Posted in artikel, Cerpen, umum

Beautiful Autum in Australia


Musim gugur penuh warnaMusim gugur, aku tidak pernah merasakan musim ini sebelumnya karena Indonesia tidak mencantumkan musim gugur dalam daftar musim tahunannya. Indonesia hanya memiliki musim hujan dan musim kemarau. Di antara musim hujan dan kemarau pun tidak ada musim gugur di dalamnya, hanya ada pancaroba yang dirasa penuh keluh kesah oleh sebagian orang karena pada musim ini daya tahan tubuh manusia menjadi lebih lemah daripada biasanya, begitu menurut pengalaman sebagian orang.

Saat ini aku tinggal di luar Indonesia. Di salah satu negara bagian yang terletak di benua terdekat dari Indonesia. Aku tidak sedang di Cina karena Cina tidak memiliki negara bagian, tidak pula di Eropa karena Eropa cukup jauh dari Indonesia. Amerika? Apa lagi, jauuuuhhhhh!!!

Aku saat ini berada di Australia. Ya, aku berada di Australia, lebih tepatnya di negara bagian Victoria.

Waktu kecil, aku tidak pernah membayangkan untuk pergi ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, mempelajari bahasa asing pun aku tidak berminat. Mungkinkah karena aku terlalu mencintai Indonesia sehingga membuat aku menutup diri dari pengaruh luar? Atau mungkin karena waktu itu aku masih terlalu kecil sehingga pikiranku belum seterbuka sekarang?

Keberadaanku di sini adalah sebagai asisten guru bahasa, lebih tepatnya asisten guru bahasa Indonesia. Waktu aku menyusun skripsi, berdasarkan informasi yang aku dapat dari hasil penelitian Rivai yang berjudul Pemetaan Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing di Asia disebutkan bahwa Australia merupakan negara terbesar pertama yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada warganya, lalu diikuti dengan Jepang sebagai negara kedua yang paling banyak menyelenggarakan pengajaran Bahasa Indonesia. Berangkat dari data yang aku peroleh pada waktu menyusun skripsi itulah aku berkeinginan untuk menjejaki BIPA di Australia.

Beruntung, karena keberadaanku di sini sebagai asisten guru bahasa Indonesia, aku berkesempatan untuk mengikuti salah satu konferensi besar di sini. Aku mendaftarkan diri untuk menghadiri konferensi tersebut bersama guru bahasa Indonesia di sekolah tempat aku bekerja. Tidak hanya aku seorang diri, teman-temanku pun mengikuti konferensi tersebut. Tidak lupa kami memberi tahu rencana kami menghadiri konferensi tersebut kepada Bu Rini, penanggung jawab Indonesian Language Assistant dari DET (Departement of Education and Training). Setelah berdiskusi dengan beliau, kami disarankan untuk hadir tidak hanya sebagai peserta konferensi, tetapi sebagai pemateri. Wow, kaget banget! Bingung, tapi pengen juga sih hadir sebagai pemateri, tapi bingung mau menyampaikan apa. Ujung-ujungnya minta saran lagi kepada Bu Rini. Alhamdulillah, sebuah ide manis aku dapatkan setelah diskusi lagi dengan beliau dan dengan teman-temanku yang manis-manis kaya gula pasir.

Hari H telah tiba. Aku berangkat pagi-pagi dengan guru bahasa Indonesia di sekolahku. Setelah daftar ulang, mendapatkan kartu nama, dan agenda konferensi, kami bersiap-siap untuk menyajikan presentasi yang bagus, tetapi sederhana dan mudah diterima oleh peserta konferensi. Detik-detik menjelang konferensi, perasaan dan pikiran semakin cemas. Bukan cemas karena materinya, tetapi cemas apakah akan ada peserta konferensi yang memasuki ruangan kami. Hm… pasrah deh, kalau tidak ada peserta ya mau gimana lagi?

