Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga


Hai, Aku Anis. Saat ini aku adalah seorang siswa kelas satu SMA di Kota Tegal. Ini adalah petualangan baruku sebagai siswa SMA. Petualangan selama masa-masa SMP sudah kulewati dan  yaa… cukuplah, hehehe…

By the way, kamu tahu siapa gadis yang berkudung cokelat di sana? Dia adalah Indras. Temanku dari SMP yang sama. Aku berteman dengannya, berteman baik.

Pada saat pengumuman anggota kelas, ternyata aku dan Indras di kelas yang sama, kelas X-2. Kami bermain bersama, jajan bersama, kerja kelompok bersama, dan memutuskan untuk berada dalam satu grup yang sama untuk kemah di Moga minggu depan. Kata kakak kelasku, kami akan berkemah selama lima hari empat malam di sana. Tentu saja ini bukan perkemahan biasa bagiku.

Perkemahan yang diselenggarakan setiap peringatan hari Pramuka saja hanya tiga hari dua malam, nah yang ini malah lima hari empat malam. Ibuku agak khawatir dengan perkemahan yang akan kujalani ini. Tapi aku yakin aku bisa bertahan dan mengikuti kegiatan perkemahan dengan baik.

Berkemah merupakan salah satu kegiatan Pramuka yang paling paling paling aku sukai. Biasanya, kegiatan berkemah tidak hanya tidur dan makan di tenda, tetapi juga ada halang rintang, tebak sandi morse, ‘smaphore’, membuat ‘drakbar’, dan lain-lain. Semua yang ada di kegiatan perkemahan Pramuka aku suka.

“Ndras, kita sekelompok sama siapa nih?”

“Gak tahu, Nis.”

“Tapi kita tetep satu grup kan?”

Tiba-tiba Emi, teman sekelas juga, datang menghampiri aku dan Indras.

“Hai, kalian udah punya grup belum?”

“Udah, tapi anggotanya baru aku sama Indras doang,” jawabku.

“Hmm… aku juga udah sih, tapi kurang empat orang lagi nih.”

Aku melirik Indras, “Gimana tuh Ndras? Kita mending gabung gak?”

“Boleh juga, Nis, daripada kita cuma berdua,” jawab Indras.

“Emang anggota kamu siapa aja, Em?” tanyaku pada Emi.

“Udah ada Riris, Tyas, Ayu, Intan, Erika, Linda, Meti, dan aku.”

Sejenak aku dan Indras berpikir, apakah sebaiknya kami bergabung dengan kelompok Emi atau kami mencari anggota kelompok sendiri saja.

“Jadi piben, Nis?” tanya Indras.

“Gak tahu, menurut kamu gimana?” tanyaku bisik-bisik.

Yo wes lah, gabung bae,” usul Indras.

Aku lihat Emi lagi, sekilas wajahnya berharap aku dan Indras bisa bergabung dengan kelompoknya.

“Kalian mau gak gabung dengan kelompok aku?” tanya Emi pada kami.

“Hmm… oke deh, aku sama Indras gabung sama kelompok kamu ya.”

“Sip, makasih ya…” Emi tersenyum lega, “eh, tapi kita masih kurang dua orang lagi, kalian tolong bantu ya.”

Aku dan Indras mengangguk-anggukkan kepala bersamaan sebagai tanda oke.

Emi pergi menuju kelompoknya untuk memberi tahu mereka tentang anggota baru yang bergabung dengan kelompok mereka, aku dan Indras.

***

Keesokan harinya, di jam istirahat pertama, aku secara tidak sengaja berkenalan dengan Ratri dan Ida. Ternyata mereka bernasib sama seperti aku dan Indras sebelum gabung dengan kelompok Emi. Langsung saja aku tawari mereka untuk gabung dengan kelompok Emi juga. Hahaha…

***

Hari-H perkemahan di Moga.

Kami berangkat menggunakan beberapa unit truk besar. Aku senang karena ini adalah pertama kalinya aku berkemah selama lima hari di tempat yang jauh pula. Selain itu, ternyata Mas Arif juga ikut ke perkemahan. Aahhh… senangnya!

Jujur saja aku menyukai Mas Arif sejak SMP, tapi aku tak berani mengatakan apapun. Kala itu aku dan Mas Arif berada di kelompok Paskibra yang sama, tim putih. Kami berlatih Paskibra untuk persiapan menjadi tim pengibar bendera pada tangga 17 Agustus.

Tidak hanya kenal di Paskibra, tetapi juga pada saat pembentukan Mading AKSI407 di SMP. Aku dan dia berada di kelompok yang sama. Aku berterima kasih banyak pada Bu Elvi yang membuat kami berada di kelompok yang sama, ya walaupun Bu Elvi sebenarnya tidak tahu apa-apa. Hahaha…

***

Sesampainya di Moga, setiap peserta  perkemahan wajib mendirikan tenda sendiri. Aku tentunya cukup bisa untuk mendirikan tenda. Hehehe… Orang setiap hari minggu di samping rumah aku dirikan tenda dengan menggunakan kain samping, tali tambang, dan pasak. Walaupun aku tidak semahir kakak-kakak Pramuka yang lain, setidaknya aku tahu urutan mendirikan tenda yang benar sehingga tenda tidak akan mudah roboh.

