Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Bukan Rama dan Sita


Ini adalah kisah Rama dan Sita. Sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk hidup bersama, saling mencintai, dan saling percaya. Rama yang tampan dan Sita yang cantik membuat banyak orang iri kepada mereka. Anugerah dewa yang tiada terkira.

Tapi, itu semua hanya kisah Rama dan Sita dalam dunia dongeng, dunia wayang, dunia imajinasi.

Pada kenyataannya, di abad ke-21 ini Rama dan Sita memiliki jalan hidup yang berbeda. Kemungkinan mereka berjodoh atau tidaknya adalah 50:50.

Rama yang masih terlahir dengan rupa tampan menawan, banyak memesona kaum Hawa. Tak sedikit wanita yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Sementara itu, Sita terlihat biasa saja, tapi ada aura keanggunan di dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari.

Di usia mereka yang sudah seperempat abad, Rama dan Sita berada pada tahap menanti jodoh. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya Rama menanti sesosok Sita datang menampakkan dirinya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tapi, semua itu hanya ada di dalam benak Rama.

Di sisi lain, Sita pun sedang menanti sang pujaan hati. Tapi, dari sekian ribu kaum Adam yang ia kenal, tak satu pun menarik hatinya. Sita masih menunggu. Ia menunggu sesosok Rama muncul di hadapannya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.

Suatu ketika, saat Sita bergabung dengan sebuah komunitas, ia bertemu seorang pemuda. Pemuda itu berwajah putih, berkacamata, terlihat kalem, berjaket hitam, dan begitu menarik di hati Sita hanya dalam hitungan detik. Tapi, Sita tak ingin langsung jatuh cinta begitu saja. Ia pun diam-diam memerhatikan pemuda tersebut. Seorang pemuda yang belum ia ketahui namanya.

Jadi, kawan, cerita ini akan mengisahkan romansa Rama-Sita di abad ke-21, dari sudut pandang Sita.

Sita duduk di sebuah kursi sambil menunggu acara perkenalan anggota baru di komunitas tersebut dimulai. Lalu, seorang gadis manis mengajaknya berkenalan.

“Hai, namanya siapa?” tanyanya menyapa sopan.

“Sita. Kamu?” jawabku sambil tersenyum.

“Rindu.”

“Rindu? Wah… nama yang bagus. Pasti Rindu dirindukan banyak orang, ya?”

“Ahaha… enggak juga kok,” sanggahnya tersipu malu.

“Namamu juga bagus! Sita. Nama yang terkenal di dunia pewayangan,” lanjutnya lagi.

“Ahaha… ya, banyak orang yang bilang seperti itu ketika pertama kali mendengar namaku. Mungkin ayah dan ibuku suka banget wayang, makanya mereka memberi nama ini,” jawabku sambil tertawa.

Tiba-tiba sosok pemuda yang tadi dilihat Sita mendekati mereka dan duduk di samping Rindu.

“Hai, aku Rama,” sambil mengukurkan tangan kepada Sita.

“Ih, nama kalian cocok ya!” goda Rindu.

“Apa sih… jangan gitu ah, nanti gue baper loh,” sanggahku malu.

“Aku Sita,” sambil menyambut uluran tangan Rama.

“Anggota baru juga ya?” tanya Rama.

“Iya,” jawabku, “Kakak sendiri?”

“Jangan panggil kakak lah, aku juga anggota baru di sini. Jadi, panggil saja Rama, ya,” jawabnya.

“Oh, oke, Rama.”

Ya Allah, kenapa aku deg-degan. Ah… jangan ge-er, Sita, jangan ge-er! Masa begitu saja sudah meleleh?

Sita berusaha keras untuk tidak canggung di hadapan Rama. Ia berusaha untuk bereaksi sewajarnya di depan Rama dan berusaha berteman dengannya.

“Eh, instagram kamu apa?” tanya Rama padaku.

Deg! Ya Allah, dia menanyakan instagramku? Aaaahhh… melayang…

Kalem, Sita, kalem! Jangan ge-er apalagi gugup! Kasih saja nama akun instagram kamu! Dengan begitu kamu bisa mengetahui dia lebih jauh lagi.

“Instagram aku ya? Sini aku ketikin aja,” jawabku sambil mengulurkan tangan agar Rama meletakkan gawainya di tanganku.

