Diposkan pada artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Surat untuk Ibu Kartini


Sebagaimana surat-surat yang biasa aku buat, kubuka surat ini dengan salam, assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh.

Ibu, pada hari ini, 20 April 2018, aku ingin menyampaikan sesuatu untukmu. Aku telah membaca beberapa suratmu yang kini telah dibukukan dan dibahasaindonesiakan dengan baik -oleh mereka yang kuyakini sebagai salah satu pengagum beratmu-.

Ibu, dalam salah satu suratmu, engkau menulis menulis bahwa engkau ingin sekali pergi ke Eropa. Dapat kubayangkan, betapa terkungkungnya dirimu kala itu.

Ibu, hari ini kusampaikan, melalui jasadku ini, cita-citamu itu telah terpenuhi. Aku, seorang gadis Indonesia, sama sepertimu, Bu. Hari ini aku berdiri di bumi Eropa, tepatnya di Jerman, membawa nama Indonesia. Walau bukan tanah Belanda yang kujejak, tapi Jerman juga Eropa.

Ibu, aku sangat mengidolakan salah seorang yang jenius asal Indonesia, namanya Pak Habibie. Beliau dulu sekolah di negeri ini, Jerman. Aku sangat senang ketika kesempatan itu datang seperti pelangi pasca-hujan. Kalau kedatangan Pak Habibie ke Jerman adalah untuk studi, kedatanganku ke sini adalah untuk mengajar. Ya, aku datang ke sini sebagai dosen tamu untuk kelas Bahasa Indonesia di Konstanz University of Applied Sciences. Nanti aku ceritakan selengkapnya, Bu. Yang jelas,  kegiatanku di sini adalah sebagai wujud nyata dari Undang Undang No.24 Tahun 2009, pasal 44 ayat (1).

Oh ya, Bu, di sini aku juga bertemu dengan seorang perempuan Eropa, dia sangat baik. Memang bukan Stella, teman yang sering kau kirimi surat, tetapi dia perempuan lain. Dia perempuan Swiss, Bu. Aku pernah menceritakan tentangmu kepadanya dan dia sangat penasaran tentang dirimu. Sayangnya buku berisi surat-suratmu itu belum tersedia dalam bahasa Jerman.

Ibu, kalau aku boleh menebak, tentu, besar keinginanmu untuk dapat pergi ke Eropa dan mendapat banyak pengalaman baru. Ibu, entah bagaimana tapi seolah eksistensiku di sini adalah untuk mewakili kehadiranmu. Aku datang ke bumi Eropa untuk mengenalkan dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka, mahasiswa Eropa. Bahasa Indonesia saat ini sedang diajarkan di banyak negara di dunia, Bu. Aku hanyalah salah satu dari pengajar bahasa Indonesia yang dikirimkan ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia.

Aku ingin bercerita sedikit mengenai kegiatanku di sini, Bu, tidak keberatan, kan?

Jadi begini, Bu, pemerintah Indonesia, tepatnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Pusat Pengembangan Strategi Diplomasi dan Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyelenggarakan program pengiriman pengajar BIPA ke luar negeri. Program ini sudah berjalan selama beberapa tahun belakangan ini. BIPA itu sendiri adalah singkatan dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Jadi, Bu, hari ini bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari dan diperlukan oleh orang Indonesia, Bu, tetapi juga oleh orang lain dari negara lain. Tidakkah kau bangga dengan bahasa dan bangsa ini, Bu?

Oh ya, Bu, sekarang perempuan Indonesia sudah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Perjuanganmu melalui tulisan-tulisan yang kau kirimkan kepada teman-temanmu di Eropa telah memberikan dampak terhadap perempuan Indonesia di masa sekarang. Banyak perempuan Indonesia sukses dan bahkan lebih hebat daripada laki-laki. Tapi, aku tak ingin membicarakan dan membandingkan antara siapa yang paling hebat. Seperti yang kau tulis dalam suratmu, tujuanmu menginginkan hak yang sama dengan laki-laki adalah bukan untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk mendapat manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kaum perempuan itu sendiri. Aku hanya ingin memberi tahu Ibu bahwa sekarang banyak perempuan Indonesia yang hebat, yang dapat berdiri di kakinya sendiri, mewujudkan cita-citanya, mandiri, dan percaya diri. Aku berharap Ibu bangga dengan perempuan Indonesia era sekarang.

