Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Bukan Rama dan Sita


Ini adalah kisah Rama dan Sita. Sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk hidup bersama, saling mencintai, dan saling percaya. Rama yang tampan dan Sita yang cantik membuat banyak orang iri kepada mereka. Anugerah dewa yang tiada terkira.

Tapi, itu semua hanya kisah Rama dan Sita dalam dunia dongeng, dunia wayang, dunia imajinasi.

Pada kenyataannya, di abad ke-21 ini Rama dan Sita memiliki jalan hidup yang berbeda. Kemungkinan mereka berjodoh atau tidaknya adalah 50:50.

Rama yang masih terlahir dengan rupa tampan menawan, banyak memesona kaum Hawa. Tak sedikit wanita yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Sementara itu, Sita terlihat biasa saja, tapi ada aura keanggunan di dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari.

Di usia mereka yang sudah seperempat abad, Rama dan Sita berada pada tahap menanti jodoh. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya Rama menanti sesosok Sita datang menampakkan dirinya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tapi, semua itu hanya ada di dalam benak Rama.

Di sisi lain, Sita pun sedang menanti sang pujaan hati. Tapi, dari sekian ribu kaum Adam yang ia kenal, tak satu pun menarik hatinya. Sita masih menunggu. Ia menunggu sesosok Rama muncul di hadapannya, lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.

Suatu ketika, saat Sita bergabung dengan sebuah komunitas, ia bertemu seorang pemuda. Pemuda itu berwajah putih, berkacamata, terlihat kalem, berjaket hitam, dan begitu menarik di hati Sita hanya dalam hitungan detik. Tapi, Sita tak ingin langsung jatuh cinta begitu saja. Ia pun diam-diam memerhatikan pemuda tersebut. Seorang pemuda yang belum ia ketahui namanya.

Jadi, kawan, cerita ini akan mengisahkan romansa Rama-Sita di abad ke-21, dari sudut pandang Sita.

Sita duduk di sebuah kursi sambil menunggu acara perkenalan anggota baru di komunitas tersebut dimulai. Lalu, seorang gadis manis mengajaknya berkenalan.

“Hai, namanya siapa?” tanyanya menyapa sopan.

“Sita. Kamu?” jawabku sambil tersenyum.

“Rindu.”

“Rindu? Wah… nama yang bagus. Pasti Rindu dirindukan banyak orang, ya?”

“Ahaha… enggak juga kok,” sanggahnya tersipu malu.

“Namamu juga bagus! Sita. Nama yang terkenal di dunia pewayangan,” lanjutnya lagi.

“Ahaha… ya, banyak orang yang bilang seperti itu ketika pertama kali mendengar namaku. Mungkin ayah dan ibuku suka banget wayang, makanya mereka memberi nama ini,” jawabku sambil tertawa.

Tiba-tiba sosok pemuda yang tadi dilihat Sita mendekati mereka dan duduk di samping Rindu.

“Hai, aku Rama,” sambil mengukurkan tangan kepada Sita.

“Ih, nama kalian cocok ya!” goda Rindu.

“Apa sih… jangan gitu ah, nanti gue baper loh,” sanggahku malu.

“Aku Sita,” sambil menyambut uluran tangan Rama.

“Anggota baru juga ya?” tanya Rama.

“Iya,” jawabku, “Kakak sendiri?”

“Jangan panggil kakak lah, aku juga anggota baru di sini. Jadi, panggil saja Rama, ya,” jawabnya.

“Oh, oke, Rama.”

Ya Allah, kenapa aku deg-degan. Ah… jangan ge-er, Sita, jangan ge-er! Masa begitu saja sudah meleleh?

Sita berusaha keras untuk tidak canggung di hadapan Rama. Ia berusaha untuk bereaksi sewajarnya di depan Rama dan berusaha berteman dengannya.

“Eh, instagram kamu apa?” tanya Rama padaku.

Deg! Ya Allah, dia menanyakan instagramku? Aaaahhh… melayang…

Kalem, Sita, kalem! Jangan ge-er apalagi gugup! Kasih saja nama akun instagram kamu! Dengan begitu kamu bisa mengetahui dia lebih jauh lagi.

“Instagram aku ya? Sini aku ketikin aja,” jawabku sambil mengulurkan tangan agar Rama meletakkan gawainya di tanganku.

