Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Aku Takut Jatuh Cinta



Di jalanan yang ramai itu aku tetap menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan lawan jenis yang nantinya merasuk dalam pikiranku. Pernah satu kali aku hampir menabrak ibu-ibu di sebuah belokan gara-gara menghindari kontak mata dengan setiap laki-laki yang lewat. Aku pun terkejut dan dengan segera aku meminta maaf kepada ibu tersebut.

“Duh, niatnya menghindari kontak mata dengan lawan jenis, tapi malah jadi nabrak ibu-ibu. Malu deh…” kembali kutundukkan wajahku.

Gara-gara sering menundukkan kepala saat jalan, aku bahkan sering dibilang sombong oleh teman-temanku karena tidak menyapa mereka.

“Ya Allah… kok serba salah ya? Apa caranya yang masih belum tepat?”

Aku takut jatuh cinta. Ya, aku takut jatuh cinta. Aku takut salah memilih cinta sehingga cinta yang pada dasarnya merupakan rahmat dari Illahi itu justru kukhawatirkan. Aku takut cinta yang kudapat hanya mendatangkan ke-mudharat-an.

Kupikir jatuh cinta itu seperti makan semur daging. Hehehe…aku kan suka semur daging, suka banget. Kalau sudah mencium bau enaknya semur daging, berasa gimana….gitu. Pasti deh ingin mendapatkan itu semur daging dan kemudian memakannya. Kalau sudah makan, kenyang deh. Ah, tapi kok sepertinya kurang nyambung ya? Hihihi…

Aku tidak mau mendapatkan cinta yang membawaku ke dalam ke-mudharat¬-an. Aku ingin mendapatkan cinta yang tulus, murni, dan karena Allah, bukan karena yang lainnya. Artinya, aku ingin mendapat cinta yang jalannya sesuai dengan petunjuk dari Allah dan budaya Islam. Subhanallah, aku ingin menangis kalau mengingat Allah, entah apa yang harus kukatakan atas segala kekuasaan-Nya, tapi dadaku selalu bergetar ketika aku merasa mencintai-Nya.

Semenjak aku berkerudung, aku tidak pernah lagi pacaran. Entah apa alasannya, tapi aku merasa pacaran adalah jalan kesenangan sementara saja dan lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Kalau ada yang bilang pacaran untuk saling mengenali satu sama lainnya, apakah tidak bisa dilakukan setelah pernikahan saja? Atau jalan pengenalannya melalui orang tua. Hmm… pasti tidak ada setan yang berani menyusup, soalnya kan nggak cuma berduaan. Tapi, pemikiran seperti ini masih dianggap jadul dan nggak cool. Kebanyakan dari mereka, atau bahkan teman-temanku lebih memilih pacaran dulu sebelum menikah. Padahal, kalau kita cermati lagi, apa sih tujuan pacaran sebenarnya? Eh, tapi aku juga kadang-kadang ada keinginan seperti teman-temanku, pacaran, hehehe…, tapi aku lebih takut pada Allah dan aku ingin lebih menuruti apa kata Allah. Kalau kata Allah nggak boleh pacaran, ya berarti nggak boleh. Aku ingin menyayangi Allah, aku ingin mengabdi pada-Nya, aku ingin mencintai-Nya setulus hatiku, tetapi tidak sedikit juga godaan yang membuatku belum sepenuh hati mencintai-Nya. Sebenarnya aku sedih dengan perasaan ini, tetapi mau bagaimana lagi, aku hanya mampu berusaha.

Pacaran sebelum menikah, sebenarnya itu kan tidak ada dalam budaya Islam. Kata Ayahku, kalau kita mengikuti suatu tradisi tertentu dari masyarakat tertentu, maka kita adalah bagian dari masyarakat itu. Jadi, kesimpulanku yakni kalau kita mengikuti tradisi pacaran, di mana tradisi ini tidak ada dalam budaya Islam, berarti kita bukan bagian dari masyarakat Islam. Naudzubillahi mindzalik.

