Posted in artikel

Berbagi Pengalaman Tinggal di Kampung Inggris, Kediri


Satu bulan tinggal di Pare rasanya ada banyak hal yang bisa saya ceritakan di sini. Kampung Inggris, siapa sih yang gak tahu Kampung Inggris? Begitu terkenalnya kampung yang satu ini di mata orang Indonesia. Bisa saya pastikan setiap orang Indonesia pasti setidaknya pernah mendengar nama Kampung Inggris.

Tujuan saya pergi ke Kampung Inggris tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang yang pergi ke sana, ya, untuk belajar Bahasa Inggris. Berangkat bersama kawan dari Bandung menggunakan kereta api Malabar pukul empat sore hari dan sampai di Kediri pada pukul empat dini hari.

Selama di kereta, saya dan kawan terus menerus menebak seperti apa suasana di sana, bagaimana orang-orangnya, bagaimana makanannya, bagaimana cuacanya, dan satu pertanyaan besar yang sangat membutuhkan jawaban (khususnya bagi diri saya sendiri) yaitu apakah orang-orang di sana semuanya berbahasa Inggris?

Perasaan senang, penasaran, dan ingin segera sampai di sana rasanya menjadi satu, hingga akhirnya kami tertidur. Hehehe…

Oke, singkat ceritanya kami sudah sampai di Kediri. Berhubung hari masih gelap, sekitar pukul empat pagi, stasiun belum buka sehingga kami tidak bisa langsung pergi ke Kecamatan Pare. Stasiun Kediri buka sekitar pukul setengah enam. Pada saat itu, tukang becak sudah banyak menunggu di depan pintu keluar dan menawarkan jasa mereka untuk mengantarkan kami ke pangkalan angkot. Tapi, selain becak, ada juga jasa sewa mobil. Tentu saja untuk menyewa mobil tidak bisa satu atau dua orang, kecuali siap menanggung biayanya. Saya berkenalan dengan dua mahasiswa asal Jakarta dan mengajak mereka untuk pergi bersama ke Pare. Dengan demikian, akhirnya kami lebih memilih menyewa mobil daripada naik becak dan angkot. Selain lebih praktis dan cepat sampai, menyewa mobil memberikan kenyamanan sendiri karena tidak harus berdesakan dan barang bawaan tersimpan dengan aman.

Selama perjalanan menuju Kampung Inggris atau dikenal juga dengan nama Desa Tulungredjo, Pak Supir lumayan banyak bercerita mengenai Kampung Inggris dan masyarakat di sekitarnya. Ternyata tidak semua orang di sana bisa bahasa Inggris. Tentu saja ini mengagetkan karena di luar prediksi saya. Saya pikir semua orang di sana sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris, bahkan tukang cilok pun berbahasa Inggris. Tapi ternyata tidak. Hmm…

Dua minggu pertama tinggal di Kampung Inggris rasanya… emm…😀

Oke, saya ceritakan satu per satu, ya. Pertama, cuaca di sana menurut saya cukup ekstrim karena akan terasa panas ketika tidak ada hujan dan terasa dingin ketika hujan datang, itu menurut saya loh ya. Kedua, memang benar kata pak supir waktu itu, tidak semua orang di sini dapat berbahasa Inggris, buktinya ketika saya membeli minum dalam kemasan ke sebuah warung, ibu warungnya saya tanya, “Bu, maaf sebelumnya, saya mau tanya. Apakah saya harus menggunakan Bahasa Inggris selama saya tinggal di desa ini? Apakah kepada Ibu juga harus menggunakan Bahasa Inggris?” Lalu Ibu itu menjawab, “Ah, enggak… hanya yang tinggal di sekitar tempat kursus aja pake Bahasa Inggris.”

Selain bertanya langsung pada salah satu warga, saya juga mengamati lingkungan saya. Ternyata memang tidak semuanya berbahasa Inggris, ya walaupun ada beberapa yang berbahasa Inggris, di antaranya yaitu abang kafe yang ada di depan camp saya dan abang yang menjaga camp saya. Ada yang fasih pelafalannya dan ada juga yang dialek jawanya masih kental, yang demikian itu disebutnya Javanglish (Java+English).

