Posted in Cerpen

[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu


Aku duduk di sana, memperhatikanmu yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Aku tahu siapa wanita tersebut. Dia adik kelas kita waktu SD. Sepertinya kenangan kita tak mudah untuk dilupakan walau pada awalnya aku dapat menganggapnya berlalu bergitu saja.

Ingatkah kau ketika teman-teman kita menyoraki kita?
Ingatkah kau ketika teman-teman kita memasangkan kita sebagai Kartini dan pasangannya?
Ingatkah kau masa ketika kau disukai banyak wanita karena rupamu?
Kuharap kau mengingatnya.

Aku mengenalmu sejak kelas IV SD. Kau menjadi ketua kelas pada saat itu. Aku bersama Lina dan Cicih duduk bersama, sedangkan kamu bersama Asep dan Agus. Kurasa di kelas IV tidak ada kenangan manis di antara kita. Aku masih ingat dengan jelas kapan rasa ini muncul, yakni pada saat kelas lima. Karena untuk yang keduakalinya kau terpilih sebagai ketua kelas dan aku sebagai sekretarisnya. Tentu banyak komunikasi yang terjalin karena status struktural tersebut. Terlebih pada saat itu kita juga dipasangkan sebagai Ibu Kartini beserta suaminya. Banyak orang yang bersorak kepada kita.

Aku dengan malu-malu berjalan di atas panggung dan kau berjalan di sampingku. What a nice moment that is.

Kelas VI, kita mengenal semakin jauh. Kita sama-sama lolos Porseni tingkat sekolah, kita maju ke tingkat kecamatan. Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Semangatku bertambah ketika kutahu kau lolos dari tingkat kecamatan dan maju ke tingkat kawedanan. Saat itu aku berusaha agar akupun bisa lolos sehingga kita bisa maju bersama lagi.

Keinginanku menjadi kenyataan. Kita lolos! Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Walaupun lapangan kita berbeda, tapi aku yakin semangat kita ada untuk satu sama lainnya, saling menyemangati dan saling mendukung.

Menurutku kelas VI menjadi pintu pembuka bagi kita untuk dapat saling mengenal lebih dalam lagi. Karena kuingat kau pernah meminta padaku untuk belajar kelompok bersama. Kau dengan kelompokmu mendatangi kelompokku untuk belajar bersama. Sebenarnya aku senang dengan hal itu, tapi Ayah Ibuku terlalu ketat dalam hal aturan. Mereka tidak akan membolehkan anak laki-laki berkumpul dengan anak perempuan, sekalipun alasannya untuk belajar bersama.

Apakah kau masih ingat tatkala itu kau memintaku keluar dari masjid untuk mengobrol sedikit hal? Aku masih mengingatnya betul. Kau duduk di atas raranjangan—tempat duduk yang terbuat dari bambu dan bentuknya memanjang seperti ranjang—di bawah tiang listrik. Teman-temanmu membawaku padamu. Kalau saat ini aku bayangkan kembali hal itu, rasanya sangat terlihat cinta monyet telah berkembang saat itu. Dengan malu-malu, aku melangkah menghampirimu.

Singkat cerita, kau menyatakan perasaanmu. Aku senang. Hatiku berbunga-bunga. Ya, mungkin beginilah cinta monyet. Kita berdua sama-sama menjadi monyet yang sedang malu-malu jatuh cinta. Monyet-monyet kecil yang sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Monyet-monyet kecil jelmaan anak-anak yang sedang beranjak remaja.

Kelulusan SD sudah berlalu. Tiba saatnya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Kau kembali memintaku menemuimu. Dengan mengungkapkan hal yang sama, kali ini kau benar-benar mengharapkan jawaban dariku. Dengan membawa kakak sepupumu, kau berusaha menyakinkan bahwa kau ingin kita berada dalam satu jalinan, pacaran. Seketika itu, aku menjawab ‘ya’. Kemudian kita bercakap panjang lebar. Kembali dua orang monyet kecil sedang dilanda kebahagiaan merasakan cinta monyet.