Sementara aku dan beberapa orang mendirikan tenda, teman-teman yang lainnya menyiapkan tempat untuk dapur dan tempat jemuran. Setelah itu, upacara pembukaan perkemahan dilaksanakan di lapangan yang terletak di tengah-tengah perkemahan. Kami berdiri berbanjar menurut kelompok masing-masing. Berhubung aku ditunjuk sebagai wakil ketua kelompok, aku berbaris di paling belakang.

Usai upacara pembukaan, kami kembali ke tenda masing-masing. Aku memperhatika ke sekeliling dan sesekali mencuri pandang ke arah tenda panitia. Kalau mataku tidak salah, tampaknya aku tidak melihat Mas Arif. Yang ada malah Mas Nasar, Mas Yofi, Mas Agung, Mbak Tika, Mbak Mulan, Mbak Linda, dan lain-lainnya.

Eh tapi di sana ada Mas Panji, kakak kelas dua belas yang menjadi salah satu senior di perkemahan ini. Sekilas aku juga menyukainya, tapi tidak lebih dari rasa sukaku terhadap Mas Arif, hehehe…

Hari pertama tidak ada kegiatan yang menyenangkan, biasa saja, semuanya flat.

***

Hari kedua.

Di hari kedua kegiatan perkemahan terasa lebih hidup dan menyenangkan. Yaa… walaupun jam lima pagi aku dan teman-teman harus mengantri di kamar mandi.

“Eh kita numpang mandi di rumah penduduk aja, yuk?” ucap salah seorang temanku.

“Emang boleh?” tanyaku.

“Ya kita coba dulu aja,” ucapnya lagi.

Tak lama kemudian muncul beberapa orang yang wajahnya tak asing di mataku.

“Kalian udah mandi? Di mana?” tanyaku pada Rima.

“Udah,” jawab Rima, “di rumah penduduk.”

“Kamu coba ke sana aja, dibolehin kok, paling yaa… bayar seribu,” sambung Septi.

Saat itu juga aku meninggalkan urutan barisan dan pergi mencari rumah penduduk yang membuka kamar mandinya untuk kami. Hehehe…

***

Pukul tujuh semua kegiatan dimulai, tentu saja diawali dengan kegiatan upacara. “Hmm…. upacara lagi… upacara lagi… Gak di sekolah gak di sini upacaraaaaa mulu!” batinku.

Kegiatan hari ini tidak begitu jauh dari bumi perkemahan, hanya beberapa jenis lomba yang baisa memeriahkan acara tujuh belas agustusan.

Aku dan beberapa orang mengikuti lomba tarik tambang, sedangkan Emi mengikuti lomba kaligrafi, yang lainnya tersebar di beberapa lomba seperti mengartikan morse, lomba menggambar pemandangan, dan lain-lainnya, aku tidak begitu hafal!

Di lomba tarik tambang, ternyata ada Mas Panji di sana.  Uwoow… wowowow… wowowow… seneng banget!

Indras yang mengetahui aku menyukai Mas Panji diam-diam mengambil sebuah gambar menggunakan kamera yang sudah ia bawa dari rumah. Jepret! Foto berhasil diambil. Aku penasaran dengan hasilnya.

Pas aku lihat hasil potretan Indras, ternyata wajah Mas Panji tidak terlihat sama sekali, yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya saja. Ya… walaupun utuh, tanpa ada penghalang ataupun orang lain, tetap saja foto bagian tubuh belakang tidak membuatku dapat melihat wajahnya. Hmm… By the way, thanks to Indras. J

Setelah kegiatan lomba-lomba selesai, hasilnya diumumkan sore harinya. Yaah… kelompokku tidak memenangkan lomba apapun. Aku juga kalah dalam lomba tarik tambang, perasaan semua tenagaku hilang ketika aku tahu ada Mas Panji di sana. Yang aku rasakan sebenarnya tidak canggung ataupun deg-degan, tetapi mendadak tenagaku hilang dan tidak dapat mengalahkan tim lawan.

***

Hari berikutnya adalah hari yang aku tunggu-tunggu. HALANG RINTANG!!! Yeeeeee…!!!

Akhirnya semua peserta perkemahan  harus mengikuti kegiatan ini. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengikutinya, apalagi posisiku sebagai wakil ketua. Selain itu, di antara teman-teman sekelompok, hanya aku yang hafal semapur. Tapi, tetap harus ada dua orang yang jaga tenda dan menyiapkan makanan untuk makan siang nanti, usai kegiatan ini.

