Diposkan pada Puisi, umum

Butiran Cinta


Tuhan, aku masih begitu terjaga dalam napas sendu ini,
mengadu kepasrahan lewat setangkai kata,
yang sempat kuberi dulu.

Tuhan, aku benar-benar lemah
entah kenapa bisa selama ini aku bertahan
entah kenapa bisa sekuat ini aku “menyiksa” batinku sendiri
entah kenapa dan kenapa entah
entah inikah bentuk cintaku pada-Mu?
Tuhan, caramu menghiburku begitu santun.
Lemah rapuhku, kau seka dengan butiran cinta
yang kerap kali tersulam dalam lantunan
senandung rindu.
Rindu tuk selalu sebut nama-Mu

Tanpa kulisankan jelas, Kau pun tahu
sketsa cerita di hatiku, tanpa bias.
Yakin, Engkau takkan lepas janji.
Meski hanya senoktah kata yang tlah
Kau beri.

Ingin kumaknai hadirnya, di sela sajak rindu
yang sedang kutulis.
Meramu kembali untaian kata yang sempat terjeda.
Lalu membahasakannya pada sebuah doa,
dariku untuknya bersama-Mu.

Tuhan, pegangi hatiku agar tegar berjalan di jalan-Mu.
Tuhan, jalankan nalarku agar senantiasa berbuat baik.
Tuhan, jangan biarkan aku dalam keputusasaan dan kesedihan yang mendalam
Biarkan butir-butir cinta yang tumbuh ini menjadi butir cinta yang suci,
yang Kau pelihara dalam hatiku,
hingga tiba saatnya seseorang merasakan butiran cintaku ini, dariku, dari-Mu, untuknya.
Tuhan, aku sayang pada-Mu.

Bandung, 22 Desember 2012
Robita

Iklan

Penulis:

I'm Robita, an Indonesian who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. Don’t forget to subscribe! Terima kasih, thank you, Dankeschön! Contact me through email: r162.id@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s