Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Menyesal


Arlin, remaja putri kelahiran Tegal, 10 Oktober 1991 ini adalah anak yang periang, semangat tinggi, dan cantik. Kulitnya putih dan lembut, senyumnya manis, dan rambutnya lurus. Satu hal kebiasaannya adalah ketika berjalan dia selalu tampak girang, walaupun ketika itu tidak ada hal yang menggirangkan. Tapi, hari ini Arlin terlihat sedih dan murung.

Ternyata benar, setelah kutanya padanya, dia mengaku sedang menyesali masa-masa SMP dan SMA-nya. Waktu SMP dia pernah suka sama cowo yang namanya Panji. Panji adalah cowo idaman bagi anak-anak putri waktu itu. Panji memiliki wajah yang manis, kulitnya putih bersih, baik, perhatian, cool, berwibawa, tinggi badannya sedang, badannya berisi tapi tidak termasuk kategori gendut, dan menarik. Itu merupakan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di sekitarnya, termasuk Arlin. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba Panji menyapa Arlin.

“Arlin…!” sapa Panji.

Arlin berlalu begitu saja tanpa ekspresi dan rasa. Tapi, perlahan Arlin menengokkan wajahnya ke arah Panji.

“Dag…dig…dug…” jantung Panji berdegup ketika Arlin menengokkan wajahnya, dan perlahan tapi pasti senyum manis khas Panji pun terkembang.

“Arlin…!” sapa Panji untuk kedua kalinya. Tapi, Arlin melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Panji tanpa meninggalkan balasan sapaan untuk Panji. Padahal dalam lubuk hati yang terdalam, Arlin sangat senang mendapat sapaan dari Panji, karena Arlin sebenarnya menyukai Panji. Tapi, rasa suka itu ia simpan, ia rahasiakan dari semua orang, dan ia pendam dalam hati.

Ketika kenaikan kelas 2 SMP, terdengar kabar bahwa Panji pindah sekolah. Dari dulu Panji memang sering pindah-pindah sekolah, ini bukan dikarenakan Panji bodoh lantas tidak naik kelas. Bukan. Sama sekali bukan itu alasannya. Lebih tepatnya dikarenakan tuntutan kerja Sang Ayah yang harus pindah kerja ke luar kota, sehingga Panji dan anggota keluarga lainnya terkena imbas. Mendengar kabar itu, Arlin sedikit shock. Tapi, Arlin berusaha untuk menetralisasi perasaannya agar kejadian itu tidak terlalu berpengaruh dalam hidupnya.

“Huffh…aku engga boleh down hanya gara-gara Panji sudah engga satu sekolah lagi sama aku. Aku harus semangat! Aku harus menggapai cita-citaku. Semangat!” ucap Arlin menyemangati dirinya sendiri sambil mangguk-mangguk.

Hingga tibalah akhir dari masa-masa SMP. Kesungguhan Arlin belajar pun membuahkan hasil yang memuaskan. Dia berhasil dapat nilai UAN yang tinggi, bagus, dan tentunya membanggakan. Arlin diterima di SMA terfavorit di kotanya. Di SMA ini kemudian dia bertemu dengan sesosok pria yang katanya sih banyak penggemarnya.

“Hey! Lagi ngapain sih kamu?” tanya Arlin ke teman barunya, Asma.

“Sssttt…jangan berisik. Lihat tuh, kakak kelas itu cakep banget…!” jawab Asma.

“Kakak kelas? Yang mana?”

“Yang itu tuh, yang putih dan engga begitu tinggi itu loh.”

“Oh, kakak yang itu?”

“Yap! Bener, betul, dan tepat banget. Cakep kan?”

“Iya sih. Tapi kok ngelihatin dia aja kamu sampe nungging kaya gitu?” Tanya Arlin heran.

“Hehehehe….”

“Eh, ntar sore mau ikut PMR engga?”

“Oh iya, ada satu informasi penting!”

“Apa?”

“Dia juga ikut PMR. Hehehe… Jadi, sudah pasti nanti sore aku berangkat PMR” Asma tersenyum.

Sore harinya, Arlin dan Asma berangkat PMR dan ternyata benar bahwa kakak kelas yang tadi itu ikut PMR. Ketika memandangi kakak kelas itu, hati Arlin tiba-tiba menjadi tak karuan, seperti hati orang yang menemukan pujaan hati yang selama ini dicari.

“Aduh, kok aku jadi resah begini sih? Jadi engga nyaman banget!” gundah Arlin dalam hati.
Tiba-tiba mendekat sesosok pria berkulit putih dan tinggi yang sedang-sedang saja. Datang mendekati Arlin,

“Dek, kamu kenapa? Sakit ya?”

Arlin kaget melihat sosok yang ada di depannya itu. “Ah, engga apa-apa Kak, saya baik-baik saja kok.”
Sepulangnya di rumah, Arlin teringat dan terbayang-bayang wajah kakak kelas yang perhatian itu. “Siapa ya nama kakak kelas tadi? Kok perhatian banget? Sampai-sampai tanya aku sakit apa engga?” tanya Arlin pada dirinya sendiri.

Keesokan harinya Arlin menanyakan nama kakak kelas yang putih dan bertubuh sedang itu. Ternyata namanya adalah Erza. Lama-kelamaan Arlin dan Erza semakin akrab. Mereka tidak saja komunikasi lewat SMS, tetapi juga melalui friendster dan mxit. Arlin merasa senang dan nyaman bisa akrab dengan Erza.