“Gak apa-apa, aku aja yang nulis,” kata Rama, “jadi nama instagram kamu apa? Lumayan nih, nambah followers, ahahaha…”

Sejak saat itu, Rama dan Sita menjadi teman. Rama bahkan menganggap Sita sebagai teman terdekatnya saat ini. Ia tak ragu menceritakan segalanya kepada Sita, termasuk tentang keluarganya, kisah percintaannya, dan masa kelamnya.

Sita merespons semua cerita Rama dengan simpati dan empati tinggi. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatiannya kepada Rama.

Rama merasa kalau Sita sangat hangat, baik, ceria, dan berhati lembut. Rama mulai merasa nyaman dengan Sita.

Suatu saat, Rama berkata kepada Sita, “Ta, menurut kamu si Bunga orangnya gimana ya?”

“Eh… Bunga? Memangnya kenapa?”

“Ah enggak, hanya ingin tahu aja, hehehe…”

“Hm… menurut aku sih dia baik, cantik, hm… apa lagi ya…” jawabku, padahal dalam hati, “ih… aku gak suka si Bunga, kayanya dia ngeselin deh!”

Setelah hari itu, Rama terus-menerus membicarakan si Bunga. Setiap kali bertemu Sita, selalu Bunga yang jadi topik pembicaraan Rama. Lama-kelamaan, Sita jenuh dengan cerita Rama. Apalagi ketika Rama mau menyatakan cinta kepada Bunga, Sita sangat kesal. Namun, kekesalan Sita rupanya tidak terdeteksi oleh Rama.

“Kamu yakin mau nembak Bunga, Ram?” tanya Sita.

“Yakin!” jawabnya penuh keyakinan, “tapi bukan nembak sih, lebih tepatnya memberi tahu dia bahwa aku suka sama dia, gitu…”

“Tapi dia sudah punya cowok loh!”

“Ya… mengenai itu biarkan Bunga yang memutuskan. Apakah dia mau tetap bersama cowoknya itu atau memilih aku.”

“Kamu gila, Ram!”

Kata-kata Sita tak digubris oleh Rama. Ia mengikuti apa yang hatinya katakan. Tak peduli dengan kenyataan bahwa si Bunga sudah punya pacar.

Rama memang gila!

Hari demi hari berlalu. Rama sudah mengungkapkan perasaannya. Sita penasaran dengan keputusan yang diambil oleh Bunga untuk Rama. Ia pun bertanya.

“Gimana, udah nembak Bunganya?” tanya Sita agak ketus.

“Bukan nembak, Ta. Aku kan cuma ngasih tahu dia kalau aku suka sama dia,” jawab Rama agak sabar.

“Ya… apapun itu! Jadi, bagaimana?” tanya Sita penasaran, “dia milih kamu atau pacarnya?”

“Awalnya dia bingung. Dia bilang dia masih cinta sama pacarnya. Jadi, meminta maaf tidak bisa menerima aku. Gitu katanya, Ta.”

“Oh… ahahahaha! Syukurlah! Lagian kalau Bunga sampai menerima Rama, cewek macam apa dia, masa pacarnya diputusin begitu saja hanya gara-gara ada yang suka sama dia. Hah! Baguslah, Bunga masih normal!” seringai Sita dalam hati.

“Lah… diketawain,” Rama bingung melihat respons Sita.

Setelah kejadian itu, Sita agak dingin kepada Rama. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya dari Rama. Ia berusaha untuk tetap ceria, merespons, dan membantu Rama.

Entah bagaimana hati Rama sebenarnya terhadap Sita. Kadang, Rama membuat Sita ge-er, galau, dan senyam-senyum sendiri. Tapi, tidak ada yang tahu maksud Rama sebenarnya apa.

Kadang Sita berpikir, apakah Rama menyukainya atau memang seperti itulah Rama terhadap semua perempuan.

Sita tidak ingin jatuh hati begitu saja. Ia perlu kepastian. Tapi, ia tak ingin dirinya yang aktif mencari tahu kepastian itu, ia ingin Rama menunjukkannya.

Setelah peristiwa penembakan yang gagal itu, Rama kembali memulai cerita barunya kepada Sita. Kali ini ia ingin Sita membantunya. Ia ingin Sita menjadi makcomblang untuknya.

