Posted in artikel, Cerpen, umum

Beautiful Autum in Australia


Musim gugur penuh warnaMusim gugur, aku tidak pernah merasakan musim ini sebelumnya karena Indonesia tidak mencantumkan musim gugur dalam daftar musim tahunannya. Indonesia hanya memiliki musim hujan dan musim kemarau. Di antara musim hujan dan kemarau pun tidak ada musim gugur di dalamnya, hanya ada pancaroba yang dirasa penuh keluh kesah oleh sebagian orang karena pada musim ini daya tahan tubuh manusia menjadi lebih lemah daripada biasanya, begitu menurut pengalaman sebagian orang.

Saat ini aku tinggal di luar Indonesia. Di salah satu negara bagian yang terletak di benua terdekat dari Indonesia. Aku tidak sedang di Cina karena Cina tidak memiliki negara bagian, tidak pula di Eropa karena Eropa cukup jauh dari Indonesia. Amerika? Apa lagi, jauuuuhhhhh!!!

Aku saat ini berada di Australia. Ya, aku berada di Australia, lebih tepatnya di negara bagian Victoria. Continue reading “Beautiful Autum in Australia”

Posted in Cerpen

[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu


Aku duduk di sana, memperhatikanmu yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Aku tahu siapa wanita tersebut. Dia adik kelas kita waktu SD. Sepertinya kenangan kita tak mudah untuk dilupakan walau pada awalnya aku dapat menganggapnya berlalu bergitu saja.

Ingatkah kau ketika teman-teman kita menyoraki kita?
Ingatkah kau ketika teman-teman kita memasangkan kita sebagai Kartini dan pasangannya?
Ingatkah kau masa ketika kau disukai banyak wanita karena rupamu?
Kuharap kau mengingatnya.

Aku mengenalmu sejak kelas IV SD. Kau menjadi ketua kelas pada saat itu. Aku bersama Lina dan Cicih duduk bersama, sedangkan kamu bersama Asep dan Agus. Kurasa di kelas IV tidak ada kenangan manis di antara kita. Aku masih ingat dengan jelas kapan rasa ini muncul, yakni pada saat kelas lima. Karena untuk yang keduakalinya kau terpilih sebagai ketua kelas dan aku sebagai sekretarisnya. Tentu banyak komunikasi yang terjalin karena status struktural tersebut. Terlebih pada saat itu kita juga dipasangkan sebagai Ibu Kartini beserta suaminya. Banyak orang yang bersorak kepada kita.

Aku dengan malu-malu berjalan di atas panggung dan kau berjalan di sampingku. What a nice moment that is.

Kelas VI, kita mengenal semakin jauh. Kita sama-sama lolos Porseni tingkat sekolah, kita maju ke tingkat kecamatan. Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Semangatku bertambah ketika kutahu kau lolos dari tingkat kecamatan dan maju ke tingkat kawedanan. Saat itu aku berusaha agar akupun bisa lolos sehingga kita bisa maju bersama lagi.

Keinginanku menjadi kenyataan. Kita lolos! Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Walaupun lapangan kita berbeda, tapi aku yakin semangat kita ada untuk satu sama lainnya, saling menyemangati dan saling mendukung.

Menurutku kelas VI menjadi pintu pembuka bagi kita untuk dapat saling mengenal lebih dalam lagi. Karena kuingat kau pernah meminta padaku untuk belajar kelompok bersama. Kau dengan kelompokmu mendatangi kelompokku untuk belajar bersama. Sebenarnya aku senang dengan hal itu, tapi Ayah Ibuku terlalu ketat dalam hal aturan. Mereka tidak akan membolehkan anak laki-laki berkumpul dengan anak perempuan, sekalipun alasannya untuk belajar bersama.

Apakah kau masih ingat tatkala itu kau memintaku keluar dari masjid untuk mengobrol sedikit hal? Aku masih mengingatnya betul. Kau duduk di atas raranjangan—tempat duduk yang terbuat dari bambu dan bentuknya memanjang seperti ranjang—di bawah tiang listrik. Teman-temanmu membawaku padamu. Kalau saat ini aku bayangkan kembali hal itu, rasanya sangat terlihat cinta monyet telah berkembang saat itu. Dengan malu-malu, aku melangkah menghampirimu.

Singkat cerita, kau menyatakan perasaanmu. Aku senang. Hatiku berbunga-bunga. Ya, mungkin beginilah cinta monyet. Kita berdua sama-sama menjadi monyet yang sedang malu-malu jatuh cinta. Monyet-monyet kecil yang sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Monyet-monyet kecil jelmaan anak-anak yang sedang beranjak remaja.