Tapi itu semua tergantung pada pola pikir dan pandangan masing-masing individu. Jadi, aku juga tak berhak mengatakan bahwa ini salah atau itu tidak benar. Kalau bahasa gaulnya mah up to you aja… Hihihi…

Kembali ke laptop, eh salah, kembali ke topik pembicaraan kontak mata. Sebenarnya, kenapa ya hanya dari tatapan mata saja bisa tumbuh cinta? Kalau seperti ini , aku jadi tidak nyaman bercakap-cakap dengan lawan jenis. Padahal aku adalah seorang aktivis, membaur dengan lawan jenis adalah hal yang lumrah bagi aktivis. Tapi, kalau mataku ini gampang menurunkan cinta ke hati, benar-benar gawat.

Tapi, aku telah berjanji pada diri sendiri, setelah berkerudung tidak akan pacaran lagi, nggak boleh! Bagiku tak perlu alasan mengenai hal ini. Mengenai jodoh, aku yakin pada Allah, suatu saat aku akan dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menuntunku ke surga. Tapi kapan ya? Hmm… jadi penasaran. Hehehe…

Meskipun sekarang umurku baru menginjak dua puluh tahun, tetapi aku selalu bertanya-tanya mengenai jodohku. Kenapa ya, Allah merahasiakan identitas orang yang akan jadi jodoh kita? Kenapa kita tidak diberi tahu dari awal kita hidup di dunia ini? Ah, tapi mungkin ini yang terbaik bagi untukku dari-Nya.

Ketika melihat kaum Adam keluar dari masjid, mengenakan pakaian koko, dan wajahnya berseri, terasa sejuk banget di pandang. Rasanya ingin mendapatkan satu dari mereka. Tapi, kalau itu hanya cover-nya saja, bagaimana? Atau melihat cowok yang punya prestasi, beuh… ingin sekali dia menjadi kekasihku. Atau melihat laki-laki yang perilakunya baik, santun, amanah, taat agama, punya prestasi juga, dan (kelihatannya) mempunyai masa depan yang cerah, beuh…siapa juga yang tidak mau sama laki-laki seperti itu. Subhanallah.

Kembali ke pembahasan Aku Takut Jatuh Cinta. Sebenarnya yang aku takutkan dalam hal ini adalah segala hal yang kuinginkan setelah cinta dari mata turun ke hati dan kemudian berkembang seperti bunga di musim semi. Jujur, aku adalah orang yang mudah suka pada lawan jenis, entah itu dari segi fisiknya, pendidikannya, prestasinya, dan hal-hal lainnya yang dapat dibanggakan.

“Allah, bagaimana saya bisa mendapat rakhmat-Mu kalau untuk jatuh cinta saja saya tidak berani. Ya Allah, saya ingin jatuh cinta pada seseorang yang benar-benar mencintai saya apa adanya, tulus, dan murni karena Allah ta’ala.” Aku merundukkan kepala, bingung dengan apa yang harus dilakukan.

Assalamu’alaikum...”

Terdengar seseorang memanggil dari balik pintu. Oh, ternyata Lala. Aku hampir lupa bahwa hari ini aku ada janji sama Lala mau mengerjakan sesuatu di rumah Yoona. Yoona itu teman kami, nama lengkapnya Yoona Alifiah Nur. Dia mualaf. Dia dan keluarganya telah masuk Islam sejak beberapa tahun yang lalu. Yoona kelahiran Korea, tetapi ia telah fasih berbahasa Indonesia. Padahal ia baru satu tahun tinggal di Indonesia, di Bandung tepatnya. Kami senang belajar bersama karena di antara kami bertiga selalu ada hal yang sama, misalkan artis yang kami suka yaitu Super Junior, boyband dari Korea yang lucu-lucu, gokil, dan cakep-cakep (bahkan ada yang bilang cantik, hihihi…). Selain itu, kami juga suka bernyanyi. Jadi, kalau lagi tidak mood, kami bernyanyi ngalor-ngidul engga jelas. Yang penting hepi! Terus, kami juga suka makan telor mata sapi kalau lagi stres gara-gara sesuatu. Jadi, stresnya dialihkan sama makanan, hehehe… dan masih banyak kesamaan kami yang lainnya.

“Wa’alaikum salam.” jawabku.