Sita yang diam-diam menyimpan rasa kepada Rama, tentu saja ogah dengan permintaan tolong Rama.

Awalnya, Sita tidak memiliki rasa apapun terhadap Rama. Tapi, lama-kelamaan, seiring dengan seringnya mereka bertemu, seringnya mereka ngobrol, dan seringnya Rama curhat kepada Sita, rasa itu tumbuh menjadi sesuatu. Rasa itu tumbuh menjadi sebuah rasa yang penuh rasa.

“Ogah ah, Ram! Urusan kaya gitu ak gak mau ikutan,” tolak Sita.

“Yah… masa gitu sih ke aku, Ta? Ayolaaaaahhh… bantu aku, please!” bujuk Rama.

“Enggak! Aku gak mau ikut campur. Usaha aja sendiri!” tolak Sita sekali lagi.

Dengan penolakan bantuan dari Sita, tampaknya episode romansa Rama kali ini berakhir di sana. Benih rasa tak berkembang menjadi bunga cinta.

“Aku heran, kenapa Rama terus-terusan melihat ke arah gadis lain. Pernahkah ia melihat ke arahku? Apa yang ada pada diri orang lain yang tidak ada pada diriku? Rama aneh! Dia seharusnya melihat ke arahku juga!” gumam Sita.

Sita tahu bahwa Rama sebenarnya sedang menanti seseorang dalam hidupnya. Seseorang yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. Nah, Sita kan sedang menanti jodoh juga, kenapa mereka tidak dijodohkan saja ya?

Ah, tapi kenyataannya Rama tidak pernah melihat ke arah Sita. Mungkin bukan Rama jodoh Sita. Mungkin jodoh Sita di abad ke-21 ini Laksmana. Rahwana, atau tokoh lainnya yang belum Sita kenal.

Tapi, rasa untuk Rama itu masih ada, walau menipis karena tak pernah disirami butiran cinta dari Rama. Terlebih ketika Rama untuk yang ketigakalinya bercerita bahwa ia menyukai gadis lain. Seorang gadis yang tiga tahun lebih muda daripada Sita.

Lagi-lagi Rama meminta tolong agar Sita mau menjadi makcomblangnya. Sita geram. Ia tak dapat lagi membendung kekesalannya kepada Rama.

“Rama keterlaluan!”

Kali ini Sita benar-benar tak dapat membendung emosinya. Rasa simpati, empati, bahkan cinta yang ada untuk Rama kini berubah arah. Rasa itu kini berubah menjadi kekesalan dan kemarahan, bahkan kebencian.

Sorry, Ram. Aku beneran gak mau ikut campur urusan romansa kamu lagi!” Jawab Sita ketus.

“Ta, please, Ta,” pinta Rama.

“Bodo!”

Sita pergi meninggalkan Rama begitu saja. Kali ini Sita benar-benar pergi, menjauhi Rama sebisa mungkin, bahkan medsos dari Rama pun tak ia hiraukan. Sungguh, cinta telah berubah menjadi benci.


Beberapa bulan berlalu.

Sita tak ingin berlama-lama dalam kondisi ini dengan Rama. Ia ingin kembali berteman dengan Rama. Muncullah ide untuk menyapa Rama melalui whatsapp.

“Ram, apa kabar?” tanya Sita melalui whatsapp-nya.

Lama tak berespons. Beberapa jam kemudian Rama membalas.

“Baik, Ta. Kamu sendiri gimana?”

Alhamdulillah, baik juga.”

“…”

Percakapan mereka terhenti di sana, begitu saja.

Sita enggan memulai kembali obrolan dengan Rama. Baginya menyapa seperti itu saja sudah termasuk upaya yang besar untuk kembali menyambung silaturahim dengan Rama.

Entah apa yang ada dalam benak Rama. Ia pun tak ingin melanjutkan chatting-nya dengan Sita. Baginya Sita sudah berubah. Sita yang dulu ia kenal kini sudah tak ada. Pikiran tersebut terus berputar dalam benaknya tanpa melakukan konfirmasi dengan empunya nama.

