Posted in artikel, Opini

Saat Orang Tua dan Anak Tak Sejalan


Kali ini aku mau bercerita tentang hubungan anak dan orang tuanya ketika mereka tak sejalan.

Hubungan anak-orang tua tak selamanya mulus, sama seperti hubungan-hubungan lainnya. Ada kalanya hubungan orang tua dengan anak dibumbui masalah atau perdebatan yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Ada banyak masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua, salah satunya ketika anak memiliki pola pikirnya sendiri yang cukup berbeda dengan pola pikir orang tua.

Suatu ketika, seorang anak berada di tingkatan terakhir masa kuliahnya. Ia berusaha keras agar dapat lulus tepat waktu, seperti yang diharapkan. Akan tetapi, rencana hanyalah rencana karena kadang-kadang ada beberapa hal yang terjadi di masa depan yang tidak terduga terjadi. Akibatnya, rencana ya hanya rencana, jalan penelitian tidak sesuai ekspektasi.

Pak, Bu, saya ingin sekali bilang kepada Bapak dan Ibu, saya di sini benar-benar belajar. Belajar menjadi peneliti, belajar menjadi pakar, belajar bertanggung jawab dengan ilmu yang saya dapatkan, dan belajar menjadi seseorang yang berguna serta jujur. Saya tidak ingin sekadar lulus lalu menyandang gelar, Pak. Saya ingin lebih dari itu, yakni tanggung jawab dan profesional.

Beberapa orang tua kurang sabar dengan proses yang dijalani anaknya, bahkan kadang ada juga yang memutuskan jalan si anak dan membawanya ke jalan yang lain sesuai dengan rencana si orang tua.

Selain itu, setiap anak punya karakter dan caranya sendiri. Yang perlu orang tua lakukan hanyalah dukungan, baik tersurat maupun tersirat, baik secara materi maupun nonmateri. 

Bagi saya, menjadi peneliti adalah hal yang serius. Saya tidak bisa dan tidak boleh main-main dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu, Pak, Bu, berikan saya ruang sendiri agar dapat menemukan diri saya sendiri di sana, agar dapat menemukan jalan keluar, dan agar dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab, khususnya terkait dengan penelitian yang saya lakukan ini.

Di sisi lain, orang tua juga kerap melihat anaknya dengan sudut pandang orang lain. Hal inilah yang kadang membuat anak stres dan merasa orang tuanya seperti bukan orang tuanya sendiri. Saya tidak tahu apakah orang tua mengetahui hal ini atau tidak.

Anak yang sudah tumbuh dewasa juga tidak dapat disaturuangkan dengan saudaranya, baik dengan umur yang berdekatan maupun dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Alasannya adalah alasan paikologis.

Simpulannya, orang tua hendaknya lebih bersabar dalam menghadapi proses yang dijalani anaknya. Sebaiknya orang tua tidak menekan atau memaksakan kehendak dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sifatnya menghancurkan atau melemahkan rasa percaya diri anak. Selain itu, orang tua juga harus lebih selektif dalam memilih kata-kata. Akan tetapi, hal ini tak berarti orang tua percaya begitu saja dengan anak. Bingung ya? Haha… Kalau mau tahu lebih jelasnya, tanyakan kepada psikolog atau pendidik-pendidik, khususnya di jurusan Bimbingan Konseling.

Mudah-mudahan opini saya kali ini bermanfaat ya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca opini ini.

Advertisements

Author:

I'm Robita, an Indonesian girl who loves writing than speaking, loves singing and playing music, and prefers to be quiet than arguing. All my posts here are describing my skills in writing related to my age, my knowledge, my experience, my hobby, and my interest at that time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s