Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Pemakaian Ragam Bahasa Tulis dalam SMS


Tugas Matakuliah Problematik Bahasa Indonesia
oleh: Robita Ika Annisa

Pesatnya perkembangan zaman membawa manusia pada meningkatnya fasilitas dalam menjalani kehidupan. SMS atau Short Message Service merupakan suatu media pengantar pesan. Kini, orang tidak perlu lagi repot mengirimkan surat ke kantor pos, tidak perlu perangko, dan alamat lengkap. Cukup ketahui nomor yang dituju. Praktis merupakan salah satu kelebihan dari mengirim pesan via SMS, tetapi kelemahannya berupa terbatasnya karakter yang disediakan untuk sebuah SMS. Karakter yang disediakan untuk sebuah SMS biasanya antara 140-160 karakter. Hal ini tentu saja membuat penggunanya harus cermat dan cerdas dalam menggunakan karakter (huruf) SMS yang sangat terbatas itu. Bandingkan dengan menulis surat di kertas, tidak ada batasan karakter untuk satu suratnya, cukup sediakan kertas untuk menulis surat sebanyak yang diperlukan.

Terbatasnya karakter dalam sebuah SMS berhubungan dengan pemendekan kata yang sering dilakukan pengguna SMS. Sudah jelas maksud dari pemendekatn kata dalam SMS ini, yaitu agar si pengirim pesan dapat lebih banyak menyampaikan pesannya tanpa harus membayar tarif dua SMS. Berkenaan dengan pemendekan kata, sebenarnya dalam KBBI, EYD, dan tatabahasa Indonesia, kaidah atau aturan memendekkan kata sudah ada, seperti ‘jalan’ menjadi ‘jln.’, ‘nyonya’ menjadi ‘Ny.’, ‘tuan’ menjadi ‘Tn.’, dan sebagainya. Akan tetapi, kaidah pemendekan kata tidak diindahkan pengguna SMS. Mereka lebih nyaman menggunakan aturan sendiri dalam memendekkan kata.

Selain pemendekan kata, penggunaan bahasa dan penulisan kata-kata dalam SMS sering di luar kaidah bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang benar. Memang, penggunaan kalimat baku dalam ber-SMS tidak diwajibkan. Akan tetapi, apabila kebiasaan yang kurang baik terus saja dilakukan, lama-kelamaan akan menjadi suatu budaya. Kalau sudah membudaya, kebiasaan yang salah pun akan dianggap benar. Pengantisipasian terhadap hal ini harus dilakukan. Karena apabila tidak, penurunan nilai bahasa, terutama bahasa tulis, bisa terjadi cepat atau lambat.

Analisis terhadap pemakaian bahasa tulis dalam SMS ini menggunakan metode wawancara offline dan klipping SMS-SMS. Beberapa hal yang menjadi landasan dalam analisis pemakaian bahasa tulis dalam SMS ini adalah (1) alasan mengapa mereka lebih cenderung menggunakan bahasa yang tidak baku, atau terkenal dengan sebutan bahasa gaul atau bahasa lebay, baik dalam pemilihan kata-kata maupun pemendekan kata-katanya; (2) berapa banyak persentase pengguna SMS yang menggunakan bahasa gaul atau bahasa lebay ini; (3) menelusuri teori, apakah ada teori yang dapat menyelesaikan permasalahan ini atau tidak; dan (4) bagaimana antisipasi yang dapat dilakukan untuk permasalahan ini.

Dewasa ini, pengguna telepon seluler semakin banyak, hal ini menunjukkan semakin banyak pula pengguna fasilitas SMS. Pertanyaan mengenai pemakaian bahasa dalam SMS sering kali dipertanyakan, harus menggunakan bahasa bakukah atau bebas mau menggunakan bahasa yang seperti apa dan bagaimananya. Melihat fungsi SMS dilihat dari singkatannya, Short Message Service, dapat kita nyatakan bahwa pengiriman pesan via SMS ini memang harus singkat, padat, dan jelas. SMS mungkin dapat disamakan dengan telegram pada masanya. SMS berbeda dengan surat, yang mana dalam surat kita bebas menulis sebanyak apapun. Akan tetapi, orang-orang secara mayoritas menggunakan SMS tidak sekadar untuk memberi informasi singkat saja, terkadang mereka juga menggunakan fasilitas SMS untuk memberi informasi yang panjang. Dalam analisis ini, penulis ingin menelusuri penggunaan bahasa tulis dalam SMS yang sering digunakan.

Dalam buku Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik dinyatakan bahwa di lingkungan masyarakat, ada beberapa kateogori bahasa yang lazim digunakan. Pertama, bahasa digunakan untuk memperlihatkan ciri keakraban atau keintiman. Kedua, bahasa dikenal sebagai ragam konsultatif. Ketiga, bahasa yang ditandai ungkapan atau ujaran-ujaran baku dan beku (frozen), seperti yang sering kita lihat dan dengar di upacara-upacara. Keempat, ragam bahasa santai yang ditandai juga dengan bentuk tidak baku. Berdasarkan kategori-kategori tersebut, hubungannya dengan bahasa dalam SMS yakni dapat kita nyatakan bahwa bahasa dalam SMS cenderung memperlihatkan ciri keakraban atau keintiman. Dengan demikian, alasan mengenai mengapa mereka, pengguna fasilitas SMS, cenderung menggunakan bahasa yang tidak baku, bahasa gaul atau yang lebay adalah karena situasi dan kondisi antara si pengirim SMS dengan penerima SMS dalam keadaan baik, dengan kata lain yaitu ber-SMS dengan menggunakan bahasa yang gaul atau lebay dapat menunjukan keharmonisan mereka. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara offline dengan pengguna bahasa gaul atau lebay dalam ber-SMS, dapat dinyatakan bahwa dengan menggunakan bahasa gaul atau lebay itu bisa membuat pasangannya (pacar) lebih senang, meskipun alasan tersebut mungkin tidak berlaku untuk pasangan lainnya.
Di satu sisi, ber-SMS-an dengan bahasa gaul memang dapat menunjukkan keakraban. Sementara di sisi lain, penggunaan SMS dengan bahasa gaul atau lebay ini dapat mengakibatkan tetapi akan lebih baik apabila penulisan dan kaidah Bahasa Indonesia diperhatikan juga. Tujuannya adalah agar pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai pelengkap kulikulum. Kaidah kebahasaindonesiaan harus diaplikasikan dalam keseharian.

Beberapa hal yang dapat kita gunakan untuk mengantisipasi penggunaan bahasa gaul atau lebay dalam SMS ini yaitu dengan menerapkan kaidah kebahasaindonesiaan dan EYD, setidaknya dalam hal penyingkatan kata. Selain itu, penggunaan SMS yang sesuai dengan porsinya dapat meminimalisasi kesalahan pengetikan dan meminimalisasi penyingkatan yang keliru. Perlu kita ketahui bahwa penulisan SMS yang menggunakan campuran huruf, simbol, dan angka tidak memengaruhi nilai estetik dalam ber-SMS, hal ini justru dapat menimbulkan miskomunikasi antara pengirim pesan dengan penerima pesan. Penulisan yang sewajarnya ini akan lebih dimengerti oleh khalayak umum, terutama bagi orang-orang tua.

Referensi:
Kushartanti, Yuwomo, Untung, Lauder, Multamia RMT. 2009. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s