Akhirnya, mereka hanya saling menunggu. Hanya itu yang mereka lakukan. Mereka menunggu takdir berikutnya terjadi walau pada akhirnya takdir yang mereka harapkan tak pernah terjadi. Mereka menjalani hidupnya masing-masing.

Sesekali Sita masih ingat tentang perasaannya terhadap Rama, tetapi rasa itu tak pernah tumbuh. Pupus seketika karena Rama benar-benar disibukkan dengan kehidupannya. Akhirnya, Sita pun menyerah dan mencoba menjalani hidup dengan normal, tanpa menghiraukan Rama lagi.

Rama tak pernah menghubungi Sita sejak saat itu, walaupun sesekali Sita muncul dalam mimpi Rama. Tapi, Rama benar-benar ingin fokus menjalani kariernya yang sempat hancur karena teman-temannya sendiri.

 

Cerita ini ditulis oleh Robita. Apabila pembaca ingin memuat ulang (repost) cerita ini di media manapun, harap menghubungi admin blog ini melalui posel r162.id@gmail.com. Terima kasih.

Advertisements
Posted in artikel, Cerpen, umum

Beautiful Autum in Australia


Musim gugur penuh warnaMusim gugur, aku tidak pernah merasakan musim ini sebelumnya karena Indonesia tidak mencantumkan musim gugur dalam daftar musim tahunannya. Indonesia hanya memiliki musim hujan dan musim kemarau. Di antara musim hujan dan kemarau pun tidak ada musim gugur di dalamnya, hanya ada pancaroba yang dirasa penuh keluh kesah oleh sebagian orang karena pada musim ini daya tahan tubuh manusia menjadi lebih lemah daripada biasanya, begitu menurut pengalaman sebagian orang.

Saat ini aku tinggal di luar Indonesia. Di salah satu negara bagian yang terletak di benua terdekat dari Indonesia. Aku tidak sedang di Cina karena Cina tidak memiliki negara bagian, tidak pula di Eropa karena Eropa cukup jauh dari Indonesia. Amerika? Apa lagi, jauuuuhhhhh!!!

Aku saat ini berada di Australia. Ya, aku berada di Australia, lebih tepatnya di negara bagian Victoria. Continue reading “Beautiful Autum in Australia”

Posted in Cerpen

[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu


Aku duduk di sana, memperhatikanmu yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Aku tahu siapa wanita tersebut. Dia adik kelas kita waktu SD. Sepertinya kenangan kita tak mudah untuk dilupakan walau pada awalnya aku dapat menganggapnya berlalu bergitu saja.

Ingatkah kau ketika teman-teman kita menyoraki kita?
Ingatkah kau ketika teman-teman kita memasangkan kita sebagai Kartini dan pasangannya?
Ingatkah kau masa ketika kau disukai banyak wanita karena rupamu?
Kuharap kau mengingatnya.

Aku mengenalmu sejak kelas IV SD. Kau menjadi ketua kelas pada saat itu. Aku bersama Lina dan Cicih duduk bersama, sedangkan kamu bersama Asep dan Agus. Kurasa di kelas IV tidak ada kenangan manis di antara kita. Aku masih ingat dengan jelas kapan rasa ini muncul, yakni pada saat kelas lima. Karena untuk yang keduakalinya kau terpilih sebagai ketua kelas dan aku sebagai sekretarisnya. Tentu banyak komunikasi yang terjalin karena status struktural tersebut. Terlebih pada saat itu kita juga dipasangkan sebagai Ibu Kartini beserta suaminya. Banyak orang yang bersorak kepada kita.

Aku dengan malu-malu berjalan di atas panggung dan kau berjalan di sampingku. What a nice moment that is.

Kelas VI, kita mengenal semakin jauh. Kita sama-sama lolos Porseni tingkat sekolah, kita maju ke tingkat kecamatan. Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Semangatku bertambah ketika kutahu kau lolos dari tingkat kecamatan dan maju ke tingkat kawedanan. Saat itu aku berusaha agar akupun bisa lolos sehingga kita bisa maju bersama lagi.

Keinginanku menjadi kenyataan. Kita lolos! Kau di sepak takraw dan aku di bulu tangkis. Walaupun lapangan kita berbeda, tapi aku yakin semangat kita ada untuk satu sama lainnya, saling menyemangati dan saling mendukung.