“Gak apa-apa, aku aja yang nulis,” kata Rama, “jadi nama instagram kamu apa? Lumayan nih, nambah followers, ahahaha…”

Sejak saat itu, Rama dan Sita menjadi teman. Rama bahkan menganggap Sita sebagai teman terdekatnya saat ini. Ia tak ragu menceritakan segalanya kepada Sita, termasuk tentang keluarganya, kisah percintaannya, dan masa kelamnya.

Sita merespons semua cerita Rama dengan simpati dan empati tinggi. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatiannya kepada Rama.

Rama merasa kalau Sita sangat hangat, baik, ceria, dan berhati lembut. Rama mulai merasa nyaman dengan Sita.

Suatu saat, Rama berkata kepada Sita, “Ta, menurut kamu si Bunga orangnya gimana ya?”

“Eh… Bunga? Memangnya kenapa?”

“Ah enggak, hanya ingin tahu aja, hehehe…”

“Hm… menurut aku sih dia baik, cantik, hm… apa lagi ya…” jawabku, padahal dalam hati, “ih… aku gak suka si Bunga, kayanya dia ngeselin deh!”

Setelah hari itu, Rama terus-menerus membicarakan si Bunga. Setiap kali bertemu Sita, selalu Bunga yang jadi topik pembicaraan Rama. Lama-kelamaan, Sita jenuh dengan cerita Rama. Apalagi ketika Rama mau menyatakan cinta kepada Bunga, Sita sangat kesal. Namun, kekesalan Sita rupanya tidak terdeteksi oleh Rama.

“Kamu yakin mau nembak Bunga, Ram?” tanya Sita.

“Yakin!” jawabnya penuh keyakinan, “tapi bukan nembak sih, lebih tepatnya memberi tahu dia bahwa aku suka sama dia, gitu…”

“Tapi dia sudah punya cowok loh!”

“Ya… mengenai itu biarkan Bunga yang memutuskan. Apakah dia mau tetap bersama cowoknya itu atau memilih aku.”

“Kamu gila, Ram!”

Kata-kata Sita tak digubris oleh Rama. Ia mengikuti apa yang hatinya katakan. Tak peduli dengan kenyataan bahwa si Bunga sudah punya pacar.

Rama memang gila!

Hari demi hari berlalu. Rama sudah mengungkapkan perasaannya. Sita penasaran dengan keputusan yang diambil oleh Bunga untuk Rama. Ia pun bertanya.

“Gimana, udah nembak Bunganya?” tanya Sita agak ketus.

“Bukan nembak, Ta. Aku kan cuma ngasih tahu dia kalau aku suka sama dia,” jawab Rama agak sabar.

“Ya… apapun itu! Jadi, bagaimana?” tanya Sita penasaran, “dia milih kamu atau pacarnya?”

“Awalnya dia bingung. Dia bilang dia masih cinta sama pacarnya. Jadi, meminta maaf tidak bisa menerima aku. Gitu katanya, Ta.”

“Oh… ahahahaha! Syukurlah! Lagian kalau Bunga sampai menerima Rama, cewek macam apa dia, masa pacarnya diputusin begitu saja hanya gara-gara ada yang suka sama dia. Hah! Baguslah, Bunga masih normal!” seringai Sita dalam hati.

“Lah… diketawain,” Rama bingung melihat respons Sita.

Setelah kejadian itu, Sita agak dingin kepada Rama. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya dari Rama. Ia berusaha untuk tetap ceria, merespons, dan membantu Rama.

Entah bagaimana hati Rama sebenarnya terhadap Sita. Kadang, Rama membuat Sita ge-er, galau, dan senyam-senyum sendiri. Tapi, tidak ada yang tahu maksud Rama sebenarnya apa.

Kadang Sita berpikir, apakah Rama menyukainya atau memang seperti itulah Rama terhadap semua perempuan.

Sita tidak ingin jatuh hati begitu saja. Ia perlu kepastian. Tapi, ia tak ingin dirinya yang aktif mencari tahu kepastian itu, ia ingin Rama menunjukkannya.

Setelah peristiwa penembakan yang gagal itu, Rama kembali memulai cerita barunya kepada Sita. Kali ini ia ingin Sita membantunya. Ia ingin Sita menjadi makcomblang untuknya.

Sita yang diam-diam menyimpan rasa kepada Rama, tentu saja ogah dengan permintaan tolong Rama.