“Hmm…” aku mencoba memulai pembicaraan.
“Makasih, ya,” ucapnya untuk memulai pembicaraan.
“Hah? Eh… Oh iya, hehe…” mulutku kaku sendiri, mungkin saking bahagianya, “boleh aku tanya sesuatu, gak?”
“Boleh, tanya apa?”
“Kenapa kau memlih aku?”
“Loh, emang kenapa?”
“Yaaa… enggak, tapi kan kamu tahu sendiri waktu SD saja banyak cewek-cewek yang suka sama kamu! Ada Susi, Suci, Ipah, Imas, dan Nur.”
“Ohh…” jawabnya sambil tersenyum-senyum, “terus kamu perasaannya gimana?”
“Yaa… sebenernya aku cemburu juga pas tahu sainganku begitu banyak. Aku juga gak melakukan banyak hal untuk menarik perhatian kamu. Tapi syukur deh, akhirnya kamu memilih aku,” kini nada suaraku lebih jelas daripada sebelumnya.
“Aku juga gak merasa lebih cantik daripada mereka,” sambungku.
“Enggak kok, kamu mirip Pretty Zinta,” jawabnya.

Hmm… bohong banget nih! Pretty Zinta kan artis Bollywood kesukaanku, dia cantik banget, tapi sekilas mirip Nirina Zubir juga sih. Cuman yaaa… lebih tinggi Pretty Zinta lah. Tapi dia tahu darimana tentang Pretty Zinta? Hmm…

“Jadi, sekarang kita…”
“Mm!” ia mengangguk tanda mengiyakan bahwa kita pacaran.

Dia pacar pertamaku, dia cinta monyetku. Kuharap dia juga cinta pertamaku. Kata orang, cinta pertama tidak akan mudah terlupakan.

***

 Setahun berlalu. Banyak hal yang menggoda hubunganku dengan dia untuk putus. Salah satunya, aku masih ingat hal ini dengan sangat-sangat jelas.

“Pit, kamu tahu gak, kemarin ada cewek cantik banget, namanya Gina, ngirim surat ke pacar kamu pake bahasa Inggris,” kata Saepul.
“Ah, masa sih?” tanyaku penasaran.
“Yeee… gak percaya, coba aja tanya sama Siti, kakak sepupunya itu!”

Sore harinya aku datang ke rumah Kak Siti.

“Kak, hehe.. apa kabar?” tanyaku basa-basi.
“Eh… Pipit, alhamdulillah kabar baik,” jawabnya, “ayo sini-sini masuk!”

Aku masuk ke rumahnya.

“Ada apa, nih? Kok tumben dadakan ke sini?” tanya Kak Siti.
“Enggak, Kak, cuma mau tanya kabar sama main aja ke sni, hehhe…”
“Oh iya, Pit, tahu gak, kemarin Dimas sakit. Dia sampe gak masuk sekolah.”
“Wah… iya gitu Kak? Sakit apa?”
“Demam aja sih kayaknya.”
“Ooh… terus-terus sekarang gimana kabarnya?”
“Sekarang sudah mendingan, tapi ini gak tahu orangnya ke mana ya? Tadi sih tiduran aja di sini.”
“Oohh… syukurlah kalau sudah sembuh.”
“Ada yang ngirim surat loh ke Dimas, Pit. Pakai bahasa Inggris pula! Kerena banget…”

Huh… Kak Siti nih sama aja kaya Saepul, panas-panasin aku untuk nulis surat pake bahasa Inggris! Aku emang belum bisa bahasa Inggris, tapi mulai saat ini aku akan belajar lebih giat lagi, lebih fokus lagi, dan lebih serius lagi supaya bisa nulis surat buat Dimas pake bahasa Inggris.

“Tapi Dimas gak ngebales suratnya, kok. Dia inget sama kamu,” lanjut Kak Siti.

Aku tersenyum malu mendengar hal tersebut.

***

 Aku dan Dimas memang tidak sekolah di SMP yang sama. Aku di SMP kabupaten, sedangkan dia di SMP kecamatan. Ayahku sengaja mengirimku jauh ke kabupaten agar aku tidak terpengaruh pergaulan di desa yang berdampak buruk untuk karir akademikku.

Dengan status LRD, Long Distance Relationship, aku dan Dimas mampu menjaga status pacaran kami selama tiga tahun. Hingga pada akhirnya kami harus berpisah karena Dimas ternyata tidak sebaik yang aku bayangkan. Status LDR membuatnya menaruh rasa pada gadis lain. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah teman dekatku sendiri, Susan.

Usai menyanyikan lagu “My Heart”-nya Acha Septriasa dan Irwansyah, aku menemui Dimas. Dengan menahan air mata, aku bilang padanya, “Kita putus!”

“Loh, putus kenapa, Pit?” tanya Dimas.
“Udah deh, gak usah pura-pura bego! Kamu baru aja nembak temen deket aku, kan? Kamu baru aja nembak Susan, kan? Susan sendiri kok yang bilang sama aku!”