Hal ketiga, makanan khas di sana katanya nasi pecel, wajib coba buat pendatang baru!😉

bahan-bahan nasi pecel

Hal keempat, belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris ternyata tidak hanya dilakukan di dalam ruangan (indoor), tetapi juga di luar ruangan (outdoor). Selain itu, dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran, suasana belajar terasa menyenangkan dan semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

outdoor

Hal kelima, pengajar atau tutor di sana masih muda-muda, tidak jauh berbeda dengan usia saya. Hehehe… Selain itu, tidak jarang juga yang terkena cinlok, cinta lokasi, baik dengan pengajar maupun dengan sesama pembelajar. Tapi, hal itu kayaknya hanya berlaku buat anak muda deh, hehehe…

Jangan salah mengira loh, pembelajar di sini tidak hanya anak muda, tetapi juga orang tua. Pembelajar di sini memang berasal dari segala kalangan, baik dari segi usia, profesi, ataupun tempat tinggal (tempat asal). Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di sana ada biarawati, pelaut, ibu rumah tangga, dan lain-lain.🙂 Jadi, jangan berkecil hati untuk orang tua yang ingin ikutan belajar Bahasa Inggris di sini, juga jangan malu! Tidak sedikit kok pembelajar yang usianya lebih tua dari usia tutor atau pengajarnya. Hal pertama yang harus dimiliki adalah niat.

Hal keenam, di Kampung Inggris kita akan cepat bisa berbahasa Inggris. Kenapa? Itu karena di sana kita hanya fokus pada satu hal yakni belajar atau praktik berbahasa Inggris. Kita tidak perlu memikirkan matematika, IPA, IPS, atau mata pelajaran lainnya. Di sana kita hanya perlu fokus pada bahasa Inggris. Dengan waktu yang singkat, sekitar 10-14 hari, kita dapat merasakan perbedaan antara sebelum belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris dengan sesudahnya. Perubahan yang saya rasakan sendiri yaitu adanya rasa percaya diri untuk berbicara menggunakan Bahasa Inggris dan bertambah pengetahuan mengenai pronunciation Bahasa Inggris. Kelemahan saya memang pada dua hal tersebut.

Pembelajaran di sini secara serentak diselenggarakan selama 2 minggu sekali. Jadi, satu mata pelajaran akan terus dipelajari selama kurang lebih 2 minggu. Setelah selesai, pembelajaran akan dilanjutkan ke materi selanjutnya. Sebagai contoh, saya mengambil materi speaking di 2 minggu pertama dan materi grammar di 2 minggu berikutnya. Awal periode pembelajaran selalu dilakukan pada tanggal 10 dan tanggal 25 pada setiap bulannya. Hari sabtu dan minggu biasanya libur, biasanya sih begitu. Hehehee…

Hal ketujuh,  kalau sudah jenuh belajar, tak ada salahnya refreshing sejenak. Di Pare ada beberapa lokasi yang dapat dikunjungi seperti Candi Surowono, Gua Surowono, dan alun-alun Pare.

Pintu masuk Candi Surowono
pemandangan dari depan candi induk
pemandangan dari atas candi induk
masuk gua surowono
Gua Surowono terletak di bawah tanah dan mengalir air di dalamnya

Oh ya, di Kampung Inggris (Desa Tulungredjo) ini sangat sulit menemukan minimarket. Kalau pun ada, lokasinya ada di Kecamatan Pare sehingga harus menggunakan sepeda atau kendaraan untuk sampai ke sana. Nah, kalau mall adanya cuma di kotanya saja, di Kota Kediri.

Hal kedelapan, udara Kampung Inggris bersih dari polusi asap kendaraan karena mayoritas yang tinggal di sana, baik pendatang maupun penduduk aslinya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Selain menyehatkan untuk diri sendiri, naik sepeda juga membuat lingkungan bersih, betul betul betul?

DSCF6223

Kalaupun mau menggunakan motor atau mobil, sangat jarang menemukan penjual bensin. Keberadaan pom bensin pun cukup jauh dari desa ini. Jadi, satu-satunya alternatif paling murah, hemat, dan tidak membuat polusi adalah sepeda.

Biasanya sepeda di Kampung Inggris disewakan dengan harga sekitar 50-90 ribu, bisa per bulan maupun per dua minggu. Karena banyak rental sepeda dan pengguna sepeda, jasa isi angin ban pun cukup banyak ditemukan di sini. Jadi, jangan khawatir kalau ban sepeda bocor.😉

Hal kesembilan, emm… apa lagi yak? Hahaha… mendadak lupa!😀 Kalau begitu cukup sekian dulu ya, nanti kalau saya sudah ingat akan diperbarui lagi.

 

UPDATE (PEMBARUAN)

Nah, buat yang suka jalan-jalan ada beberapa lokasi wisata yang sayang banget kalau dilewatkan. Lokasinya memang tidak di Pare, tapi tidak sayang kalau dilewatkan begitu saja. Hehehe…

1. Bromo

Lokasi Gunung Bromo dan Semeru ini berdekatan, tetapi biasanya yang dituju adalah Gunung Bromo. Ada bukit teletubies, pasir berbisik, dan lain-lain.

di gunung bromo

DSCF6380

2. Gumul, Kediri

Di Gumul ada bangunan yang sangat digemari orang-orang yang datang ke Pare untuk berfoto di sana. Menurut saya, gayanya memang unik, seperti bangunan di Eropa.

salah satu pojok gumul

salah satu sisi gumul

3. Coban Rondo, Malang

Coban Rondo merupakan sebuah air terjun yang terletak di daerah Malang. Saya mampir ke tempat ini sewaktu pulang dari Bromo. Banyak monyet berkeliaran secara bebas di daerah ini.

