Posted in artikel

Kendala Menulis


Sebuah Opini & Analisis Sederhana
Oleh Robita Ika A.

Menulis merupakan salah satu keterampilan dalam berbahasa, bahasa apapun itu. Melalui tulisan, kita dapat menyampaikan ide, gagasan, opini, kritikan, saran, tanggapan, dan sebagainya. Melalui tulisan juga kita dapat memperoleh pekerjaan seperti penulis cerpen, penulis novel, penulis puisi, penulis skenario drama, penulis sketsa, penulis manuskrip, atau bisa juga menjadi sekretaris karena seorang sekretaris harus mempunyai daya kepenulisan yang baik. Pada dasarnya, menulis sudah menjadi bagian dari hidup kita dan berperan sangat penting, meskipun bahasa lisan lebih banyak digunakan khalayak karena kesimpelannya.
Bagi sebagian orang, menulis bukanlah sesuatu yang sulit, bukan pula sesuatu yang membutuhkan energi dan pengorbanan yang besar. Justru melalui tulisan, mereka mendapatkan penghasilan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang merasa bahwa menulis itu susah, memerlukan proses yang lama, dan sebagainya. Ada juga yang sudah mampu menulis, tetapi ia selalu melu kalau tulisannya dibaca orang lain dan tidak percaya diri bahwa apa yang ia tuliskan adalah sesuatu yang berharga, sehingga ia hanya menyimpan tulisannya hanya untuk dirinya sendiri. Kalaubegitu, bagaimana ia dapat meningkatkan kemampuan menulisnya? Begitu banyak alasan yang dilontarkan bagi mereka yang mengatakan bahwa menulis itu susah. Padahal apa susahnya menulis?
Kita dapat menulis apa saja. Ber-SMS-an pun sebenarnya sudah menunjukkan bahwa kita mampu menulis. Dari perbincangan kamu dengan temanmu juga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan, lalu menjadi sebuah cerita. Simpel kan? Asalkan “malas” tidak bersemayam di dirimu, tulis saja apa yang mau kamu tulis. (Tapi jangan disembarang tempat, seperti tembok/dinding, pagar, dan tempat-tempat lainnya yang bukan tempat untuk menulis. Ok?)
Atau kalau memang benar-benar merasa kesuliatan dalam membuat tulisan, di sekitar kita banyak buku yang menuntun kita bagaimana cara menulis. Menulis apapun, entah itu paragraf deskripsi, narasi, eksposisi, persuasi, argumentasi, ataupun cara menulis sebuah karya sastra sederhana yang diambil dari kegiatan sehari-hari.
Sebenarnya, kalau kita perhatikan karya-karya penulis terkenal di Indonesia, mereka juga menulis berdasarkan pengalaman pribadi, dari kehidupan sehari-hari, dan dari alam lingkungan sekitarnya. Butuh contoh? Andrea Hirata menulis novel Laskar Pelangi dari pengalamn masa kecilnya, Sapardi Djoko Damono membuat puisi dengan kata-kata sederhana yang mayoritas mengangkat tema kahidupan manusia dianalogkan dengan alam (contoh pada puisi Hatiku Selembar Daun), Habiburrahman El-Shirazzi membuat novel-novel berlatar Mesir karena ia pernah tinggal di Mesir. Sederhana kan? Sekarang giliran kamu-kamu generasi muda Indonesia yang membuat tulisan. Mulailah dari kehidupan sehari-hari kamu, dapat juga diambil dari catatan diary, keluh kesah kamu, angan-angan kamu, atau dapat juga dengan memperhatikan lingkungan sekitarmu, apa yang terjadi di sana tuangkanlah ke dalam bentuk tulisan. Jangan berpikir untuk dapat membuat tulisan yang sempurna dulu, tetapi mulailah membiasakan diri untuk menciantai dunia tulis-menulis. Karena, setelah dibiasakan, kemampuan menulis pasti akan meningkat.

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s