Satu lagi, Bu, sekarang perempuan Indonesia dapat sekolah setinggi yang mereka mau, sejauh yang mereka mampu, dan meraih cita-cita yang didambakan. Tak sedikit perempuan Indonesia yang kini menjadi orang sukses dalam takaran kesuksesannya masing-masing. Tidakkah kau bangga dengan hal itu, Bu?

Ibu, surat-suratmu itu tidak hanya memberi kesempatan untuk perempuan Jawa, Bu, tetapi perempuan Indonesia secara keseluruhan. Bukan hanya kesempatan untuk bersekolah, tetapi kesempatan dalam bidang lainnya. Terima kasih kuucapkan atas keberanianmu dalam mengirimkan surat-surat itu. Tanpa surat-surat itu, tentu keadaan kami hari ini tak akan sama.

Bu, aku ingin bercerita banyak tentang Eropa, tetapi satu suratku ini tampaknya tak akan cukup untuk memuat seluruh pengalamanku (sejauh ini) di Eropa. Bu, di sini, di Jerman saat aku mengetik surat ini, adalah pukul 23.44, Bu. Enam belas menit lagi adalah ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Bu.

Surat ini tampaknya harus kuakhiri karena akan membuatmu bosan kalau kuteruskan. Satu hal yang ingin kukatakan sebelum kututup surat ini. Aku adalah perempuan Indonesia. Di mana pun aku berada, jiwaku tetap Indonesia, dan jejakku adalah untuk Indonesia. Walau tak banyak yang kulakukan untuk Indonesia, tetapi dalam kesenyapan, tanpa sorotan media, kulakukan semampuku untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. Aku ingin menginspirasi banyak orang atau setidaknya orang-orang terdekat di sekitarku. Semoga aku mampu.

Akhirnya, kututup suratku ini dengan salam, wassalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh.

Salam hangat,

Robita

Iklan
Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Puisi untuk adikku


Dik, tak terasa waktu telah membawamu beranjak dewasa

Aku masih ingat betul saat pertama kali ibu membolehkanku menggendongmu

kau masih begitu rapuh

Matamu yang sayu, kulitmu yang putih lembut, dan wajahmu yang menggemaskan

membuat aku ingin selalu berada di dekatmu

Dik, aku masih ingat betul saat salah satu kawanku menjahili aku

Lalu tiba-tiba kau menangis seolah tak rela kakakmu disakiti

walau kutahu kawanku itu hanya bercanda

tapi jiwamu yang polos itu tentu belum memahaminya

Dik, tahukah kalau aku begitu bahagia saat Ibu bilang aku punya adik?

Adikku yang cantik, kau sungguh cantik, pun dengan adikmu. Tapi sekarang kita tak sedang membicarakan si bungsu.

Dik, tahu tidak

kadang-kadang kamu rese karena selalu ingin gabung dengan teman-temanku

atau merengek minta ikut ke manapun aku pergi

Tapi sungguh tak ada kebencian sedikitpun di hatiku

Walau mungkin kau tak tahu

Dik, di benakku kau masih anak kecil berumur lima tahun

Mungkin karena pada saat itulah kita berpisah

Aku merantau saat kau masih berusia lima tahun

Aku menjauh tanpa kusadari

Tapi sungguh, ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku lakukan hanya denganmu

Dengan adikku yang masih berumur lima tahun
bermain bersama
pakai baju dengan motif sama
menghabiskan waktu bersama
tapi kita tak boleh menyesalinya
karena takdir Tuhan tak pernah salah

Dik, hari ini kamu bertambah usia
Dua puluh tahun

Kepalamu jadi dua sekarang
Bukan dua sekadar angka dua,
tapi dalam banyak makna

kau akan segera mengetahuinya seiring berjalannya waktu
hadapilah dengan sabar dan tawakal

Dik, kalau kau kehilangan jejak,
kakakmu ada di sini
mungkin bukan dalam artian jarak
tapi aku akan selalu ada, insyaallah.

Jangan sungkan, Dik!

Dik, percayalah dengan dirimu sendiri
Tataplah masa depan
Menataplah dengan bangga dan yakin

Jadilah diri sendiri!
Melangit, tapi membumi!
Aku yakin kau bisa.

Selamat ulang tahun, adikku.
Semoga Allah selalu melindungimu.
Semoga Allah selalu memudahkan jalanmu.
Semoga Allah selalu menyayangimu.

Salam hangat dari Konstanz.

