Posted in artikel, umum

Ungkapan Tabu


Catatan semantik (24 mei 2011)

Secara khusus, ungkapan tabu adalah Ungkapan yang tidak boleh diungkapkan dalam suasana tertentu dalam hubungannya dengan kepercayaan. Ungkapan tabu ada karena adanya larangan untuk mengucapkan kata-kata tertentu. Ungkapan tabu disiasati supaya tidak secara vulgar diucapkan.

Ungkapan tabu menurut Ullman dibagi 3:
• Tabu karena sesuatu yang menakutkan
• Tabu karena sesuatu yang tidak mengenakkan
• Tabu karena sesuatu yang tidak pantas

Menurut Mahmud Fasya, ungkapan tabu dibagi jadi 2:
• Dimensi horizontal (habluminannas) yaitu sesuatu yang tidak mengenakkan & tidak pantas
• Dimensi vertikal (hubungannya dengan Tuhan atau yang berbau gaib) yaitu sesuatu yang menakutkan

Tabu karena sesuatu yang menakutkan
– Warisan dari animisme dan dinamisme
– Contoh: pada masyarakat Jawa merasa tabu menyebut kata ‘tikus’, sehingga harus disanjung dengan panggilan ‘den bagus’.
– Contoh: pada masyarakat Sunda (Ciamis), kelelawar tidak boleh disebut ‘lalay’, tetapi ‘buah labu’.

Ungkapan tabu yg relasi manusia dg manusia masih berlaku hingga sekarang, kaitannya dg sopan santun. Ungkapan tabu ini berhubungan juga dg nilai rasa sosial.
Nilai rasa sosial selalu berkembang tiap zamannya.
Contoh:
– kata ‘cacat’ dirasa tidak enak, sehingga diubah menjadi ‘tuna’.
– Kata ‘jamban’ bernilai lebih rendah daripada ‘toilet’.
– Kata ‘kutang’ nilai rasanya tidak lebih enak daripada ‘bra’.

Kita lebih sering menggunakan kosakata asing daripada kosakata asli, karena kosakata asli nilai rasanya jorok.

Strategi menghindari ungkapan tabu dlm Bhs Indonesia
– Gunakan eufimisme (nilai rasanya lebih halus)
– Mengganti bunyi, contoh menyebutkan kata ‘anjing’ dengan kata ‘anjrit’ (bagi orang Sunda), ‘asu’ dengan ‘asem’ (bagi orang Jawa).
– Abreviasi (pemendekan), contoh ‘miss V’ utk ‘vagina’, ‘sekwilda’ = ‘sekitar wilayah dada’, ‘perek’ = ‘perempuan rekrutan’.
– Metafora atau kiasan, contoh utk ‘celana dalam’ = ‘segitiga pengaman’, ‘burung’ utk menyebutkan kemaluan laki-laki.
– Menggunakan kata lain (sinonim)
– Diganti dengan bahasa asing, contoh ‘pantat’ diganti ‘dubur’, ‘kotoran’ diganti ‘feses, tinja’.
– Menciptakan kata dengan ‘tuna’, contoh tunasusila.
– Mengikuti perkembangan zaman, contoh kata ‘kuli’ diganti jadi ‘pekerja, karyawan’.
– Ungkapan yang memberi kesan lebih baik atau menciptakan ungkapan yang baru, contoh ‘mantan anggota GAM itu kembali ke ibu pertiwi’ padahal yang dimaksud adalah ‘menyerah’.

Asosiasi makna biasanya berhubungan dengan fitur semantik.

sumber: Sitaresmi, Nunung, Fasya, Mahmud. 2011. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

2 thoughts on “Ungkapan Tabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s