Kelulusan SD sudah berlalu. Tiba saatnya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Kau kembali memintaku menemuimu. Dengan mengungkapkan hal yang sama, kali ini kau benar-benar mengharapkan jawaban dariku. Dengan membawa kakak sepupumu, kau berusaha menyakinkan bahwa kau ingin kita berada dalam satu jalinan, pacaran. Seketika itu, aku menjawab ‘ya’. Kemudian kita bercakap panjang lebar. Kembali dua orang monyet kecil sedang dilanda kebahagiaan merasakan cinta monyet.

“Hmm…” aku mencoba memulai pembicaraan.
“Makasih, ya,” ucapnya untuk memulai pembicaraan.
“Hah? Eh… Oh iya, hehe…” mulutku kaku sendiri, mungkin saking bahagianya, “boleh aku tanya sesuatu, gak?”
“Boleh, tanya apa?”
“Kenapa kau memlih aku?”
Continue reading “[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga


Hai, Aku Anis. Saat ini aku adalah seorang siswa kelas satu SMA di Kota Tegal. Ini adalah petualangan baruku sebagai siswa SMA. Petualangan selama masa-masa SMP sudah kulewati dan  yaa… cukuplah, hehehe…

By the way, kamu tahu siapa gadis yang berkudung cokelat di sana? Dia adalah Indras. Temanku dari SMP yang sama. Aku berteman dengannya, berteman baik.

Pada saat pengumuman anggota kelas, ternyata aku dan Indras di kelas yang sama, kelas X-2. Kami bermain bersama, jajan bersama, kerja kelompok bersama, dan memutuskan untuk berada dalam satu grup yang sama untuk kemah di Moga minggu depan. Kata kakak kelasku, kami akan berkemah selama lima hari empat malam di sana. Tentu saja ini bukan perkemahan biasa bagiku.

Perkemahan yang diselenggarakan setiap peringatan hari Pramuka saja hanya tiga hari dua malam, nah yang ini malah lima hari empat malam. Ibuku agak khawatir dengan perkemahan yang akan kujalani ini. Tapi aku yakin aku bisa bertahan dan mengikuti kegiatan perkemahan dengan baik.

Berkemah merupakan salah satu kegiatan Pramuka yang paling paling paling aku sukai. Biasanya, kegiatan berkemah tidak hanya tidur dan makan di tenda, tetapi juga ada halang rintang, tebak sandi morse, ‘smaphore’, membuat ‘drakbar’, dan lain-lain. Semua yang ada di kegiatan perkemahan Pramuka aku suka.

“Ndras, kita sekelompok sama siapa nih?”

“Gak tahu, Nis.”

“Tapi kita tetep satu grup kan?”

Continue reading “[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Aku Takut Jatuh Cinta



Di jalanan yang ramai itu aku tetap menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan lawan jenis yang nantinya merasuk dalam pikiranku. Pernah satu kali aku hampir menabrak ibu-ibu di sebuah belokan gara-gara menghindari kontak mata dengan setiap laki-laki yang lewat. Aku pun terkejut dan dengan segera aku meminta maaf kepada ibu tersebut.

“Duh, niatnya menghindari kontak mata dengan lawan jenis, tapi malah jadi nabrak ibu-ibu. Malu deh…” kembali kutundukkan wajahku.

Gara-gara sering menundukkan kepala saat jalan, aku bahkan sering dibilang sombong oleh teman-temanku karena tidak menyapa mereka.

“Ya Allah… kok serba salah ya? Apa caranya yang masih belum tepat?”

Aku takut jatuh cinta. Ya, aku takut jatuh cinta. Aku takut salah memilih cinta sehingga Continue reading “Aku Takut Jatuh Cinta”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Menyesal


Arlin, remaja putri kelahiran Tegal, 10 Oktober 1991 ini adalah anak yang periang, semangat tinggi, dan cantik. Kulitnya putih dan lembut, senyumnya manis, dan rambutnya lurus. Satu hal kebiasaannya adalah ketika berjalan dia selalu tampak girang, walaupun ketika itu tidak ada hal yang menggirangkan. Tapi, hari ini Arlin terlihat sedih dan murung.

Ternyata benar, setelah kutanya padanya, dia mengaku sedang menyesali masa-masa SMP dan SMA-nya. Waktu SMP dia pernah suka sama cowo yang namanya Panji. Panji adalah cowo idaman bagi anak-anak putri waktu itu. Panji memiliki wajah yang manis, kulitnya putih bersih, baik, perhatian, cool, berwibawa, tinggi badannya sedang, badannya berisi tapi tidak termasuk kategori gendut, dan menarik. Itu merupakan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di sekitarnya, termasuk Arlin. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba Panji menyapa Arlin.

“Arlin…!” sapa Panji.

Arlin berlalu begitu saja tanpa ekspresi dan rasa. Tapi, perlahan Arlin menengokkan wajahnya ke arah Panji.

“Dag…dig…dug…” jantung Panji berdegup ketika Arlin menengokkan wajahnya, dan Continue reading “Menyesal”