Awalnya, Sita tidak memiliki rasa apapun terhadap Rama. Tapi, lama-kelamaan, seiring dengan seringnya mereka bertemu, seringnya mereka ngobrol, dan seringnya Rama curhat kepada Sita, rasa itu tumbuh menjadi sesuatu. Rasa itu tumbuh menjadi sebuah rasa yang penuh rasa.

“Ogah ah, Ram! Urusan kaya gitu ak gak mau ikutan,” tolak Sita.

“Yah… masa gitu sih ke aku, Ta? Ayolaaaaahhh… bantu aku, please!” bujuk Rama.

“Enggak! Aku gak mau ikut campur. Usaha aja sendiri!” tolak Sita sekali lagi.

Dengan penolakan bantuan dari Sita, tampaknya episode romansa Rama kali ini berakhir di sana. Benih rasa tak berkembang menjadi bunga cinta.

“Aku heran, kenapa Rama terus-terusan melihat ke arah gadis lain. Pernahkah ia melihat ke arahku? Apa yang ada pada diri orang lain yang tidak ada pada diriku? Rama aneh! Dia seharusnya melihat ke arahku juga!” gumam Sita.

Sita tahu bahwa Rama sebenarnya sedang menanti seseorang dalam hidupnya. Seseorang yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. Nah, Sita kan sedang menanti jodoh juga, kenapa mereka tidak dijodohkan saja ya?

Ah, tapi kenyataannya Rama tidak pernah melihat ke arah Sita. Mungkin bukan Rama jodoh Sita. Mungkin jodoh Sita di abad ke-21 ini Laksmana. Rahwana, atau tokoh lainnya yang belum Sita kenal.

Tapi, rasa untuk Rama itu masih ada, walau menipis karena tak pernah disirami butiran cinta dari Rama. Terlebih ketika Rama untuk yang ketigakalinya bercerita bahwa ia menyukai gadis lain. Seorang gadis yang tiga tahun lebih muda daripada Sita.

Lagi-lagi Rama meminta tolong agar Sita mau menjadi makcomblangnya. Sita geram. Ia tak dapat lagi membendung kekesalannya kepada Rama.

“Rama keterlaluan!”

Kali ini Sita benar-benar tak dapat membendung emosinya. Rasa simpati, empati, bahkan cinta yang ada untuk Rama kini berubah arah. Rasa itu kini berubah menjadi kekesalan dan kemarahan, bahkan kebencian.

Sorry, Ram. Aku beneran gak mau ikut campur urusan romansa kamu lagi!” Jawab Sita ketus.

“Ta, please, Ta,” pinta Rama.

“Bodo!”

Sita pergi meninggalkan Rama begitu saja. Kali ini Sita benar-benar pergi, menjauhi Rama sebisa mungkin, bahkan medsos dari Rama pun tak ia hiraukan. Sungguh, cinta telah berubah menjadi benci.


Beberapa bulan berlalu.

Sita tak ingin berlama-lama dalam kondisi ini dengan Rama. Ia ingin kembali berteman dengan Rama. Muncullah ide untuk menyapa Rama melalui whatsapp.

“Ram, apa kabar?” tanya Sita melalui whatsapp-nya.

Lama tak berespons. Beberapa jam kemudian Rama membalas.

“Baik, Ta. Kamu sendiri gimana?”

Alhamdulillah, baik juga.”

“…”

Percakapan mereka terhenti di sana, begitu saja.

Sita enggan memulai kembali obrolan dengan Rama. Baginya menyapa seperti itu saja sudah termasuk upaya yang besar untuk kembali menyambung silaturahim dengan Rama.

Entah apa yang ada dalam benak Rama. Ia pun tak ingin melanjutkan chatting-nya dengan Sita. Baginya Sita sudah berubah. Sita yang dulu ia kenal kini sudah tak ada. Pikiran tersebut terus berputar dalam benaknya tanpa melakukan konfirmasi dengan empunya nama.

Akhirnya, mereka hanya saling menunggu. Hanya itu yang mereka lakukan. Mereka menunggu takdir berikutnya terjadi walau pada akhirnya takdir yang mereka harapkan tak pernah terjadi. Mereka menjalani hidupnya masing-masing.

Sesekali Sita masih ingat tentang perasaannya terhadap Rama, tetapi rasa itu tak pernah tumbuh. Pupus seketika karena Rama benar-benar disibukkan dengan kehidupannya. Akhirnya, Sita pun menyerah dan mencoba menjalani hidup dengan normal, tanpa menghiraukan Rama lagi.

