Okay. Akhirnya selesai sudah sesi berselancar saat itu. Kulihat jam di gawaiku menunjukkan pukul 2.30 siang. Ben bilang lapar. Aku dan yang lainnya mengiyakan, bahwa kami juga sudah merasa lapar. Berselancar membuat kami kelaparan.

Tapi, seperti yang sudah kualami sebelumnya. Ini sudah di atas jam 2 siang. Aku yakin tak ada restoran yang mau melayani kami makan siang. Sekalipun kami bayar dua kali lipat. Takkan ada.

Ben sudah pasti tahu tentang jam makan siang di sini. Lalu, ia berusaha menemukan tempat makan lain yang masih menyediakan makanan untuk kami makan.

Yap! Dia menemukan sebuah warung kecil di sebuah gang, atau tepatnya warung kecil yang terletak di antara 2 restoran. Lokasinya masih di daerah Bell. Di sana, hanya tersisa sushi. Tapi, itu sudah cukup untuk mengganjal perut kami yang keroncongan.

Dipesanlah sushi. Kami semua pesan sushi karena tak ada menu lain yang tersedia. Ben duduk di sampingku. Ya Allah… kenapa dia harus sudah punya pacar sih? Kenapa dia tak menjomblo sampai hari ini? Kalau jomblo kan kami bisa jadian. Ya kan? Hatiku terus berdialog. Tapi tak lama kemudian dia berdiri untuk mengambil sushi. Lalu, duduklah Adit di sampingku dan Ben di samping Adit. Yaaaahhh…

Simpulannya…

Jadi, jangan berharap bisa dilayani makan siang di luar jam makan siang. Khususnya di restoran-restoran Australia. Mungkin di restoran-restoran Asia masih bisa makan siang di atas jam 2 siang, tapi tidak di restoran atau pub Australia. Orang Australia itu tertib. Mereka bekerja saat waktunya bekerja, mereka istirah di waktu istirahat, dan mereka liburan saat waktu liburan tiba (walau kadang-kadang ada juga yang liburan duluan atau memperpanjang masa liburannya). Setidaknya, mereka tidak bekerja di waktu istirahat dan tidak istirahat di waktu bekerja. Begitu pula dengan jam makan siang. Mereka makan siang di waktu istirahat makan siang dan memulai kembali aktivitas mereka setelah jam makan siang habis.

Belajar dan biasakan tertiblah dengan waktu

Diposkan pada artikel, umum

Engsel Dell-ku Tiba-tiba Rusak


Kali ini aku mau berbagi cerita di tengah hektiknya aku dalam mengerjakan tesis. Ini semua karena Dell!

Kuupayakan dia agar selalu ciamik performanya dan bagus tampilannya. Kujaga dia agar mampu bertahan lama (5-7 tahun). Tak pernah kuperlakukan Dell-ku dengan buruk. Tapi, rupanya dia tak mampu bertahan lama. Hanya mampu bertahan selama 13-14 bulan saja. Sedih! Sangat sedih! Aku menaruh harapan yang tinggi terhadap notebook Dell ini. Tapi ternyata engselnya cepat rusak dan itu artinya… entahlah. Lembirukah? Atau bagaimana?

Sebelumnya aku tak pernah menggunakan produk apapun dari Dell. Tapi, notebook yang satu ini begitu memesona dengan segala spek yang ditawarkannya. Dengan bawaan Windows 10 Home Single Language, prosesornya N3050, dan RAM-nya yang 2 GB (tidak besar, tp cukup lah). Dengan semua fasilitas tersebut akhirnya pilihanku jatuh kepada Dell Inspiron N3050.

Aku membelinya pada bulan November 2016. Sekarang bulan Desember 2017. Tanpa perlakuan kasar, tiba-tiba engselnya rusak. Kubawa ia ke teknisi komputer di salah satu mal khusus benda-benda elektronik di Bandung.

Tadinya aku mau bawa Dell-ku ini ke tempat servis resmi, tapi rupanya tempat servis resminya sudah tutup dan pindah entah ke mana. Akhirnya, mau gak mau aku bawa ia ke mal yang tadi aku sebutkan. Ada kekhawatiran, tp tak ada pilihan lain.