“Sarah, kamu punya jajan engga?” pinta Lala, “Buat bekal di jalan nih.”

“Ada. Tuh, ambil sendiri saja di kulkas. Aku lagi tanggung nih, lagi bikin cerita seru tentang aku sama Wookie Oppa . Hehehe…” aku sunggingkan senyum tanpa menoleh pada Lala.

“Beuh, dasar!” sambung Lala. Lala memang sudah hafal kebiasaanku menulis cerita, sebuah fiksi, tetapi bukan cerpen pada umumnya. Soalnya cerita ini hanya tentang aku dan idolaku.

“Boleh bawa brownies enggga?” teriak Lala.

“Bawa aja, tapi jangan semua! Soalnya itu bukan punya aku, tapi punya kakakku.”

“Nih!”

Lala membawa banyak makanan ringan dan setengah lingkaran kue brownines. Dia memperlihatkannya padaku.

“Aih, banyak amat? Ngerampok apa minta bekal sih?”

“Kata kamu ambil aja, ya sudah aku ambil apa yang aku mau. Hihihi…” jawab Lala.

“Itu kue brownies-nya banyak banget? Aih… ntar si kakak marah nih, ketahuan aku yang ngambil.”

“Sudahlah, masa buat adik sendiri pelit banget?”

Lala memang doyan makan. Aku malah sampai bingung membedakan antara situasi saat dia lapar dan situasi saat tidak lapar. Abisnya porsinya sama aja, sama-sama banyak. Tapi anehnya Lala tidak gendut.

“Yuk, berangkat! Tadi Yoona SMS aku, katanya suruh cepat-cepat.”

“Ada apa disuruh cepat-cepat? Emangnya mau ada lomba makan ya?”

“Engga tahu. Sudah, jangan banyak tanya!”

Aku pun berangkat bersama Lala naik angkot jurusan Kalapa-Ledeng. Kami males naik motor, selain karena menambah polusi udara, kemacetan lalu lintas, dan efek samping yang buruk terhadap kulit wajah, naik angkot lebih merakyat. Hehehe…

Perjalanan ke rumah Yoona tidak memakan waktu lama, tetapi kalau hari Sabtu begini, jangan tanya deh, Bandung macet banget! Apalagi daerah Jalan Setiabudhi.

Sepuluh menit kemudian, aku dan Lala sampai di rumah Yoona. Ia sedang duduk di depan rumah, mengenakan kerudung pink kesukaannya, sangat cantik. Ya, seorang perempuan secantik apa pun akan terlihat lebih cantik saat mengenakan kerudung. Pernah aku memperhatikan sahabat dekatku waktu SMA kelas X (sepuluh), ia lebih cantik dibandingkan dengan aku, tetapi aku sangat terpukau dengan kecantikannya saat ia mengenakan kerudung. Sayang sungguh sayang, ia memakai kerudung hanya pada saat-saat tertentu saja.

“Assalamu’alaikum Yoona….” sapa aku dan Lala pada Yoona yang sedang duduk membaca sebuah majalah di depan rumahnya.

“Wa’alaikum salam” jawabnya. Suara Yoona sangat lembut, apalagi ditambah senyumnya yang manis. Coba semua remaja putri seperti ini, wah… sejuk deh dunia ini.

“Maaf telat, tadi Sarah keasyikan ngarang cerita sih.”

Aku melirik pura-pura jengkel pada Lala, “Yeee, kenapa menyalahkan aku? Kamu juga sibuk sendiri ngurusin makanan buat bekal, tapi modal ngerampok. Heu!”

Yoona hanya tersenyum melihat dua sahabat barunya saling menyalahkan. “Sudahlah, kalian kok malah ngomongin itu? Yang penting kan sudah selamat sampai rumahku. Ya kan?”

“Yup! That’s right…” jawabku dan Lala bersamaan. Kami pun masuk rumah Yoona. Rumahnya besar, luas, bagus pula. Kamarnya juga rapi, berbeda dengan kamarku yang selalu berantakan. Hihihi…

“Yoon, aku mau online dulu, boleh? Kan mumpung gratis. Hehe…”

“Maaf Sarah, dari kemarin aku juga belum bisa online, engga tahu kenapa.” jawab Yoona.