Rama tak pernah menghubungi Sita sejak saat itu, walaupun sesekali Sita muncul dalam mimpi Rama. Tapi, Rama benar-benar ingin fokus menjalani kariernya yang sempat hancur karena teman-temannya sendiri.

 

Cerita ini ditulis oleh Robita. Apabila pembaca ingin memuat ulang (repost) cerita ini di media manapun, harap menghubungi admin blog ini melalui posel r162.id@gmail.com. Terima kasih.

Advertisements
Posted in Bahasa & Sastra Indonesia

Cinta: Sebuah Epilog


ke mana aku harus bercerita
saat langit dan bumi
enggan mendengarnya

ke mana aku harus bercerita
saat bulan dan bintang
manutup matanya

ke mana aku harus bercerita
saat angin dan badai
engga untuk membawanya

dan ke mana aku harus bercerita
tentang siapa dan bagaimana
tentang apa dan mengapa
tentang kapan dan berapa lama

mungkin
hanya bumi
yang bersedia menyimpannya
dengan nisan di atasnya

mungkin
hanya matahari
yang siap membakarnya
hingga tiada

tak ada lagi kehidupan
tak ada lagi ruang kosong
tidak pula ruangan ini penuh

hanya bibir yang bertemu
dengan dentuman nada yang tak beraturan
tanpa kata
tanpa rasa
SIRNA

Bandung, 16 Maret 2017
Robita

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga


Hai, Aku Anis. Saat ini aku adalah seorang siswa kelas satu SMA di Kota Tegal. Ini adalah petualangan baruku sebagai siswa SMA. Petualangan selama masa-masa SMP sudah kulewati dan  yaa… cukuplah, hehehe…

By the way, kamu tahu siapa gadis yang berkudung cokelat di sana? Dia adalah Indras. Temanku dari SMP yang sama. Aku berteman dengannya, berteman baik.

Pada saat pengumuman anggota kelas, ternyata aku dan Indras di kelas yang sama, kelas X-2. Kami bermain bersama, jajan bersama, kerja kelompok bersama, dan memutuskan untuk berada dalam satu grup yang sama untuk kemah di Moga minggu depan. Kata kakak kelasku, kami akan berkemah selama lima hari empat malam di sana. Tentu saja ini bukan perkemahan biasa bagiku.

Perkemahan yang diselenggarakan setiap peringatan hari Pramuka saja hanya tiga hari dua malam, nah yang ini malah lima hari empat malam. Ibuku agak khawatir dengan perkemahan yang akan kujalani ini. Tapi aku yakin aku bisa bertahan dan mengikuti kegiatan perkemahan dengan baik.

Berkemah merupakan salah satu kegiatan Pramuka yang paling paling paling aku sukai. Biasanya, kegiatan berkemah tidak hanya tidur dan makan di tenda, tetapi juga ada halang rintang, tebak sandi morse, ‘smaphore’, membuat ‘drakbar’, dan lain-lain. Semua yang ada di kegiatan perkemahan Pramuka aku suka.

“Ndras, kita sekelompok sama siapa nih?”

“Gak tahu, Nis.”

“Tapi kita tetep satu grup kan?”

Continue reading “[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

TES UKBIPA-MEMBACA


Akhirnya rilis juga alat tes UKBIPA (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Tes ini hanya untuk pelajar asing Bahasa Indonesia. Saya berharap alat ini dapat membantu pembelajar asing untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan dalam bahasa Indonesia. Untuk komentar silahkan tulis di blog ini.
Terima kasih atas perhatian Anda.

Finally I release an instrument for Indonesian language test (UKBIPA). This test is just for Indonesian foreign learners. I hope this instrument will help Indonesian foreign learners to increase their reading comprehension skill in Bahasa Indonesia. For comments please write in this blog.
Thank you for your attention.

KLIK DI SINI UNTUK MEMULAI TES
CLICK HERE TO START THE TEST

*sebelum tes dimulai, Anda harus menunggu beberapa detik (before the test begins, you have to wait a few seconds).