Kegiatan pertama dimulai dengan kegiatan pertolongan pertama pada kecelakaan. Aku cukup paham dalam membuat drakbar (alat sederhana yang terdiri atas dua banbu dan tali tambang yang disusun untuk mengangkat orang sakit). Dalam kegiatan ini, berhubung tubuh Ratri paling kecil, dia berperan sebagai orang yang sakit. Tyas membalutkan kain kasa di kepalanya, sedangkan seorang teman yang lainnya membalutkan kain kasa di tangannya. Aku dan sisa orang yang ada di dalam kelompokku  bekerja sama membuat drakbar. Di sini kami adu kecepatan dan ketepatan karena berhubungan dengan kegiatan pertolongan pertama pada kecelakaan. Walaupun kelompokku bukan kelompok pertama yang berhasil menyelesaikan misi ini, setidaknya kelompokku bukan kelompok terakhir yang menyelesaikan misi ini.

Pada tantangan-tantangan berikutnya ada kegiatan baris-berbaris. Horeeee!!! Akhirnya di sini aku temui Mas Arif. Semangatku langsung meningkat. Aku yakin aku dan teman-teman dapat melakukan kegiatan baris-berbaris. Setidaknya aku pernah menjadi tim pengibar bendera waktu SMP. Hehehe…

Setelah itu, seperti dugaanku, pasti ada semapur, morse, praktik membuat anyaman atau sering disebut simpul. Ada simpul mati, simpul hidup, tapi tak ada simpul pingsan. Hehehee…

Di akhir kegiatan, puncak kegiatannya adalah halang rintang. Terlihat beberapa kelompok sudah mengantri di depan kami. Awalnya aku deg-degan, kukira ada tantangan apa lagi, eh tahunya halang rintang.

Kami diminta melepaskan sepatu, kaos kaki, topi, dan barang bawaan lainnya. Topi dan sepatu dibawa oleh Mas Ozil. Mas Ozil bertugas menyeberangkan sepatu dan topi agar tidak basah pada saat menyeberang sungai.

“Hmm… kenapa tantangannya cuma segini?” batinku.

Tapi, ketika Mas Ozil sampai di tengah-tengah sungai, ia terpeleset dan semua sepatu serta topi menjadi basah semua.

“Yaaahhh… sama saja basah kalau begitu!” gerutuku.

“Iya, basah-basah juga deh!” ucap Tyas.

“Gak sengaja kali, Nis,” ucap Indras.

“Iya, gak sengaja kali ya?” aku mencoba berpikiran positif. “Tapi, masa iya sih gak sengaja jatuh. Ini kan arena halang rintang!” aku mencoba menganalisa.

Setelah sampai di pinggir sungai, ada seseorang yang bisik-bisik bilang, “Tadi tuh jatuh disengaja tahu, bukannya gak sengaja.”

Aku lihat lagi ke belakang, ke Mas Ozil dan beberapa kakak-kakak senior yang bertugas di sana. Ternyata mereka tertawa riang, merasa berhasil mengelabui adik-adiknya.

“Hmm… begitu ya?” pikirku.

Aku lihat di sana juga ada Mbak Arlinda dan Mas Oji, sepasang putri dan pangeran yang sangat beruntung. Aku iri pada mereka berdua. Dulu, ketika masih masa-masa MOS, aku sempat suka Mas Oji, tapi pas tahu dia sudah jadian dengan Mbak Arlinda, aku mundur deh. Aku sadar diri, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Tapi tenang, masih ada Mas Arif, hehehhe….

Sesampainya di tenda, pakuaian, sepatu, dan topi Pramuka basah semua, basah kuyup! Untung aku selalu membawa dua stel pakaian Pramuka setiap kali berkemah.

***

Tak terasa lima hari kami berkemah di Moga. Hari ini hari terakhir, kami harus bersiap-siap pulang. Di hari terakhir ini tidak ada kegiata khusus seperti di hari kedua, ketiga, dan keempat. Hari ini kami hanya diminta merapikan tenda dan barang-barang yang kami bawa. Setelah itu, semua tenda, barang bawaan, dan tas-tas yang berisi pakaian ganti dibawa ke truk untuk ditata.

Hari itu aku melihat Mas Panji, tapi ia sama sekali tidak melihatku. Huh!

Pada kesempatan yang sama, aku juga melihat Mbak Arlinda dan Mas Oji, Mas Ozil juga ada di sana. Hmm… ke mana Mas Arif ya?

Sebelum naik truk, aku berdoa semoga nanti aku bisa bertemu dengan Mas Arif lagi, di sekolah.

 

 

Tuhan, kalaupun aku tak mengatakannya lewat bibir ini, kumohon sampaikan perasaanku padanya dan berikan kami kesempatan untuk bertatap muka lagi. Aamiin…

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

2 thoughts on “[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga

  1. baguuss nis,, jadii keinget masa2 muda dulu,, hehehe..
    semoga “dia” membaca ni cerpen n kalian bisa bertemu dan berjodoh,, di tunggu kabar baiknyaa,,😉

    1. ahahhaa… beginilah kalau efek kisah nyata dibumbui kisah fiktif,,
      terima kasih apresiasinya, Indras😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s