“Wakakakak…” Lala tertawa puas. “Makanya, jangan mumpung-mumpung, Sa! Lagian kita ke sini bukan buat numpang online kan? Niat awal kita kan mau ngerjain tugas kelompok.”

Aku hanya menghembuskan nafas, beristigfar. Benar juga kata Lala. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Ya Allah, sepertinya binder aku ketinggalan deh, La. Hwaaa…. gimana nih?”

“Ha?” Lala yang sedang makan kue brownies menjadi nanap. “Yah… terus gimana dong?”

“Eh, kayaknya aku pernah nyatet semua catatannya Sarah deh.” Yoona mengambil bindernya. “Nah, ini dia.” Menunjukkan bindernya sambil bilang jreng…jreng…

“Alhamdulillah…. Untung saja di Yoona ada.” Lala mengelus dada. “Lain kali jangan suka jadi forgetful person dong, Sa.”

“Iya deh, insya Allah nanti aku tidak akan jadi pelupa lagi. Hehehe…” aku menyunggingkan sebuah senyuman (nyengir kuda) untuk sahabatku, Lala.

Tanpa menunda waktu, kami pun langsung mengerjakan tugas kelompok yang harus dikumpulkan tiga hari lagi itu. Tugas ini gampang-gampang-susah, mengkaji novel dengan pendekatan tertentu. Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa kami ini mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengenai Yoona, aku juga bingung, kenapa ya mengambil jurusan ini, padahal dia masih baru di sini. Kenapa tidak mengambil prodi Bahasa Inggris saja ya? Hmm… entahlah, itu kebebasannya, dan aku bersyukur dia masuk prodi dan kelas yang sama denganku. Kalau tidak, pasti kami tidak kenal.

Senja hampir tiba, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah Yoona. Aku menengok ke luar jendela. “Itu siapa, Yoon?” tanyaku pada Yoona yang sedang mengetik hasil diskusi kelompok.

“Palingan Oppa.”

“Ha? Kamu punya kakak laki-laki? Kok engga pernah bilang sama aku?”

“Emang kenapa, Sa? Mau daftar neh?” sambung Lala sambil menggodaku. “Katanya engga mau pacaran dulu?”

“Ini anak nyerocos aja, siapa juga yang mau nyari pacar? Orang aku cuma nanya. Ya kan, Yoon?” tanyaku pada Yoona sambil minta dukungannya atas jawabanku.

“Hm.” Yoona menganggukkan kepala tanpa menoleh sedikit pun padaku.

“Eh, nama oppa-mu siapa, Yoon?” giliran Lala yang tanya.

“Jiaaaahhhh…. sekarang kamu yang nanya-nanya!”

“Aisshhhh…. berisik sekali kalian ini. Aku lagi nyusun sistematika makalahnya nih, sudah hampir selesai, tapi kalau kalian tetap berisik, bisa jadi lama tahu. Nantilah aku ceritakan tentang oppa-ku.”

“Namaku bukan ‘tahu’, Yoon, aku Lala dan dia Sarah.”

Seketika itu Yoona langsung melihat ke arah kami degan tatapan tajam. Yoona memang tidak mau berisik dan gaduh saat sedang konsentrasi. Aku juga kayak gitu sih, tapi gara-gara dengar suara mobil masuk, pikiranku jadi teralihkan! Hehehe… (alasan saja!)

“La, sudah sore banget ya?” Aku melihat Lala yang masih ngemil kacang polong.

“Hu-ump, senja sudah turun kan? Kita harus cepat-cepat pulang. Atau nanti harus rela berlama-lama di angkot gara-gara macet.” jawab Lala.

“Huaaaahh…. akhirnya selesai juga. Pegel banget bahu aku. Sa, pijitin bahuku dong, pegel nih…” celetuk Yoona sambil meregangkan tangannya.

“Boleh, tapi sambil cerita tentang oppa kamu ya? Hehehe… Yang lengkap!”

