Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Ibuku Dehulu


(Amir Hamzah)

Ibuku dehulu marah padaku
Diam ia tiada berkata
Akupun lalu merajuk pilu
Tiada perduli apa terjadi

Matanya terus mengawas daku
Walaupun bibirnya tiada bergera
Mukanya masam menahan sedan
Hatinya pedih karena lakuku

Terus aku berkesal hati
Menurutkan setan mengacau-balau
Jurang celaka terpandang di muka
Kusongsong juga – biar cedera

Bangkit ibu dipegangnya aku
Dirangkumnya segera dikuucupnya serta
Dahiku berapi pancaran neraka
Sejak sentosa turun ke kalbu

Demikian engkau:
Ibu, bapa, kekasih pula
Berpadu satu dalam dirimu
Mengawas daku dalam dunia

 

Iklan

Penulis:

I'm Robita, an Indonesian who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. Don’t forget to subscribe! Terima kasih, thank you, Dankeschön! Contact me through email: r162.id@gmail.com.

Satu tanggapan untuk “Ibuku Dehulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s