Presentasi di Konferensi VILTA

Di luar dugaan, ternyata satu per satu peserta konferensi memasuki ruanganku, bahkan lebih banyak dari yang aku perkirakan. Oke, presentasi dimulai. Tak lupa aku dan teman-teman mengajak peserta konferensi untuk praktik bersama. Materi presentasi yang kami bawakan yaitu mengenai kegiatan pembelajaran BIPA dengan melibatkan kegiatan kebudayaan, khususnya tari Saman asal Provinsi Aceh. Alhamdulillah peserta konferensi terlihat antusias dan menikmati presentasi yang kami bawakan.

Hm… panjang juga ya cerita mengenai konferensi VILTA (Victorian Indonesian Language Teacher Association). Alhamdulillah, pokoknya alhamdulillah atas kesempatan dan pengalaman tersebut.

Kebanggaan muncul dalam benakku sebagai penutur asli bahasa Indonesia. Melihat banyaknya pengajar bahasa Indonesia yang menghadiri konferensi VILTA, aku berdecak kagum tiada henti. Mereka bukan penutur asli bahasa Indonesia, tetapi mereka mengajarkan bahasa bangsaku, bahasa Indonesia. Yang kulihat di konferensi itu bukan jumlah keseluruhan, melainkan hanya sebagian saja. Wow!

Aku merasa keberadaanku di sini merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan. Aku sangat senang. Alhamdulillah, segala puji dan syukur kupanjatkan hanya kepada Allah Swt. yang telah mengizinkan salah satu mimpiku terwujud.

Oke, kembali ke musim gugur.

Ini adalah bulan ketiga bagiku. Tidak ada lagi keterkejutan terhadap cuaca dan toilet. Kenapa toilet? Ada apa dengan toilet di Ausie?

Mau aku ceritakan? Beneran? Oke… aku tulis ya, baca dengan saksama! Hehee…

Kalian tentu tahu bagaimana toilet di Indonesia, walaupun toilet duduk, kita tetap perlu air untuk membersihkan bagian yang harus dibersihkan. Nah, di sini tidak menggunakan air untuk (maaf) cebok, cukup pakai tisu. Toilet semacam ini disebutnya toilet kering, sedangkan toilet yang kita miliki di Indonesia disebut toilet basah (karena becek di mana-mana, walaupun beceknya itu hanya beberapa tetes air yang jatuh ke lantai). Masa-masa pertama menggunakan toilet di sini tentunya tidak nyaman, wajar… kan berbeda banget sama toilet di Indonesia. But now, everything was ok for me.

Kembali ke cerita musim gugur. Musim gugur merupakan musim peralihan dari musim panas ke musim dingin. Aku sangat bersyukur ada musim gugur di antara musim panas dan musim dingin. Bagiku, musim panas saja terasa dingin, apalagi musim dingin! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada musim gugur di antara musim panas dan musim dingin. Kumanfaatkan musim gugur sebagai masa-masa latihan untuk tubuhku, latihan untuk mempersiapkan diri menyambut dinginnya musim dingin yang akan tiba sekitar bulan Juni nanti. Aku berusaha tidak menggunakan penghangat ruangan agar tubuhku terbiasa dengan suhu dingin, selain itu untuk menghemat listrik juga sih, hehehe…

Pada musim ini, dingin akan menyapa tubuh pada dini hari dan malam hari. Siang hari akan terasa lebih hangat, terlebih lagi kalau kita berada di bawah hangatnya sinar matahari, beeeuuhh… enak banget! Kini aku tahu mengapa bule-bule pada senang berjemur di bawah sinar matahari.

Adanya musim gugur ini membuatku berpikir dan menyadari bahwa begitu sayangnya Allah Swt. kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Coba bayangkan kalau Allah Swt. tidak menyediakan musim gugur sehingga dari musim panas langsung ke musim dingin, lalu ke musim panas lagi, lalu ke musim dingin lagi. Hellooooo…. apa kabar manusia?