“Sip… sip…”

Aku pun memijit bahu Yoona. Sementara Yoona mulai bercerita tentang kakak laki-lakinya itu. Nama kakaknya adalah Fariz, lengkapnya Lee Fariz Nur. Kata Yoona, dulu nama oppa-nya itu Lee Sungmin. Aku terperanjat mendengarnya. Nama itu sangat familiar di telingaku. Lee Sungmin adalah nama salah satu anggota Super Junior. Tapi, setelah aku tanyakan kembali pada Yoona, ternyata oppa-nya itu bukan Lee Sungmin yang jadi member Super Junior, hanya namanya saja yang sama. Saat ini oppa-nya itu bekerja di sebuah universitas sebagai dosen Jurusan Biologi.

Waktu telah menunjukkan pukul 17.15 WIB. Itu artinya aku harus pulang sekarang. Aku dan Lala pamitan pada Yoona. Hasil diskusi aku serahkan pada Yoona, takutnya tertinggal di rumahku kalau aku yang membawanya.

“Sebentar, kalian diantar sama Fariz oppa saja ya? Biar cepat sampai rumah dan insya Allah selamat.” Yoona pun memanggil oppa-nya.

Tiba-tiba jantungku berdetak, aku mulai merundukkan kepala. “Aku pasti kikuk! Ahh, kenapa harus diantar segala sih? Aku bisa kok pulang sendiri naik angkot” gundahku dalam hati. Semantara itu, Lala dengan tenangnya mengatakan iya pada Yoona.

“La, kenapa kamu setuju? Iiiih, kamu kayak engga kenal aku saja! Aku paling canggung kalau ada laki-laki di dekat aku. Dan aku pasti akan terus merunduk.”

“Sudahlah tidak apa-apa. Lagian Yoona benar, kalau kita pulang naik angkot sore-sore begini, pasti macetlah, tidak boleh lengahlah, dan lain-lain.”

“Tapi…”

Yoona datang dengan oppa-nya. “Pulangnya ke daerah mana, Dek?” tanya kakak Yoona yang bernama Fariz itu.

Aku sama sekali tidak melihat wajahnya. Seperti kebiasaanku, aku takut bertatapan dengan mata lawan jenis. Takut nantinya turun ke hati. Aku hanya menjawab, “Ke Ledeng, oppa.”

“Kalau saya ke DU, oppa.” jawab Lala dengan santai.

“Ok, hati-hati ya, Sarah, Lala.” Yoona menyalami tanganku dan tangan Lala. “Oh ya, hati-hati juga pada Fariz oppa, dia suka jahil. Hehehe…” goda Yoona pada oppa¬-nya.

“Aih, kamu jangan buka kartu dong!” kata Fariz oppa pada adiknya, Yoona, sambil mengelitikinya.

Sepertinya senang ya punya kakak laki-laki. Aku punya kakak perempuan, cerewetnya minta ampun. Tapi, kadang-kadang kakakku juga baik loh. Kalau aku berdiam diri di kamar, kakak selalu menghampiriku dan menanyakan masalah yang sedang terjadi. Sudah menjadi kebiasaanku kalau sedang ada masalah, aku lebih banyak berdiam diri di kamar.

Selama perjalanan pulang, aku lebih banyak diam dibandingkan dengan Lala. Padahal aku duduk di samping tempat duduk kemudi. Fariz oppa sangat hati-hati dalam mengemudikan mobil. Lala yang duduk di belakang justru banyak berbicara dengan Fariz oppa. Sementara aku hanya duduk diam, merunduk, dan kadang-kadang tertawa kecil kalau ada pembicaraan yang lucu antara Fariz oppa dan Lala. Sesekali Fariz oppa bertanya, kenapa aku diam terus.

“Tidak apa-apa, oppa. Hanya tidak ada yang dapat saya katakan saja.” jawabku pelan. Pokoknya aku berbeda 180 derajat kalau ada laki-laki di dekatku, ketimbang saat aku berkumpul hanya dengan perempuan saja.