Jerman, 16 April 2018

Robita

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia

Boots-ku Jebol (Lagi)


Hari ke-6 di Jerman. Cuaca cukup cerah hari ini. Tapi, melihat boots yang sudah kubawa dari tanah air, yang sebenarnya dibeli di negeri kanguru dan sudah mendekam di lemari selama kurang lebih 2 tahun, kupakai juga hari ini.

Yap! Si boots yang dari permukaan luar sudah semi berjamur, tetapi masih bagus di bagian dalam itu aku pakai hari ini. Cuaca cerah tak menghalangiku. Dalam pikiranku aku berkata, “Bodo amat, Bit! Orang bule kan pada cuek, gak akan komen juga mereka!”

Haha… dan akhirnya kupakai si boots andalanku itu.

Cerita punya cerita, sebenarnya boots ini adalah boots kedua, tapi boots yang sama. Bingung? Oke, jadi begini ceritanya…

Di pertengahan musim dingin di Australia, saat dua temanku sudah bergaya dengan boots andalan masing-masing, aku masih belum punya boots. Aku masih mengandalkan si Nike-ku, sebuah running shoes. Tapi, rasanya “ateul” gak pake boots kaya teman-temanku. Hahaha… Akhirnya, dalam sebuah perjalanan menuju pusat Kota Melbourne, aku dan teman-temanku mampir ke beberapa toko di Jalan Sydney di Melbourne. Di sanalah aku menemukan boots ini. Boots berwarna coklat dengan bulu-bulu halus di dalamnya. Harganya sekitar 70$ Australia. Itupun sudah mendapat diskon.

Nah, dengan bangganya boots itu aku pakai ke salah satu pusat perbelanjaan di Melbourne dan dalam kesempatan lain aku pakai ke Healesville Sanctuary. Dua kali dipakai dalam waktu kurang dari seminggu. Kulihat bagian belakang boots-ku jebol. Hal ini aku ketahui setelah pulang dari Healesville Sanctuary.

Berhubung di Australia ada peraturan boleh menukar barang yang sudah dibeli dengan menunjukkan struk pembelian, kubawa boots itu ke toko di Jalan Sydney, Melbourne. Aku bilang bahwa aku membelinya sekitar 5 hari yang lalu dan aku baru memakainya 2 kali. Aku tinggal jauh dari sini, jadi untuk sampai ke toko ini perlu waktu yang “tumaninah”. Aku berusaha menjelaskan keadaanku dan keinginanku kepada si penjual.

Ternyata orang yang menjual boots di toko yang luasnya seluas Indomaret itu bilang bahwa dia bukan pemilik toko ini. Aku gak mau tahu juga ya, yang pasti aku beli boots ini di toko ini. Aku membawa bukti yang jelas, struk belanja.

Setelah diplomasi yang cukup alot, akhirnya dia bilang, “Oke, tunggu sebentar ya, saya tanyakan ke bos dulu.”

Aku menunggu dengan memasang wajah yang agak tegas, bukan wajah penuh senyum seperti biasanya. Hehe…

Setelah sekitar 10-15 menit, datanglah si pelayan toko dengan membawa kabar dari bosnya. Dia bilang, “Oke bisa ditukar. Nomor berapa?”

“Nomor 7,” kataku. Nomor 7 kalau di Indonesia sama saja dengan nomor 38. Sebenarnya aku lebih nyaman pakai nomor 7,5 alias nomor 39, tapi gak ada coy! Ya udah, berhubung nomor 7 muat, jadinya pakai nomor 7.

Singkat cerita, setelah berhasil menukar boots-ku yang seumur jagung itu dan mendapat boots yang baru, aku pulang ke Alexandra. Aku pulang dengan wajah gembira.

Tapi, selang beberapa hari musim dingin selesai, berganti ke musim semi. “Yaaahh… boots, kamu gak bisa ku pakai! Terlebih-lebih aku juga punya boots baru yang lebih praktis dan dapat dipakai dalam cuaca apapun.”

Akhirnya kusimpan boots itu. Aku berharap Allah memberiku kesempatan untuk berkunjung ke negara subtropis dan berkesempatan memakai boots itu lagi.


2018, aku mengunjungi Eropa, tepatnya Jerman, di akhir musim dingin.

“Yes! Aku bisa pakai boots ini lagi!” kataku gembira.

Eh belum genap 2 hari aku sampai di Jerman, salju telah mencair dan itu adalah pertanda musim dingin berakhir.