Sebagai gambaran, lihatlah gambar-gambar di bawah ini! Continue reading “TES UKBIPA-MEMBACA”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Bagaimana Kalau


(oleh: Taufiq Ismail)

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, Continue reading “Bagaimana Kalau”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Kami Rindu Wayang Golek


Wayang golek merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia Indonesia, khususnya masyarakat di Pulau Jawa. Pada awalnya, wayang golek digunakan sebagai media untuk menyiarkan ajaran agama, karena kala itu masyarakat sangat suka dengan dongeng dan cerita-cerita. Segala penyampaian yang ditujukan kepada masyrakat disampaikan melalui wayang karena bersifat tidak menggurui atau menyuruh atau melarang secara langsung, tetapi secara halus, melalui cerita yang dikemas dengan menarik oleh dalang.

Saat ini, pergelaran wayang golek sudah jarang ditemui, walaupun itu di tanah Jawa. Wayang golek sudah tidak setenar pada masa itu. Kalaupun ada yang menonton, yang datang pasti kalangan tua saja, sedangkan anak mudanya bergumul di Organ Tunggal Dangdut kontemporer dengan penyanyi-penyanyi dangdutnya yang seksi-seksi. Sungguh miris! Continue reading “Kami Rindu Wayang Golek”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Aku Takut Jatuh Cinta



Di jalanan yang ramai itu aku tetap menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan lawan jenis yang nantinya merasuk dalam pikiranku. Pernah satu kali aku hampir menabrak ibu-ibu di sebuah belokan gara-gara menghindari kontak mata dengan setiap laki-laki yang lewat. Aku pun terkejut dan dengan segera aku meminta maaf kepada ibu tersebut.

“Duh, niatnya menghindari kontak mata dengan lawan jenis, tapi malah jadi nabrak ibu-ibu. Malu deh…” kembali kutundukkan wajahku.

Gara-gara sering menundukkan kepala saat jalan, aku bahkan sering dibilang sombong oleh teman-temanku karena tidak menyapa mereka.

“Ya Allah… kok serba salah ya? Apa caranya yang masih belum tepat?”

Aku takut jatuh cinta. Ya, aku takut jatuh cinta. Aku takut salah memilih cinta sehingga Continue reading “Aku Takut Jatuh Cinta”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Transkripsi, Transliterasi, dan Terjemahan Karya Sastra Kuno Indonesia


Tugas Matakuliah Sastra Nusantara
oleh Robita Ika A.

Karya sastra nusantara merupakan suatu kekayaan tersendiri bagi bangsa kita, Indonesia. Karya sastra nusantara yang notabenenya kuno ini secara eksistensi sudah tidak se-eksis dulu. Di Indonesia, kebudayaan bersastra dimulai dengan munculnya sastra melayu rendah. Salah satu sastra yang akan dianalisis kali ini adalah mantra. Mantra ini nantinya akan ditranskripsi, transliterasi, dan terjemahan. Transkripsi diperlukan untuk mengubah tuturan atau bunyi menjadi tulisan. Setelah tulisan yang biasanya menggunakan huruf Arab atau Palawa yang diubah menjadi huruf latin itu disebut transliterasi. Biasanya tulisan yang digunakan pada sastra kuno menggunakan bahasa daerah. Bahasa daerah itu diubah kedalam bahasa Indonesia, sehingga dimengerti disebut terjemahan.

Secara fisik, mantra-mantra yang biasanya berwujud lontar atau kitab ini sudah sangat langka. Di samping itu, sudah sangat sedikit orang yang dapat memahami artinya. Sementara orang awan cukup percaya Continue reading “Transkripsi, Transliterasi, dan Terjemahan Karya Sastra Kuno Indonesia”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Pemakaian Ragam Bahasa Tulis dalam SMS


Tugas Matakuliah Problematik Bahasa Indonesia
oleh: Robita Ika Annisa

Pesatnya perkembangan zaman membawa manusia pada meningkatnya fasilitas dalam menjalani kehidupan. SMS atau Short Message Service merupakan suatu media pengantar pesan. Kini, orang tidak perlu lagi repot mengirimkan surat ke kantor pos, tidak perlu perangko, dan alamat lengkap. Cukup ketahui nomor yang dituju. Praktis merupakan salah satu kelebihan dari mengirim pesan via SMS, tetapi kelemahannya berupa terbatasnya karakter yang disediakan untuk sebuah SMS. Karakter yang disediakan untuk sebuah SMS biasanya antara 140-160 karakter. Hal ini tentu saja membuat penggunanya harus cermat dan cerdas dalam menggunakan karakter (huruf) SMS yang sangat terbatas itu. Bandingkan dengan menulis surat di kertas, tidak ada batasan karakter untuk satu suratnya, cukup sediakan kertas untuk menulis surat sebanyak yang diperlukan.