Fariz oppa hanya tersenyum. Sepertinya ia memahamiku. Ia tidak mengajukan pertanyaan lagi padaku. Enak banget ya jadi pribadi Lala, tidak perlu canggung berhadapan dengan lawan jenis. Tapi, aku takut. Aku takut kalau berhadapan dan bertatapan mata dengan laki-laki, ada sesuatu yang dibawa syaraf dari mataku menuju otak dan kemudian sampai di hati dengan reaksi berupa getaran di dada. Aku takut jatuh cinta? Ya sudah, katakanlah memang aku demikian.

Tanpa terasa Lala telah sampai di depan rumahnya. Aduh, berarti tinggal aku dan Kak Fariz dong di mobil ini? Dadaku semakin berdetak kencang, aku menjadi kikuk. Eotteohkaejyo?

HP-ku bergetar. Ada SMS masuk rupanya. Dari Lala.

Sarah, jangan kikuk ya, biasa aja! Kalau susah-susah banget, anggap saja orang yang ada di sampingmu itu perempuan. Hehehe…. Tapi Kak Fariz cakep tau… ^_^

Aha! Aku ada ide. Untuk mengalihkan rasa kikukku, SMS-an saja sama Lala, pasti Lala mau dan mengerti.

Kamu sih enak, gampang, n’ engga perlu kikuk kayak aku. Tapi, bagiku ini susah La. Tapi aku punya ide, kamu temenin aku SMS-an ya? Please…

Send! Semoga cara ini berhasil. Tapi, Kak Fariz tersinggung engga ya kalau aku SMS-an terus? Pasti dia merasa jenuh mengemudikan mobil. Ah… ya Allah, lindungi kami dari segala marabahaya dan godaan setan, aamiin…

Ada balasan SMS dari Lala.

Ok. Tapi kasihan Kak Fariz, nanti dia BT dong? Kamu ajak dia ngobrol saja, orangnya asik kok. Aku mau-mau saja sih SMS-an, tapi aku belum mandi. Jadi sekarang mau mandi dulu. Hehehe…

Bye Sarah ^_^

Jangan kikuk ya. Semoga selamat sampai rumah.

Pokoknya, coba deh kenalan dan akrab sama Kak Fariz.😉 Ok?

Aih, Lala? Aduh, tega banget sih dia? Kalau kayak gini, aku harus berperang melawan diriku sendiri, demi habluminannas. Aku pun mencoba membuka pembicaraan.

“Kak, eh oppa, oppa sekarang jadi dosen di mana?” tanyaku sambil tetap merundukkan kepala.

“Jangan bingung, mau panggil ‘kakak’ atau ‘oppa’ sama saja kan artinya? Tapi kalau kamu lebih nyaman pakai panggilan ‘kakak’, ya sudah panggil saja ‘Kak Fariz’, ya? Oh ya, aku dosen Biologi di universitas yang sama dengan tempat kamu dan Yoona kuliah.” urainya.

“Oh, i.. iya, Kak. Maaf ya Kak kalau saya terlihat kurang freindly. Saya tidak biasa bertatapan dengan lawan jenis. Bukan takut sama Kakak, tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Ah engga apa-apa, Kak.”

Kak Fariz hanya tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.

Sejenak aku tersadar, berarti Kak Fariz dosen Biologi di univeritasku? Aih, Yoona kenapa tidak pernah cerita sih?

“Berarti Kakak sering berangkat bareng sama Yoona?” tanyaku.

“Engga. Kan jadwalku sama Yoona beda. Lagian itu supaya Yoona lebih mandiri, engga minta antar-jemput terus. Dia tuh dulu waktu di Korea sangat manja. Berangkat dan pulang sekolah selalu minta diantar-jemput. Tapi, alhamdulillah sejak di sini dia lebih mandiri.” jawab Kak Fariz panjang lebar.

Akhirnya aku pun memberanikan melihat ke arahnya. Ternyata ia juga tidak melihatku, ia fokus mengemudikan mobil. Alhamdulillah… baguslah, jadi kami tidak perlu bertatap mata. Tapi, benar juga kata Lala, Kak Fariz ganteng, cakep, wajahnya bersih pula.