“Ya Allah… kok sedih ya, jauh-jauh dari Indonesia bawa boots. Boots-nya dibeli di Australia, belum sempat dipakai karena musim dinginnya selesai, eh… giliran sekarang dapat musim dingin cuma sehari.”

Sedih!

Tapi, hari ini, di hari ke-6 ini kuputuskan untuk memakai boots itu kembali. Bodo amat dengan apa yang orang pikirkan tentang penampilanku. Hahaha…

Aku menjalani hariku seperti biasanya. Datang ke kantor, duduk, kulepas boots-ku dan diganti dengan sandal sejenis sandal hotel, lalu mulai mengerjakan tugas di komputer.

Sorenya aku pulang naik bus. Tak lupa kupakai boots itu sebelum keluar dari ruang kantor. Setelah keluar dari kantor, aku langsung baik bus nomor 2 dan berdiri selama kurang lebih 5 menit, selebihnya aku lebih memilih duduk.

Setelah sampai di halte tujuan, Wollmatingen, aku berjalan menuju rumah. Sesampainya di rumah, kulepas boots itu. Nah, di sinilah aku baru sadar bahwa bagian belakang boots-ku jebol lagi! Sama seperti dulu, waktu baru 2 kali dipakai.

Bye bye boots!

Jadi, aku ada alasan untuk beli boots yang baru, kalau ada uangnya. Hehehe…

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Bukan Rama dan Sita


Ini adalah kisah Rama dan Sita. Sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk hidup bersama, saling mencintai, dan saling percaya. Rama yang tampan dan Sita yang cantik membuat banyak orang iri kepada mereka. Anugerah dewa yang tiada terkira.

Tapi, itu semua hanya kisah Rama dan Sita dalam dunia dongeng, dunia wayang, dunia imajinasi.

Pada kenyataannya, di abad ke-21 ini Rama dan Sita memiliki jalan hidup yang berbeda. Kemungkinan mereka berjodoh atau tidaknya adalah 50:50.

Rama yang masih terlahir dengan rupa tampan menawan, banyak memesona kaum Hawa. Tak sedikit wanita yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Sementara itu, Sita terlihat biasa saja, tapi ada aura keanggunan di dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari.

Di usia mereka yang sudah seperempat abad, Rama dan Sita berada pada tahap menanti jodoh. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya Rama menanti sesosok Sita datang menampakkan dirinya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tapi, semua itu hanya ada di dalam benak Rama.

Di sisi lain, Sita pun sedang menanti sang pujaan hati. Tapi, dari sekian ribu kaum Adam yang ia kenal, tak satu pun menarik hatinya. Sita masih menunggu. Ia menunggu sesosok Rama muncul di hadapannya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.

Suatu ketika, saat Sita bergabung dengan sebuah komunitas, ia bertemu seorang pemuda. Pemuda itu berwajah putih, berkacamata, terlihat kalem, berjaket hitam, dan begitu menarik di hati Sita hanya dalam hitungan detik. Tapi, Sita tak ingin langsung jatuh cinta begitu saja. Ia pun diam-diam memerhatikan pemuda tersebut. Seorang pemuda yang belum ia ketahui namanya.

Jadi, kawan, cerita ini akan mengisahkan romansa Rama-Sita di abad ke-21, dari sudut pandang Sita.

Sita duduk di sebuah kursi sambil menunggu acara perkenalan anggota baru di komunitas tersebut dimulai. Lalu, seorang gadis manis mengajaknya berkenalan.

“Hai, namanya siapa?” tanyanya menyapa sopan.

“Sita. Kamu?” jawabku sambil tersenyum.

“Rindu.”

“Rindu? Wah… nama yang bagus. Pasti Rindu dirindukan banyak orang, ya?”

“Ahaha… enggak juga kok,” sanggahnya tersipu malu.

“Namamu juga bagus! Sita. Nama yang terkenal di dunia pewayangan,” lanjutnya lagi.

“Ahaha… ya, banyak orang yang bilang seperti itu ketika pertama kali mendengar namaku. Mungkin ayah dan ibuku suka banget wayang, makanya mereka memberi nama ini,” jawabku sambil tertawa.

Tiba-tiba sosok pemuda yang tadi dilihat Sita mendekati mereka dan duduk di samping Rindu.

“Hai, aku Rama,” sambil mengukurkan tangan kepada Sita.

“Ih, nama kalian cocok ya!” goda Rindu.

“Apa sih… jangan gitu ah, nanti gue baper loh,” sanggahku malu.

“Aku Sita,” sambil menyambut uluran tangan Rama.