Kutinggalkan Dimas saat itu juga.

***

 Delapan tahun kemudian.

Alhamdulillah… gelar sarjana kini sudah kudapatkan. Pekerjaan pun sudah ada di depan mata. Sebelum memulai kesibukan, rasanya ingin sekali pulang ke kampung halaman untuk rehat sejenak.

Di kampung halaman.

Aku terperangah sendiri melihat wajah-wajah baru di desaku. Banyak cowok-cowok muda yang ganteng-ganteng, fresh, dan… tunggu sebentar, rasanya aku mengenal wajah itu. Aku berpikir sejenak, tak perlulah berpikir lama-lama karena ini bukan soal matematika ataupun soal ujian masuk universitas.

Yaa Allah! Bukannya dia anak kecil yang waktu itu masih ingusan, benar-benar ingusan! Sekarang sudah remaja, ya? Subhanallah… jadi ganteng juga tuh anak! Hihihi…

Tidak hanya adik-adik kelas waktu SD, tetapi juga teman-teman dan kakak-kakak kelasku. Semuanya berubah. Mereka telah menjadi orang dewasa. Beberapa di antaranya sudah menggendong bayi dan bahkan ada yang sudah punya dua anak. Apakah aku menghilang terlalu lama dari kampung halamanku sendiri? Merantau untuk mencari ilmu membuatku tak merasakan bergitu lamanya waktu berjalan.

Satu lagi, wajah yang sangat tidak asing. Wajah yang pernah memberikan kebahagiaan di hatiku. Dimas. Dia muncul di hadapanku dengan senyum manisnya. Tapi, siapa gadis yang ada di sampingnya itu?

Kuberanikan diri menyapanya, “Hai…”

“Eh, hai…” dia tampak kaget melihatku.
“Apa kabar? Lama, ya, tidak bertemu?” tanyaku lagi.
“Mm… iya. Kamu sudah selesai sekolahnya?”
“Iya,” jawabku, lalu aku melihat ke gadis yang ada di sampingnya, “bukannya kamu Uwi, ya?”
“Oh iya, kenalin… ini Uwi, istri aku,” ucap Dimas.

Jleb! Hah, istri?

“Oh, udah nikah ya? Kok gak ada kabar? Hmm… kamu takut aku gak datang ya makanya gak ngundang aku sekalian? Ih jahat, ih!” aku berusaha tidak menunjukkan kekagetanku di hadapannya.
“Hehe, iya, maaf. Abisnya takut ganggu kuliah kamu. Aku malu sama kamu, aku cuma lulusan SMP,” jawabnya, “aku sudah dua tahun menikah dengan Uwi.”
“Ah kamu… harusnya kirim undangan atau kabar gitu, masalah aku datang atau tidak kan siapa yang tahu, iya kan?”
“Hehe.. iya, maaf.”

Tak mau berlama-lama ngobrol dengannya, aku pamit dari hadapannya.

“Aku mau pulang dulu, ya, capek nih baru datang dari Bandung, belum sampai ke rumah, hehe…”
“Oh iya, silakan.”

***

 Malam hari di sebuah hajatan tetangga.

Ibuku sedang tak enak badan. Beliau memintaku mewakilinya untuk datang ke hajatan tetangga di belakang rumah. Di sana mataku kembali tak berkedip. Ia melihat seseorang yang sudah lama dilupakan tapi masih ada di hati.

Aku kembali melihat dirimu. Kini tak berani kusapa lagi dirimu. Sudah ada dia, gadis manis yang kini berstatus sebagai istrimu di sisimu. Tadinya, kupikir kita berjodoh, tapi ternyata tidak. Tak apa, mungkin ini kehendak Allah yang terbaik untuk kita berdua. Kalau memang kita berjodoh, walaupun di dunia tak bersatu, mungkin di akhirat kita bisa berjodoh. Tapi, semuanya kembali ke pribadi kita masing-masing. Aku akan menjaga imanku agar aku bisa masuk syurga. Kau pun harus demikian, kau harus rajin ibadah supaya bisa masuk syurga. Kelak di syurga kita bisa bertemu lagi, kalau Allah mengizinkan.

 Thank you for our friendship. I’ll save every memories between us.

Lamunanku menghilang. Semua kembali pada dunia fana. Kulihat di dekat ruang prasmanan ada Uwi yang sedang melihat ke arahku. Aku tersenyum padanya, tapi ia tak membalas. Maaf, aku tidak sengaja, Wi.

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

One thought on “[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s