Camera 360
4. Omah Munir, Malang

Buat yang penasaran, siapa sih Munir? Baca lagi ya buku sejarahnya atau coba cari beritanya di internet. Di Omah Munir ini kamu bisa mengenal lebih dalam sosok Munir. Pakaian, sepatu, meja, ruangan, dan semua yang berhubungan dengan Munir ada di sana. Kalau saya sih sempet merinding ketika membaca runtutan kejadian menjelang kematian Munir.

20140121_180908
5. BNS, Kota Batu

Di sini semua happy! Ada taman lampion, aneka wahana bermain, dan sebagainya. Cocok untuk menghilangkan stres dan memuaskan hobi bergaya di depan kamera. Hehehe… (bukan promo loh ya)😀

20140121_202241
6. Taman Selecta, Malang

Taman yang katanya didirikan sejakn zaman Belanda masih menjajah tanah Jawa ini sangat indah. Ada kolam renang yang cukup besar dengan berbagai ukuran kedalaman. Selain itu, taman bunganya juga bagus, bunganya cantik-cantik. Silakan berfoto-foto sepuasnya di sini. ^^

20140121_161558

 

20140121_171813

di taman selecta, malang
7. Candi Panataran, Blitar

Salah satu candi yang terkenal di daerah Blitar. Candi Panataran terdiri atas candi induk dan candi anak.

DSCF6721

candi induk di komplek candi panataran

Camera 360
8. Rumah Soekarno, Blitar

Rumah pribadi Soekarno kini bisa kita kunjungi. Tentu penasaran kan seperti apa rumah Bapak Presiden RI ke-1 itu?

DSCF6653

DSCF6670

DSCF6698
9. Galeri Soekarno, Blitar

Di Galeri Soekarno ini kita dapat melihat foto dan lukisan yang berhubungan dengan Bapak Soekarno. Selain itu, di sini juga ada lukisan berdetak yang sangat terkenal. Kalau dilihat sekilas memang tidak berdetak, tetapi ketika dilihat cukup lama, apalagi dari sisi kanan atau kiri lukisan, terlihat seakan lukisan tersebut memang berdetak. Mengenai benar atau tidaknya saya tidak tahu. Tapi, mata saya memang melihat lukisan tersebut berdetak.

Di Galeri Soekarno, Blitar

berfoto di samping lukisan berdetak

Selain itu, di lokasi Galeri Soekarno ini juga ada makam Pak Soekarno. Tidak sedikit orang yang berziarah ke makan beliau.

DSCF6647

10. Lain-lain…

Selain tempat-tempat yang disebutkan di atas, ada juga tempat lainnya yang belum sempat saya kunjungi, salah satunya pantai. Jadi, bagi yang ingin ke pantai, di sini ada… ^^

 

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

17 thoughts on “Berbagi Pengalaman Tinggal di Kampung Inggris, Kediri

  1. jadi tertarik banget pengen pergi ke kediri, harus nabung biar bisa kesana.
    mbak Robita , makasih atas cerita pengalamannya.

    1. Saya tidak belajar di Elfast.
      Alhamdulillah target saya tercapai setelah belajar bahasa Inggris di sana..
      Akan tetapi, mengenai meningkat atau tidaknya kemampuan bahasa Inggris pembelajar, tergantung motivasi dan semangat si pembelajar itu sendiri..
      soalnya ada juga loh teman saya yang tidak dapat mencapai targetnya karena mungkin berpikir “susah” dulu sebelum mencoba.. padahal kalau dicoba dulu kan bisa aja jadi lebih mudah daripada yang dibayangkan.😉

  2. maaf kak boleh minta cp nya? ada yg mau sy tanyakan sedikit seputar kampung inggris..boleh line atau sms atau bbm. thankyou

    1. boleh aja…
      tp komen langsung di blog juga sebenernya lbh baik, biar pertanyaan yg sama tdk ditanyakan berulang-ulang oleh org yg berbeda.
      Gmn klo semua pertanyaan diposting di sini aja? Jgn via yg lain2..😉 Ok?

    1. @dini: Sebenarnya tidak pasti berapa-berapanya, soalnya setiap lembaga punya harga masing2…
      Kalau kemarin itu saya biaya les+asrama selama 1 bulan = 700ribu, belum termasuk makan/biaya kebutuhan sehari2.
      Terus, belum lagi biaya tak terduga seperti jalan2.. hahaha…

    1. @Ubai: hahaha.. iya dong asyik ^^ Ayo ke Pare, bukan Pare-pare loh ya, beda pulau soalnya! hehhehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s