“Emm… Kakak sudah punya pacar belum?” tanyaku penuh gugup. Aduh, dasar bodoh! Kenapa malah nanyain itu? Bukankah aku tidak akan membahas mengenai ‘pacar’ dengan pria mana pun? Huft… nasi sudah jadi bubur. Aku berharap dia tidak menyimak pertanyaanku tadi.

“Ha, Apa? Pacar ya?” dia melirikku, “Menurut kamu bagaimana? Apakah aku terlihat seperti yang sudah punya kekasih?”

Mendengarnya menjawab pertanyaanku semakin membuatku bertambah kikuk. “Emm… maaf ya Kak kalau pertanyaanku terlalu bodoh. Habisnya aku bingung mau bilang apa sama Kakak.” jawabku. Aku merunduk kembali. Harus kujawabkah pertanyaannya?

“Tidak apa-apa, Sarah. Santai saja…”

Lagi-lagi dia memperlihatkan senyumnya. Kalau di film-film, mungkin aku sudah klepek-klepek karena senyum pria tampan di sampingku ini.

“Oh ya, bagaimana dengan Sarah? Apakah kamu sudah punya pacar?”

“Ha? Ap.. apa? Ppa..pa..pacar?” aduh, kok aku jadi gagap gini, asihhh…. Aku mengambil nafas agar lebih tenang. “Emm… bagaimana ya? Dulu aku pernah punya pacar, tetapi status ‘pacar’ kami putus di bulan pertama.” Aku diam sejenak, kembali berpikir, apakah harus kuceritakan masa lalu dan prinsipku sekarang ini atau tidak. “E…. tapi…”

“Tapi?”

“Tapi sejak aku putus dengan mantanku dan aku mulai menertibkan ibadahku, termasuk penggunaan kerudung ini, sejak saat itulah aku berjanji tidak akan pacaran lagi. Oleh karena itu juga sekarang aku takut bertatapan muka dengan ikhwan. Karena bagi aku segala dosa dapat berawal dari tatapan mata.” Aku masih menundukkan kepala, tetapi kini aku tidak gugup dan gagap lagi. Aku merasa yakin dengan kata-kata yang akan kuucapkan. “Bagi aku, hubungan pacaran yang ilegal itu hanya membawa ke-mudharat-an.”

Kak Faris tertawa. Sudah kuduga, setiap orang yang mendengar pernyataanku ini pasti akan tertawa. Mungkin menurut mereka, aku ini gadis zadu yang seharusnya hidup di masa RA Kartini. Tapi, aku tidak peduli dengan tanggapan mereka walaupun pada dasarnya tetap kuhargai apa yang mereka katakan. Aku hanya akan pacaran ketika aku sudah menikah.

Aku tersenyum merunduk. Akan tetapi, ternyata Kak Faris menyatakan pernyataan yang tidak dapat kutebak sebelumnya.

“Kamu itu manis loh Sarah. Tapi…”

Aku menatap wajahnya sekilas. “Tapi kenapa, Kak?”

Nadanya berubah. Ia tidak lagi tertawa. “Aku salut dengan pemikiranmu. Jarang sekali gadis zaman sekarang mempunyai pemikiran seperti yang kamu pikirkan itu, Sarah. Rata-rata mereka hanya mencari kesenangan dengan cara berpacaran. Padahal, kesenangan apa yang mereka maksud? Kesenangan duniawi? Dan menurut aku, pacaran itu hanya sebuah wujud ketidakpercayaan pada pasangan….” (bla… bla… bla…)

Aku tidak menduga Kak Faris ternyata setuju dengan prinsipku. Bahkan saat ini pun ia masih melanjutkan kata-katanya. Aku terpukau dengan pendapatnya. Sudah cakep, penampilan rapi dan bersih, dan ternyata tentang agamanya juga tidak tipis seperti sutra. Saat ini aku seperti seorang gadis yang ada di dalam novel. Atau sepertinya aku bertemu dengan tokoh “Azzam” yang ada di novel Ketika Cinta Bertasbih? Bermimpikah aku?

“Sarah? Sarah? Kok kamu diem?” tanyanya.