“Anggota baru juga ya?” tanya Rama.

“Iya,” jawabku, “Kakak sendiri?”

“Jangan panggil kakak lah, aku juga anggota baru di sini. Jadi, panggil saja Rama, ya,” jawabnya.

“Oh, oke, Rama.”

Ya Allah, kenapa aku deg-degan. Ah… jangan ge-er, Sita, jangan ge-er! Masa begitu saja sudah meleleh?

Sita berusaha keras untuk tidak canggung di hadapan Rama. Ia berusaha untuk bereaksi sewajarnya di depan Rama dan berusaha berteman dengannya.

“Eh, instagram kamu apa?” tanya Rama padaku.

Deg! Ya Allah, dia menanyakan instagramku? Aaaahhh… melayang…

Kalem, Sita, kalem! Jangan ge-er apalagi gugup! Kasih saja nama akun instagram kamu! Dengan begitu kamu bisa mengetahui dia lebih jauh lagi.

“Instagram aku ya? Sini aku ketikin aja,” jawabku sambil mengulurkan tangan agar Rama meletakkan gawainya di tanganku.

“Gak apa-apa, aku aja yang nulis,” kata Rama, “jadi nama instagram kamu apa? Lumayan nih, nambah followers, ahahaha…”

Sejak saat itu, Rama dan Sita menjadi teman. Rama bahkan menganggap Sita sebagai teman terdekatnya saat ini. Ia tak ragu menceritakan segalanya kepada Sita, termasuk tentang keluarganya, kisah percintaannya, dan masa kelamnya.

Sita merespons semua cerita Rama dengan simpati dan empati tinggi. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatiannya kepada Rama.

Rama merasa kalau Sita sangat hangat, baik, ceria, dan berhati lembut. Rama mulai merasa nyaman dengan Sita.

Suatu saat, Rama berkata kepada Sita, “Ta, menurut kamu si Bunga orangnya gimana ya?”

“Eh… Bunga? Memangnya kenapa?”

“Ah enggak, hanya ingin tahu aja, hehehe…”

“Hm… menurut aku sih dia baik, cantik, hm… apa lagi ya…” jawabku, padahal dalam hati, “ih… aku gak suka si Bunga, kayanya dia ngeselin deh!”

Setelah hari itu, Rama terus-menerus membicarakan si Bunga. Setiap kali bertemu Sita, selalu Bunga yang jadi topik pembicaraan Rama. Lama-kelamaan, Sita jenuh dengan cerita Rama. Apalagi ketika Rama mau menyatakan cinta kepada Bunga, Sita sangat kesal. Namun, kekesalan Sita rupanya tidak terdeteksi oleh Rama.

“Kamu yakin mau nembak Bunga, Ram?” tanya Sita.

“Yakin!” jawabnya penuh keyakinan, “tapi bukan nembak sih, lebih tepatnya memberi tahu dia bahwa aku suka sama dia, gitu…”

“Tapi dia sudah punya cowok loh!”

“Ya… mengenai itu biarkan Bunga yang memutuskan. Apakah dia mau tetap bersama cowoknya itu atau memilih aku.”

“Kamu gila, Ram!”

Kata-kata Sita tak digubris oleh Rama. Ia mengikuti apa yang hatinya katakan. Tak peduli dengan kenyataan bahwa si Bunga sudah punya pacar.

Rama memang gila!

Hari demi hari berlalu. Rama sudah mengungkapkan perasaannya. Sita penasaran dengan keputusan yang diambil oleh Bunga untuk Rama. Ia pun bertanya.

“Gimana, udah nembak Bunganya?” tanya Sita agak ketus.

“Bukan nembak, Ta. Aku kan cuma ngasih tahu dia kalau aku suka sama dia,” jawab Rama agak sabar.

“Ya… apapun itu! Jadi, bagaimana?” tanya Sita penasaran, “dia milih kamu atau pacarnya?”

“Awalnya dia bingung. Dia bilang dia masih cinta sama pacarnya. Jadi, meminta maaf tidak bisa menerima aku. Gitu katanya, Ta.”

“Oh… ahahahaha! Syukurlah! Lagian kalau Bunga sampai menerima Rama, cewek macam apa dia, masa pacarnya diputusin begitu saja hanya gara-gara ada yang suka sama dia. Hah! Baguslah, Bunga masih normal!” seringai Sita dalam hati.

“Lah… diketawain,” Rama bingung melihat respons Sita.