Lagi pula, kalau dibawa ke tempat servis resmi pun aku takkan mendapat pelayanan garansi dari si empunya merek.

Duh, sial banget! Kenapa hal ini harus terjadi saat aku sedang ngebut-ngebutnya mengerjakan tesis? Saya bagaikan telur di ujung tanduk untuk saat ini. Sedih! Sangat sedih!

Sudah ku coba menghubungi nomor layanan servis Dell, tapi tidak ada jawaban karena sekarang akhir minggu. Padahal di stikernya tertulis layanan servis 24 jam/hari dan 7 hari/minggu. Tapi, nyatanya nihil! Aku harus menghubungi layanan servis di jam kerja dan di hari kerja. Lantas bagaimana dengan tesisku?

Teman-teman pembaca yang budiman, di sini saya tidak sedang menjelekkan notebook Dell. Saya hanya berbagi cerita saja karena saya merasa kesal dengan notebook ini. Tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini.

Mungkin ini adalah kali pertama sekaligus kali terakhir saya menggunakan produk ini. Mohon maaf sekali, tapi kalau barangnya seperti ini, saya harus bilang apa?

Well, notebook ini hanya mampu bertahan sekitar 13-14 bulan. Tapi, untuk perangkat lunaknya sih bagus. Hanya saja bingkai dan engselnya jelek.

Kalau di antara pembaca ada yang bekerja di Dell, khususnya bagian notebook Dell, dan bisa memberikan tanggapan tentang hal ini, silakan kirimkan pesan Anda melalui r162.id@gmail.com. Terima kasih.

Salam pejuang tesis,

Sang Admin Dunia Robita

Diposkan pada artikel, Opini

Sekilas Info Tentang Karakter Orang Australia


Bulan ini saya cukup aktif menulis di blog walau tidak semuanya langsung saya publikasikan. Mungkin kebuntuan saya mengerjakan tesis membawa saya menulis di blog. Jujur saja menulis di blog lebih mudah dan lebih ekspresif daripada menulis tesis, ahaha… (ya iyalah!)

Oke, kali ini saya ingin berbagi beberapa pengalaman saya tinggal di Australia selama tahun 2015. Tulisan saya ini terinspirasi tulisan Bundanya Ben di sini.

Selama setahun tinggal di sana, tentunya ada banyak hal yang saya alami, mulai dari gegar budaya (shock culture) sampai hal-hal tentang orang Australia yang di luar dugaan saya.

SATU. Sebelum pergi ke Australia, aku pikir orang-orang di Australia itu sama percis seperti orang Amerika atau orang Eropa yang sering aku lihat di acara-acara televisi atau di film-film Hollywood, contohnya kalau di film-film barat anak-anak dapat memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya, berbeda dengan orang Asia, khususnya Indonesia, iya kan?

Ternyata eh ternyata, orang Australia tidak seperti itu loh! Selama setahun tinggal di sana, tidak pernah sekali pun terdengar anak-anak memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya. Mereka akan memanggil orang tuanya dengan kata mom dan dad. Mungkin ada pengaruh sosial-kultural dan geografis antara Australia dengan Asia atau mungkin juga itulah yang sebenarnya, itulah faktanya, sedangkan yang ditunjukkan oleh film-film itu hanya fiktif belaka.

DUA. Sistem pendidikan di Australia mirip dengan sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam hal jenjang dan masa sekolahnya. Pendidikan SD dilakukan selama 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Sama kan kaya di Indonesia? Nah, tapi bedanya di Australia itu ada yang namanya pre-elementary.  Kelas pre-elementary ini dijalani siswa yang mau masuk SD, durasinya selama setahun. Jadi, di sini anak-anak yang mau masuk SD akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah dasar tersebut. Dengan kata lain, anak-anak yang akan memulai sekolah dasar diharapkan tidak kaget dengan lingkungan barunya, dengan sistem belajarnya, dan jam belajar di sekolah.

Namun, mereka yang mengikuti kelas pre-elementary ini tidak dipaksa untuk langsung belajar loh. Ya… kan tujuannya juga hanya pengenalan lingkungan sekolah dan pembiasaan diri mereka dengan kegiatan yang ada di sekolah.