Aku tersadar, ternyata tadi aku memasuki dunia lamunan. “Oh iya maaf Kak. Tapi aku masih mendengarkan apa yang Kak Faris bilang kok.” jawabku dengan melampirkan sebuah senyuman. Aku setuju dengan pendapatnya.

“Yah… sudah sampai jalan Setiabudhi nih. Rumah kamu di sebelah mananya?”

“Itu di depan ada pertigaan. Aku turun di situ saja. Soalnya mobil tidak dapat masuk, Kak. Maaf ya…”

“Oh begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Tadinya kalau boleh aku mau mampir dulu.”

“Ha? Mmam..mmpir?”

“Iya. Tapi, sepertinya lain kali saja. Bolehkan?”

Aku hanya tersenyum. Sepertinya dua detik yang lalu Kak Faris memperhatikan ekspresiku. “Assalamu’alaikum Kak…”

“Wa’alaikum salam…”

Ia melambaikan tangan pertanda sampai jumpa. Ya Allah, sepertinya hatiku bergetar. Cintakah ini? Ia datang kembali? Astagfirullah…

Saat ini aku berada di antara rasa senang dan sedih. Senang, karena aku bertemu dengan pria yang menyetujui prinsipku. Sedih, karena hatiku berdebar kencang. Aku takut jatuh cinta. Aku takut jatuh cinta. Aku beristigfar sebanyak-banyaknya. Astaghfirullah…. astagfirullah…. astagfirullah….

Sejak kejadian itu, aku selalu teringat akan wajah Kak Faris. Seorang mualaf asal Korea yang telah satu tahun menetap di Bandung beserta keluarganya. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk Yoona, adiknya sendiri. Hanya aku, Tuhanku, dan diary-ku yang tahu. Setelah beberapa bulan, aku dan Kak Faris tidak bertemu lagi walaupun faktanya ia adalah salah satu dosen di kampusku. Kalau aku ke rumah Yoona, sekali pun aku tidak pernah melihat wajahnya lagi. Ke mana dia?

Dalam hatiku, aku berharap suatu saat aku dapat berjumpa lagi dengannya. Ya Allah, apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Ya Allah, padahal aku hanya bertemu satu kali dengannya. Tapi, kenapa rasa ini tak kunjung hilang?

Dua setengah tahun kemudian.

Sebentar lagi aku lulus S1. Akhirnya aku bisa lulus cum laude. Aku pun mengadakan syukuran di rumah. Tak lupa kuundang sahabat-sahabat tercintaku, Lala dan Yoona.  Ketika kulihat di depan rumah,  ternyata Yoona mengajak kakaknya, Kak Faris. Subhanallah… Namja ini makin tampan saja. Aku hampir tak berkedip. Astagfirullah… aku harus segera menutup mata. “Cepat tutup matamu, Sarah!” batinku berbisik.

Ahh… aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diriku. Ya Allah… ya Allah… aku harus bagaimana? Asihh…

“Hooiii! Kamu lagi ngapain, Sarah?” Lala mengagetkanku.

Aku tersadar. Aku pun langsung menundukkan kepala. Acara syukuran ini memenag tidak meriah, hanya acara syukuran biasa, sebagai panjat syukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya.

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

4 thoughts on “Aku Takut Jatuh Cinta

  1. Obiiit… Aku kira tte beneran curhtan kamu soalnya dr awal dah panjang lebar ttg ktakutan seseorang yg jatuh cinta.
    Eh tau2ny jd cerpen ning. Klo cerpen mah ini ebanyakan percakapannq bit. Coba lebih banyak deskrip, percakapannya mah sperlunya aja.
    Aaah pdhl aku ngarep obit curhatnya bukn via cerpen.hehehehehehe

    1. makasih kk dah baca🙂
      hehehe, tadinya mau curhatan, tp kan ga enak, ntar ga jadi rahasia lg dong? hehe…
      tapi lagi diusahakan yg versi curhatannya dibuat n pengennya jadi novel.😉
      menurut ak, kebanyakan org lebih suka percakapan drpd deskrip, takutnya klo deskrip kebanyakan jd jenuh.
      Tapi, sekali lg makasih banyak Kaka, dah mau mampir n baca ^_^
      luph u luph u ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s