Terbatasnya karakter dalam sebuah SMS berhubungan dengan pemendekan kata yang sering dilakukan pengguna SMS. Sudah jelas maksud dari pemendekatn kata dalam SMS ini, yaitu agar si pengirim pesan dapat lebih banyak menyampaikan pesannya tanpa harus membayar tarif dua SMS. Berkenaan dengan pemendekan kata, sebenarnya dalam KBBI, Continue reading “Pemakaian Ragam Bahasa Tulis dalam SMS”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Sejarah dan Perkembangan BIPA


Tugas Matakuliah Strategi Belajar Mengajar BIPA
oleh Robita

Cover Buku BIPAIndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terpadat di dunia. Hal ini pulalah yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang penting bagi negara-negara di dunia, baik dari segi ekonomi, perdagangan, politik, pendidikan, maupun budayanya. Seiring dengan pentingnya keberadaan Indonesia di mata dunia, bahasa Indonesia pun terkena imbas, yakni semakin banyak dipelajari oleh para penutur asing. Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa di dunia yang berkembang pesat pesat pada abad 20-an. Pengajaran Bahasa Indonesia terus mengalami peningkatan, baik di luar maupun dalam negeri. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Republik Indonesia, sejak tahun 2000 telah menyelenggarakan kegiatan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing. Sementara perintisan BIPA itu sendiri ada sejak 1990-an. Kemudian, pada tahun 1999-an dibentuk tim khusus untuk menangani BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Penyelenggaraan kegiatan pengajaran BIPA dilandasi oleh pertimbangan bahwa di dalam era global, posisi bahasa Indonesia dalam hubungan dengan dunia internasional semakin penting dan potensial. Dengan demikian, besar harapan Bahasa Indonesia untuk menjadi jembatan dalam berbagai hubungan kenegaraan, karena bagaimanapun juga bahasa merupakan alat yang penting, terutama sebagai alat berkomunikasi. Continue reading “Sejarah dan Perkembangan BIPA”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Hakikat Bahasa, Pengertian Sosiolinguistik, dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa


Tugas ke-1 Soiolinguistik
oleh: Robita

Pertanyaan:
1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa?
2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik!
3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa?

Jawaban:
1) Hakikat Bahasa

Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Sementara menurut H. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan “Pengajaran Pragmatik” menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif; seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku “Pragmatik: Perkenalan Awal” yaitu sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
Sapir (1921) dalam A. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “A purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires, by means of a system of voluntarily produced symbols.” Continue reading “Hakikat Bahasa, Pengertian Sosiolinguistik, dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

Sinopsis Novel “Sang Pemimpi” Karya Andrea Hirata


(oleh Robita)

sang-pemimpinNovel ini adalah novel kedua dari tetralogi Laskar pelangi karya Andrea Hirata. Sang Pemimpi adalah sebuah kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat pembacanya percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, selin itu juga memperkuat kepercayaan kepada Tuhan. Andrea berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana pembaca akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru. Selayaknya kenakalan remaja biasa, tetapi kemudian tanpa disadari kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai, potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan pembaca pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi.

Tiga orang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Main, di sinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal salah satu dari anggota Laskar Pelangi dan Arai yang merupakan saudara sepupu Ikal yang sudah yatim piatu sejak SD dan tinggal di rumah Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah dan Ibu Ikal, dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena Continue reading “Sinopsis Novel “Sang Pemimpi” Karya Andrea Hirata”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Pengelolaan Pendidikan (tentang Kompetensi Guru)


(tugas matakuliah Pengelolaan Pendidikan)

(oleh Robita)

  1. Kompetensi guru ada empat yaitu:
  • Kompetensi pedagodik

Kompetensi pedagodik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Dalam kompetensi ini, guru harus menguasai karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar & prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, mampu mengembangkan kurikulum (silabus & RPP), mempunyai kegiatan pembelajaran yang mendidik, mempunyai program pengembangan potensi peserta didik, harus mempunyai komunikasi dengan peserta didik, serta mampu menilai dan mengevaluasi.