TIGA. Cowo-cowo Australia gak malu untuk mengerjakan  pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, membereskan rumah, dan sebagainya. Di Indonesia, biasanya pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh perempuan kan? (Kalau pun ada cowo Indonesia yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jumlahnya tak banyak.) Nah, para suami atau pasangan hidup di sana mau mengerti kesibukan pasangannya, terus mereka juga gak malu untuk bersih-bersih rumah, belanja keperluan dapur, masak, nyuci baju, dan sebagainya. Tapi, bukan berarti cowo-cowo di Australia gak pekerja keras loh ya, mereka pekerja keras banget malah. Mereka mengerti banget perempuan itu sukanya apa.

Nah, cowo-cowo Aussie sebenernya suka banget dengan cewe Indonesia, (well mostly western pun indeed). Kulit sawo matang yang eksotis, senyumnya yang manis, dan perhatian terhadap pasangan/suaminya, itu sesuatu yang sweeeeetttt banget! Mereka suka. Tapi ya itu, aku sendiri gak dapet cowo Aussie, entah karena apa! Hahaha… mungkin memang belum berjodoh saja kali ya? ­čśů

EMPAT. Anak-anak di Australia juga diajarkan untuk saling menghormati terhadap mereka yang berbeda suku bangsa, berbeda agama, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Contohnya, ketika anak-anak di sana cukup penasaran dengan alasan saya berhijab, guru mereka selalu menekankan batasan dalam rasa keingintahuannya. Maksudnya, mereka boleh bertanya dan mencari tahu, tetapi tidak boleh mengenyampingkan kesopanan terhadap orang yang ditanyainya.

Meskipun keempat hal tersebut tidak berlaku untuk seluruh masyarakat Australia, tetapi setidaknya orang-orang yang kutemui selama tinggal di sana seperti itu, baik-baik semuanya, sangat menghormati walaupun ada rasa penasaran yang tinggi, dan bersahabat.

LIMA. Orang Aussie suka banget pergi ke pub. Kalau menurut aku, pub itu perpaduan antara warteg dengan cafe. Bisa buat tempat nongkrong, main biliar dan beberapa permainan lainnya, tempat merayakan pesta atau ngumpul-ngumpul, makan-makan, minum-minum, dan nonton footie bareng. Ini tuh tempat favorit bagi orang Aussie.

Ada hal menarik tentang pub. Ini pengalamanku sendiri.

Waktu itu aku mau makan siang. Berhubung biasanya di pub ada menu spesial, aku ingin makan di pub hari itu. Waktu itu aku belum tahu kalau jam makan siang di Aussie itu terbatas. Aku pikir sama seperti di Indonesia, bisa makan jam berapa pun, eh di sini enggak dong! Jam makan siang di sini hanya sampai pukul 14.00. Jadi kalau mau makan siang di atas jam 2, gak akan dilayani. Maksudnya, ya… mereka gak akam serve makanan ke customer. Tapi kalau mau minum sih bisa aja. Yang pasti gak akan melayani menu makan siang.

Lapar tak dapat ditahan. Jadi aku pergi ke kedai fish and chips. Kalau yang ini sih mereka melayani pelanggan jam berapapun. Dengan harga terjangkau dan porsi banyak, cukuplah buat perut kecilku yang sedang kelaparan ini. Hehe…

Menurut aku, adanya batasan jam makan siang seperti itu membuat orang-orangnya tertib terhadap waktu. Jadi, aku sih menyimpulkan seperti ini:

Istirahatlah di waktu istirahat, makanlah di waktu makan, dan bekerjalah di waktu bekerja.

Jangan abaikan hal sepele seperti ini walaupun kamu seorang pekerja keras. (Ini sih kata-kata buat diri sendiri yang sering menunda-nunda jam makan siang, hihi…)

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang cukup menarik untuk diceritakan, tetapi biar ceritanya berepisode-episode kucukupkan sampai di sini dulu ya. Nanti akan kusambung ketika ada waktu luang dan ketika pikiranku sudah segar kembali.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisanku di blog ini. Tunggu tulisanku yang lainnya dengan cara┬ásubscribe blog ini ya! ­čÖé