Tubuh manusia  itu perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Beruntung pula masa setiap musim di sini sama panjangnya, 3 bulan untuk masing-masing musim. Subhanallah, Allah itu maha-adil banget ya. Coba kalau musim gugur hanya berumur beberapa minggu saja, lalu setelah itu dilanjut musim dingin yang durasinya lebih dari 3 bulan. Tiga bulan musim dingin saja sudah dirasa terlalu lama, begitu menurut tuturan warga sini yang aku temui.

Di musim gugur, pohon-pohon mematangkan daun-daunnya untuk mempersiapkan diri menyambut musim dingin. Tidak semua pohon, mungkin hanya jenis-jenis tertentu saja. Musim gugur itu penuh warna, penuh keindahan, penuh angin pula…. ngaguludug angina! Daun-daun yang berjatuhan menjadi salah satu penghias alami indahnya musim gugur di sini. Di sinilah letak salah satu keindahan musim gugur. Beautiful autum.

Sejauh musim gugur yang aku alami di sini, ada satu fenomena menarik yang terjadi di Australia, yaitu fenomena berkurangnya waktu 1 jam sejak tanggal 5 April. Jadi, di sini itu ada yang namanya day light saving sehingga perbedaan waktu antara Australia dan Indonesia mencapai 4 jam. Tapi sejak tanggal 5 April pukul 3 dini hari, tidak ada lagi day light saving sehingga perbedaan waktunya hanya 3 jam. Aku menyaksikan sendiri hal ini bersama temanku, Pia. Saat itu kami berada di bandara Tullamarine, Melbourne. Dengan mata mengantuk dan kepala ingin tidur, kami berusaha untuk tetap sadar karena ingin melihat sendiri waktu di handphone mundur satu jam. Hasilnya, ternyata benar loh jamnya mundur satu jam, yang seharusnya dari 2.59am itu jadi 3.00am, ini malah 2.59am jadi 2.00am. Tapi khusus jam digital yang ada di handphone sih, kalau jam dinding atau jam tangan harus dimundurkan sendiri oleh kitanya. Daaaaaannn… mundurnya waktu satu jam di sini berbarengan dengan fenomena alam lain, yaitu gerhana bulan.🙂

Duh, bingung mau cerita apa lagi, hilang konsentrasi gara-gara banyak chatting-an di Facebook!😦

Ya sudahlah, kita lihat foto-foto hasil jepretan aku saja ya, lagi seneng potret sana potret sini gara-gara mainnya sama yang punya kamera terus, Ceuceu Tiara ama Kakak Pia maksudnya. Hehehee… Foto-foto berikut ini diunggah tanpa melalui proses edit-editan.

DSCF8128

DSCF8127

DSCF8144
Berhubung musim gugur itu identik dengan daun yang berguguran, nih aku fotoin daun-daun yang sudah gugur dari pohonnya.🙂

DSCF8146

DSCF8130

IMG_9177

tiara

IMG_9213

IMG_9211

beautiful autum

Nah, foto selanjutnya hanya iseng-iseng aja, pengen dapet foto yang bagus tapi pake kamera digital, mencoba mempraktikkan teori yang didapat dari Kakak Pia Adzkia Mecca.😀
Klo hasil jepretannya bagus, monggo dipakai wallpaper laptop. ^^

DSCF8141

DSCF8140

DSCF8139

DSCF8132

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here show you my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

5 thoughts on “Beautiful Autum in Australia

  1. Halo Robita, wah seneng baca ceritanya., btw di Australia musim gugurnya april, musim dinginnya Juni ya, beda banget ya ternyata sama Hokkaido

  2. Ter Robita, ini dengan Putri adik tingkat teteh di UPI. Boleh saya minta kontaknya teh? Line, bbm, atau sejenisnya. Soalnya ada yang mau saya tanyakan. Terima kasih.

    1. Makasih Ayu…
      sukses juga buat ayu ya, semoga lancar kegiatan-kegiatannya, salam hangat… -robita-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s