Setelah kejadian itu, Sita agak dingin kepada Rama. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya dari Rama. Ia berusaha untuk tetap ceria, merespons, dan membantu Rama.

Entah bagaimana hati Rama sebenarnya terhadap Sita. Kadang, Rama membuat Sita ge-er, galau, dan senyam-senyum sendiri. Tapi, tidak ada yang tahu maksud Rama sebenarnya apa.

Kadang Sita berpikir, apakah Rama menyukainya atau memang seperti itulah Rama terhadap semua perempuan.

Sita tidak ingin jatuh hati begitu saja. Ia perlu kepastian. Tapi, ia tak ingin dirinya yang aktif mencari tahu kepastian itu, ia ingin Rama menunjukkannya.

Setelah peristiwa penembakan yang gagal itu, Rama kembali memulai cerita barunya kepada Sita. Kali ini ia ingin Sita membantunya. Ia ingin Sita menjadi makcomblang untuknya.

Sita yang diam-diam menyimpan rasa kepada Rama, tentu saja ogah dengan permintaan tolong Rama.

Awalnya, Sita tidak memiliki rasa apapun terhadap Rama. Tapi, lama-kelamaan, seiring dengan seringnya mereka bertemu, seringnya mereka ngobrol, dan seringnya Rama curhat kepada Sita, rasa itu tumbuh menjadi sesuatu. Rasa itu tumbuh menjadi sebuah rasa yang penuh rasa.

“Ogah ah, Ram! Urusan kaya gitu ak gak mau ikutan,” tolak Sita.

“Yah… masa gitu sih ke aku, Ta? Ayolaaaaahhh… bantu aku, please!” bujuk Rama.

“Enggak! Aku gak mau ikut campur. Usaha aja sendiri!” tolak Sita sekali lagi.

Dengan penolakan bantuan dari Sita, tampaknya episode romansa Rama kali ini berakhir di sana. Benih rasa tak berkembang menjadi bunga cinta.

“Aku heran, kenapa Rama terus-terusan melihat ke arah gadis lain. Pernahkah ia melihat ke arahku? Apa yang ada pada diri orang lain yang tidak ada pada diriku? Rama aneh! Dia seharusnya melihat ke arahku juga!” gumam Sita.

Sita tahu bahwa Rama sebenarnya sedang menanti seseorang dalam hidupnya. Seseorang yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. Nah, Sita kan sedang menanti jodoh juga, kenapa mereka tidak dijodohkan saja ya?

Ah, tapi kenyataannya Rama tidak pernah melihat ke arah Sita. Mungkin bukan Rama jodoh Sita. Mungkin jodoh Sita di abad ke-21 ini Laksmana. Rahwana, atau tokoh lainnya yang belum Sita kenal.

Tapi, rasa untuk Rama itu masih ada, walau menipis karena tak pernah disirami butiran cinta dari Rama. Terlebih ketika Rama untuk yang ketigakalinya bercerita bahwa ia menyukai gadis lain. Seorang gadis yang tiga tahun lebih muda daripada Sita.

Lagi-lagi Rama meminta tolong agar Sita mau menjadi makcomblangnya. Sita geram. Ia tak dapat lagi membendung kekesalannya kepada Rama.

“Rama keterlaluan!”

Kali ini Sita benar-benar tak dapat membendung emosinya. Rasa simpati, empati, bahkan cinta yang ada untuk Rama kini berubah arah. Rasa itu kini berubah menjadi kekesalan dan kemarahan, bahkan kebencian.

Sorry, Ram. Aku beneran gak mau ikut campur urusan romansa kamu lagi!” Jawab Sita ketus.

“Ta, please, Ta,” pinta Rama.

“Bodo!”

Sita pergi meninggalkan Rama begitu saja. Kali ini Sita benar-benar pergi, menjauhi Rama sebisa mungkin, bahkan medsos dari Rama pun tak ia hiraukan. Sungguh, cinta telah berubah menjadi benci.


Beberapa bulan berlalu.

Sita tak ingin berlama-lama dalam kondisi ini dengan Rama. Ia ingin kembali berteman dengan Rama. Muncullah ide untuk menyapa Rama melalui whatsapp.

“Ram, apa kabar?” tanya Sita melalui whatsapp-nya.

Lama tak berespons. Beberapa jam kemudian Rama membalas.

“Baik, Ta. Kamu sendiri gimana?”

Alhamdulillah, baik juga.”

“…”

Percakapan mereka terhenti di sana, begitu saja.