  • Kompetensi kepribadian

Yang dimaksud kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang berakhlak mulia, arif, berwibawa, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya. Karakteristik guru dalam kompetensi kepribadian ini yaitu sebagai berikut: Continue reading “Pengelolaan Pendidikan (tentang Kompetensi Guru)”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Semantik Bahasa Indonesia


(SEBUAH RANGKUMAN & CATATAN PERKULIAHAN)

A. Pengenalan Semantik
Menurut Katz (1971:3) semantik adalah studi tentang makna bahasa. Sementara itu semantik menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara. Secara singkat, semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang tidak dikaitkan dengan konteks. Akan tetapi, ternyata ilmu yang mempelajari atau mengkaji makna ini tidak hanya semantik, ada juga pragmatik. Untuk membedakannya, berikut ini ada beberapa poin yang mudah untuk diingat dan dapat dengan jelas membedakan semantik dengan pragmatik.

Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik
1. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik
Contoh:
Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di deretan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang.Continue reading “Semantik Bahasa Indonesia”

Posted in artikel, Bahasa & Sastra Indonesia

SEJARAH SASTRA INDONESIA


(sebuah rangkuman perkuliahan)

Pengertian sejarah menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yg benar-benar terjadi di masa lampau. Atau menurut catatan perkuliahan yang saya ikuti, pengertian sejarah yaitu cabang ilmu sastra yang berusaha menyelidiki perkembangan sastra sejak awal pertumbuhannya sampai pada perkembangan sastra saat ini.
Cabang-cabang yang ada dalam ilmu sastra yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra merupakan bagian yang membahas hakikat dan pengertian sastra, sedangkan kritik sastra adalah ilmu sastra yang menyelidiki karya sastra secara langsung. Adakah di antara kalian yang tahu hubungan timbal balik antara cabang-cabang sastra tersebut? Berikut ini saya gambarkan relasi ketiganya.

Hubungan timbal-balik antara teori sastra dengan sejarah sastra: Continue reading “SEJARAH SASTRA INDONESIA”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, umum

Jurdiksatrasia-A 2009 slide foto


Jurdiksatrasia adalah sebuah keluarga besar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).

LINK to Jurdiksatrasia-A 2009 member:
ISNA ISTIANA
RAFINA WIDOWATI
RIANTI FEBRIANI SETIA
SERLI NOPIARTI
WINDA VICTORIA P.
VINA F. APRIAGUSTINA
SETYA RIDHA W.
SITI AMILA RAFIANI SILMI (blogspot)
SITI AMILA RAFIANI SILMI (wordpress)
SITI NATASYA ISABELA
REBECCA ANRINI SIANTURI
HESTU NODYA K.
ARIN RUKNIYATI ANAS
MEILIDA HANUM LUBIS
NUR YULI MUTIARA
INTAN NIRMALA
ANANDIA ANISA IRAWAN
SHINTIA RIZKI N.
PAHALA MUNGGARAN
MALA UTAMI
DIKI SUMARNA

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG


(Taufik Ismail)

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku Continue reading “KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Menyesal


Arlin, remaja putri kelahiran Tegal, 10 Oktober 1991 ini adalah anak yang periang, semangat tinggi, dan cantik. Kulitnya putih dan lembut, senyumnya manis, dan rambutnya lurus. Satu hal kebiasaannya adalah ketika berjalan dia selalu tampak girang, walaupun ketika itu tidak ada hal yang menggirangkan. Tapi, hari ini Arlin terlihat sedih dan murung.

Ternyata benar, setelah kutanya padanya, dia mengaku sedang menyesali masa-masa SMP dan SMA-nya. Waktu SMP dia pernah suka sama cowo yang namanya Panji. Panji adalah cowo idaman bagi anak-anak putri waktu itu. Panji memiliki wajah yang manis, kulitnya putih bersih, baik, perhatian, cool, berwibawa, tinggi badannya sedang, badannya berisi tapi tidak termasuk kategori gendut, dan menarik. Itu merupakan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di sekitarnya, termasuk Arlin. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba Panji menyapa Arlin.

“Arlin…!” sapa Panji.

Arlin berlalu begitu saja tanpa ekspresi dan rasa. Tapi, perlahan Arlin menengokkan wajahnya ke arah Panji.

“Dag…dig…dug…” jantung Panji berdegup ketika Arlin menengokkan wajahnya, dan Continue reading “Menyesal”