Drrrrrrrttttt…. HP Arlin bergetar, kali ini mereka sedang mxit-an, yaitu sebuah aplikasi chatting via mobile. Dengan mxit ini, kapanpun, di mana pun, dan siapa pun dapat memulai untuk chatting dengan teman-teman yang sudah terdaftar sebagai pengguna mxit juga. Setelah mereka saling memasukkan kontak mxit mereka ke mxit masing-masing, Erza dan Arlin mulai ber-chatting ria.

Erza : “Arlin, kamu bisa mail merge engga?”
Arlin : “Oops…engga tahu, aku lupa. Kenapa?”
Erza : “Besok aku mau ujian TIK dan dapat bagian mail merge.”
Arlin : “Oh, aku punya bukunya loh, mau pinjem?”
Erza : “ Hah? Punya? Pinjem dong!”
Arlin : “Yaps, boleh.”
Erza : “Oya, rumah kamu di mana ya? Aku lupa. Hehehee… Padahal kita kan masih satu daerah, Poso gitu.”
Arlin : “Jalan Perintis Kemerdekaan Gang 17 No.17”
Erza : “Oke, insya Allah habis shalat Maghrib aku ke rumahmu ya?”
Arlin : “Yapzz…”

Setelah chatting di mxit, tepat setelah waktu shalat Maghrib lewat, Erza datang ke rumah Arlin untuk meminjam buku yang dijanjikan.

“Thanks ya Lin.” ucap Erza.

“Iya.” jawab Arlin tersenyum.

Lalu, Erza langsung pulang. Arlin baru sadar, tadi dia tidak mempersilakan Erza untuk duduk dulu ataupun masuk ke rumahnya.

“Oh iya, kenapa tadi aku tidak mempersilakan Erza untuk masuk dan main sebentar dulu ya? Haduh….payah!” sesal Arlin. “Padahal kan kalau dia main sebentar saja di sini, aku senang! Ah sudahlah, semua sudah lewat!”
Satu minggu kemudian, Erza mengembalikan buku yang ia pinjam ke Arlin. Erza datang ke ruang kelas Arlin.

“Lin, thanks banget ya atas pinjamannya.” ucap Erza

“Oh, iya sip!” jawab Arlin. “By the way, engga kerasa nih kita udah berteman selama dua tahun. Dari aku kelas X sampai sekarang aku kelas XI, kita masih berteman baik ya?”

“Iya. Aku juga engga nyangka. Tapi, bukannya itu hal yang bagus?”

“Iya sih. Hehehehe…”

“Ya sudah, aku mau balik lagi ke kelasku. Sekali lagi, thank you so much Arlin.”

“Iya sama-sama.”

Pinjaman buku mail merge adalah kedekatan terakhir bagi Arlin dan Erza. Karena Erza sudah kelas XII, dia semakin sibuk dan menjadi jarang berkomunikasi dengan Arlin. Hal ini tentu saja membuat Arlin jauh dengan Erza. Sampai pada masa-masa kelulusan SMA bagi Erza. Erza melanjutkan sekolahnya di UNDIP.
Hari ini hari minggu, Arlin mengajak adiknya pergi ke Pacific Mall. Sepulang dari Pacific Mall, adik Arlin melihat Panji.

“Lin, itu Panji kan?” tanya adik Arlin.

“Oh, iya benar. Rupanya dia sudah balik ke Tegal?” jawab Arlin.

Panji sadar bahwa di situ ada Arlin, dia membawa motornya ke arah Arlin dan hendak menyapa Arlin. Namun, ketika Panji sudah di dekat Arlin, Arlin justru pura-pura tidak tahu dan tidak melihat bahwa di dekatnya ada Panji, sehingga Panji mengurungkan niatnya dan berlalu pergi. Sampai sekarang Arlin tidak pernah menjumpai batang hidungnya lagi. Ini tentu saja membuat rasa yang ada di hati Arlin untuk Panji sedikit demi sedikit menghilang. Tapi, ternyata tidak hanya rasa yang buat Panji saja yang mulai menghilang dari hati Arlin, rasa yang dimiliki Arlin buat Erza juga sedikit demi sedikit menghilang. Hal ini dikarenakan Arlin tahu bahwa Erza adalah seorang playboy, dan Arlin sangat tidak menyukai cowo seperti itu. Akhirnya, dua cinta yang dipendam dan disimpan dalam hati Arlin hilang dan berlalu begitu saja, tiada berarti dan tiada bermakna. Hal yang paling Arlin sesalkan, kenapa dia membiarkan cinta yang ada untuk Panji berlalu begitu saja dan tiada kenangan sedikitpun? Kenapa dulu aku tidak mencoba untuk jadi pacarnya? Walau hanya sejenak, engga apa-apa.

“Uhh…aku sebal! Kenapa aku dulu engga jadian saja sama Panji? Emm…tapi, bagaimana dengan perasaanku terhadap Erza?” Arlin bicara sendiri. “Ah, Erza playboy! Aku sudah benar-benar engga suka sama Erza! Ya Allah…aku ingin berjumpa dengan Panji. Aku menyesal menyia-nyiakan keberadaannya tempo dulu.”
Arlin masih termenung dan menyesali masa lalunya. Tapi, Arlin bukanlah sosok yang mudah terpuruk dalam sebuah penyesalan. Arlin adalah anak yang penuh dengan semangat. Entah itu semangat dalam menggapai cita-cita ataupun semangat dalam kehidupan sehari-hari. Lagipula, menyesal tanpa adanya perubahan adalah perbuatan yang sia-sia.

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

2 thoughts on “Menyesal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s