Sita enggan memulai kembali obrolan dengan Rama. Baginya menyapa seperti itu saja sudah termasuk upaya yang besar untuk kembali menyambung silaturahim dengan Rama.

Entah apa yang ada dalam benak Rama. Ia pun tak ingin melanjutkan chatting-nya dengan Sita. Baginya Sita sudah berubah. Sita yang dulu ia kenal kini sudah tak ada. Pikiran tersebut terus berputar dalam benaknya tanpa melakukan konfirmasi dengan empunya nama.

Akhirnya, mereka hanya saling menunggu. Hanya itu yang mereka lakukan. Mereka menunggu takdir berikutnya terjadi walau pada akhirnya takdir yang mereka harapkan tak pernah terjadi. Mereka menjalani hidupnya masing-masing.

Sesekali Sita masih ingat tentang perasaannya terhadap Rama, tetapi rasa itu tak pernah tumbuh. Pupus seketika karena Rama benar-benar disibukkan dengan kehidupannya. Akhirnya, Sita pun menyerah dan mencoba menjalani hidup dengan normal, tanpa menghiraukan Rama lagi.

Rama tak pernah menghubungi Sita sejak saat itu, walaupun sesekali Sita muncul dalam mimpi Rama. Tapi, Rama benar-benar ingin fokus menjalani kariernya yang sempat hancur karena teman-temannya sendiri.

 

Cerita ini ditulis oleh Robita. Apabila pembaca ingin memuat ulang (repost) cerita ini di media manapun, harap menghubungi admin blog ini melalui posel r162.id@gmail.com. Terima kasih.

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia

Cinta: Sebuah Epilog


ke mana aku harus bercerita
saat langit dan bumi
enggan mendengarnya

ke mana aku harus bercerita
saat bulan dan bintang
manutup matanya

ke mana aku harus bercerita
saat angin dan badai
engga untuk membawanya

dan ke mana aku harus bercerita
tentang siapa dan bagaimana
tentang apa dan mengapa
tentang kapan dan berapa lama

mungkin
hanya bumi
yang bersedia menyimpannya
dengan nisan di atasnya

mungkin
hanya matahari
yang siap membakarnya
hingga tiada

tak ada lagi kehidupan
tak ada lagi ruang kosong
tidak pula ruangan ini penuh

hanya bibir yang bertemu
dengan dentuman nada yang tak beraturan
tanpa kata
tanpa rasa
SIRNA

Bandung, 16 Maret 2017
Robita

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga


Hai, Aku Anis. Saat ini aku adalah seorang siswa kelas satu SMA di Kota Tegal. Ini adalah petualangan baruku sebagai siswa SMA. Petualangan selama masa-masa SMP sudah kulewati dan  yaa… cukuplah, hehehe…

By the way, kamu tahu siapa gadis yang berkudung cokelat di sana? Dia adalah Indras. Temanku dari SMP yang sama. Aku berteman dengannya, berteman baik.

Pada saat pengumuman anggota kelas, ternyata aku dan Indras di kelas yang sama, kelas X-2. Kami bermain bersama, jajan bersama, kerja kelompok bersama, dan memutuskan untuk berada dalam satu grup yang sama untuk kemah di Moga minggu depan. Kata kakak kelasku, kami akan berkemah selama lima hari empat malam di sana. Tentu saja ini bukan perkemahan biasa bagiku.

Perkemahan yang diselenggarakan setiap peringatan hari Pramuka saja hanya tiga hari dua malam, nah yang ini malah lima hari empat malam. Ibuku agak khawatir dengan perkemahan yang akan kujalani ini. Tapi aku yakin aku bisa bertahan dan mengikuti kegiatan perkemahan dengan baik.

Berkemah merupakan salah satu kegiatan Pramuka yang paling paling paling aku sukai. Biasanya, kegiatan berkemah tidak hanya tidur dan makan di tenda, tetapi juga ada halang rintang, tebak sandi morse, ‘smaphore’, membuat ‘drakbar’, dan lain-lain. Semua yang ada di kegiatan perkemahan Pramuka aku suka.

“Ndras, kita sekelompok sama siapa nih?”

“Gak tahu, Nis.”

“Tapi kita tetep satu grup kan?”

Lanjutkan membaca “[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga”

Diposkan pada artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

TES UKBIPA-MEMBACA


Akhirnya rilis juga alat tes UKBIPA (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Tes ini hanya untuk pelajar asing Bahasa Indonesia. Saya berharap alat ini dapat membantu pembelajar asing untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan dalam bahasa Indonesia. Untuk komentar silahkan tulis di blog ini.
Terima kasih atas perhatian Anda.

