Posted in artikel

Tradisi Saweran ‘Momolo’ di Kampung Dukuh Kopi


Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun oleh suatu kelompok masyarakat atau suku. Setiap masyarakat di belahan dunia ini pasti memiliki tradisi yang berbeda-beda dan khas, begitu pula dengan masyarakat kampung Dukuh Kopi, Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes ini. Sebelumnya, saya beri penjelasana sedikit mengenai masyarakat dan lokasi Kampung Dukuh Kopi. Kampung Dukuh Kopi terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Dari segi sosial, tentu saja masyarakatnya merupakan masyarakat yang menggunakan bilingual, perpaduan antara Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa, meskipun tingkat kesopanannya bila dibandingkan dengan masyarakat Sunda/Jawa di Bandung/Jogja, pasti sangat jauh dan terkesan kasar. Tapi, ya itulah keadaannya, bukan maksud mereka berkata kasar, tetapi tingkat kesopanan di setiap daerah saya rasa pasti berbeda. Jadi, jangan dibandingkan!😉

Mereka juga memiliki tradisi yang khas dan cukup banyak. Akan tetapi, untuk kali ini saya akan berbagi cerita sedikit tentang tradisi saweran momolo di Kampung Dukuh Kopi ini. Momolo merupakan bagian paling atas rumah yang berfungsi sebagai ‘wuwung’ (Bahasa Sunda) atau bagian paling untuk merangkai genting di atap rumah. Momolo sendiri tidak sekadar kayu panjang yang melintang di atap rumah, tetapi lebih sakral dari itu semua, khususnya bagi masyarakat Dukuh Kopi dan masyarakat Kecamatan Banjarharja pada umumnya. Momolo berisi benih-benih palawija atau rempah-rempah, yang tujuannya adalah untuk memberikan keberkahan dan rizki yang lancar untuk pemilik rumah. Rempah-remaph tersebut dibungkus oleh kain berwarna merah, putih, dan hitam secara berurutan. Momolo yang sudah diisi oleh rempah-rempah itu oleh masyarakat Dukuh Kopi disebut oto. Perbedaan momolo dengan oto adalah momolo itu kalau si kayu belum diisi oleh rempah-rempah, tetapi oto sudah diisi oleh rempah-rempah. Momolo yang sudah diangkat ke atas rumah dan akan dijadikan sandaran atap, kemudian diazani oleh pemiliki atau saudara dari pemilik rumah itu, dianggap sebagai tanda bahwa rumah sudah jadi (walaupun belum jadi secara indah dan rapi). barulah setelah itu diadakan saweran atas momolo yang diangkat ke atas rumah.

Pada umumnya, saweran hanya diberikan kepada sinden atau pada syukuran pengantin yang harapannya semoga si pengantin tersebut diberkahi rizki yang banyak dan terhindar dari segala kesulitan dalam urusan rizki. Akan tetapi, ada satu tradisi yang unik yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Dukuh Kopi, yakni tradisi menyawer rumah yang baru dibangun.

warga berusaha menangkap saweran
warga berusaha menangkap saweran

Warga di sekitar tempat tinggal atau di sekitar rumah yang baru dibangun itu turut memeriahkan. Mereka datang berbondong-bondong dengan anak-anaknya, dan beberapa saudaranya. Uniknya, diantara mereka ada yang membawa payung, kain samping, atau kain karembong (kain sejenis samping, tetapi tidak selebar kain samping, dan digunakan untuk menggendong bayi). Tujuannya adalah untuk meraup uang atau saweran yang dikeluarkan oleh si pemilik rumah baru dan saudara-saudaranya.

Di sini, tak hanya si pemilik rumah yang menyawer, tetapi juga sanak saudaranya, baik itu ibu, kakak, adik, sepupu, ipar, ataupun mertua. Bentuk yang disawerkan pun tak hanya uang, tetapi ada yang menggunakan barang siapa pakai seperti sabun cuci piring, sabun mandi, sampo sachet-an, dan sebagainya. Saweran ini tujuannya adalah sebagai wujud syukur ke hadirat Tuhan yang Mahaesa atas berdirinya rumah baru itu. ^^

nunggu saweran ditabur
nunggu saweran ditabur
warga berbebut saweran
warga berbebut saweran
bersiap memberikan saweran
bersiap memberikan saweran
masih menunggu saweran dimulai
masih menunggu saweran dimulai
mempersiapkan saweran
mempersiapkan saweran
mana ya sawerannya? =_=
mana ya sawerannya? =_=
saweran dimulai! ^^
saweran dimulai! ^^
sawerrrr...saweerrr....! ^O^
sawerrrr…saweerrr….! ^O^

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s