Finally I release an instrument for Indonesian language test (UKBIPA). This test is just for Indonesian foreign learners. I hope this instrument will help Indonesian foreign learners to increase their reading comprehension skill in Bahasa Indonesia. For comments please write in this blog.
Thank you for your attention.

KLIK DI SINI UNTUK MEMULAI TES
CLICK HERE TO START THE TEST

*sebelum tes dimulai, Anda harus menunggu beberapa detik (before the test begins, you have to wait a few seconds).

Sebagai gambaran, lihatlah gambar-gambar di bawah ini! Lanjutkan membaca “TES UKBIPA-MEMBACA”

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Bagaimana Kalau


(oleh: Taufiq Ismail)

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, Lanjutkan membaca “Bagaimana Kalau”

Diposkan pada artikel, Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Kami Rindu Wayang Golek


Wayang golek merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia Indonesia, khususnya masyarakat di Pulau Jawa. Pada awalnya, wayang golek digunakan sebagai media untuk menyiarkan ajaran agama, karena kala itu masyarakat sangat suka dengan dongeng dan cerita-cerita. Segala penyampaian yang ditujukan kepada masyrakat disampaikan melalui wayang karena bersifat tidak menggurui atau menyuruh atau melarang secara langsung, tetapi secara halus, melalui cerita yang dikemas dengan menarik oleh dalang.

Saat ini, pergelaran wayang golek sudah jarang ditemui, walaupun itu di tanah Jawa. Wayang golek sudah tidak setenar pada masa itu. Kalaupun ada yang menonton, yang datang pasti kalangan tua saja, sedangkan anak mudanya bergumul di Organ Tunggal Dangdut kontemporer dengan penyanyi-penyanyi dangdutnya yang seksi-seksi. Sungguh miris! Lanjutkan membaca “Kami Rindu Wayang Golek”

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Aku Takut Jatuh Cinta



Di jalanan yang ramai itu aku tetap menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan lawan jenis yang nantinya merasuk dalam pikiranku. Pernah satu kali aku hampir menabrak ibu-ibu di sebuah belokan gara-gara menghindari kontak mata dengan setiap laki-laki yang lewat. Aku pun terkejut dan dengan segera aku meminta maaf kepada ibu tersebut.

“Duh, niatnya menghindari kontak mata dengan lawan jenis, tapi malah jadi nabrak ibu-ibu. Malu deh…” kembali kutundukkan wajahku.

Gara-gara sering menundukkan kepala saat jalan, aku bahkan sering dibilang sombong oleh teman-temanku karena tidak menyapa mereka.

“Ya Allah… kok serba salah ya? Apa caranya yang masih belum tepat?”

Aku takut jatuh cinta. Ya, aku takut jatuh cinta. Aku takut salah memilih cinta sehingga Lanjutkan membaca “Aku Takut Jatuh Cinta”

Diposkan pada artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Transkripsi, Transliterasi, dan Terjemahan Karya Sastra Kuno Indonesia


Tugas Matakuliah Sastra Nusantara
oleh Robita Ika A.

Karya sastra nusantara merupakan suatu kekayaan tersendiri bagi bangsa kita, Indonesia. Karya sastra nusantara yang notabenenya kuno ini secara eksistensi sudah tidak se-eksis dulu. Di Indonesia, kebudayaan bersastra dimulai dengan munculnya sastra melayu rendah. Salah satu sastra yang akan dianalisis kali ini adalah mantra. Mantra ini nantinya akan ditranskripsi, transliterasi, dan terjemahan. Transkripsi diperlukan untuk mengubah tuturan atau bunyi menjadi tulisan. Setelah tulisan yang biasanya menggunakan huruf Arab atau Palawa yang diubah menjadi huruf latin itu disebut transliterasi. Biasanya tulisan yang digunakan pada sastra kuno menggunakan bahasa daerah. Bahasa daerah itu diubah kedalam bahasa Indonesia, sehingga dimengerti disebut terjemahan.

Secara fisik, mantra-mantra yang biasanya berwujud lontar atau kitab ini sudah sangat langka. Di samping itu, sudah sangat sedikit orang yang dapat memahami artinya. Sementara orang awan cukup percaya Lanjutkan membaca “Transkripsi, Transliterasi, dan Terjemahan Karya Sastra Kuno Indonesia”