Menurutku kelas VI menjadi pintu pembuka bagi kita untuk dapat saling mengenal lebih dalam lagi. Karena kuingat kau pernah meminta padaku untuk belajar kelompok bersama. Kau dengan kelompokmu mendatangi kelompokku untuk belajar bersama. Sebenarnya aku senang dengan hal itu, tapi Ayah Ibuku terlalu ketat dalam hal aturan. Mereka tidak akan membolehkan anak laki-laki berkumpul dengan anak perempuan, sekalipun alasannya untuk belajar bersama.

Apakah kau masih ingat tatkala itu kau memintaku keluar dari masjid untuk mengobrol sedikit hal? Aku masih mengingatnya betul. Kau duduk di atas raranjangan—tempat duduk yang terbuat dari bambu dan bentuknya memanjang seperti ranjang—di bawah tiang listrik. Teman-temanmu membawaku padamu. Kalau saat ini aku bayangkan kembali hal itu, rasanya sangat terlihat cinta monyet telah berkembang saat itu. Dengan malu-malu, aku melangkah menghampirimu.

Singkat cerita, kau menyatakan perasaanmu. Aku senang. Hatiku berbunga-bunga. Ya, mungkin beginilah cinta monyet. Kita berdua sama-sama menjadi monyet yang sedang malu-malu jatuh cinta. Monyet-monyet kecil yang sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Monyet-monyet kecil jelmaan anak-anak yang sedang beranjak remaja.

Kelulusan SD sudah berlalu. Tiba saatnya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Kau kembali memintaku menemuimu. Dengan mengungkapkan hal yang sama, kali ini kau benar-benar mengharapkan jawaban dariku. Dengan membawa kakak sepupumu, kau berusaha menyakinkan bahwa kau ingin kita berada dalam satu jalinan, pacaran. Seketika itu, aku menjawab ‘ya’. Kemudian kita bercakap panjang lebar. Kembali dua orang monyet kecil sedang dilanda kebahagiaan merasakan cinta monyet.

“Hmm…” aku mencoba memulai pembicaraan.
“Makasih, ya,” ucapnya untuk memulai pembicaraan.
“Hah? Eh… Oh iya, hehe…” mulutku kaku sendiri, mungkin saking bahagianya, “boleh aku tanya sesuatu, gak?”
“Boleh, tanya apa?”
“Kenapa kau memlih aku?”
Continue reading “[Cerpen] Nada Cinta Masa Lalu”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga


Hai, Aku Anis. Saat ini aku adalah seorang siswa kelas satu SMA di Kota Tegal. Ini adalah petualangan baruku sebagai siswa SMA. Petualangan selama masa-masa SMP sudah kulewati dan  yaa… cukuplah, hehehe…

By the way, kamu tahu siapa gadis yang berkudung cokelat di sana? Dia adalah Indras. Temanku dari SMP yang sama. Aku berteman dengannya, berteman baik.

Pada saat pengumuman anggota kelas, ternyata aku dan Indras di kelas yang sama, kelas X-2. Kami bermain bersama, jajan bersama, kerja kelompok bersama, dan memutuskan untuk berada dalam satu grup yang sama untuk kemah di Moga minggu depan. Kata kakak kelasku, kami akan berkemah selama lima hari empat malam di sana. Tentu saja ini bukan perkemahan biasa bagiku.

Perkemahan yang diselenggarakan setiap peringatan hari Pramuka saja hanya tiga hari dua malam, nah yang ini malah lima hari empat malam. Ibuku agak khawatir dengan perkemahan yang akan kujalani ini. Tapi aku yakin aku bisa bertahan dan mengikuti kegiatan perkemahan dengan baik.

Berkemah merupakan salah satu kegiatan Pramuka yang paling paling paling aku sukai. Biasanya, kegiatan berkemah tidak hanya tidur dan makan di tenda, tetapi juga ada halang rintang, tebak sandi morse, ‘smaphore’, membuat ‘drakbar’, dan lain-lain. Semua yang ada di kegiatan perkemahan Pramuka aku suka.

“Ndras, kita sekelompok sama siapa nih?”

“Gak tahu, Nis.”

“Tapi kita tetep satu grup kan?”

Continue reading “[Cerpen] Berkemah di Bumi Moga”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Aku Takut Jatuh Cinta



Di jalanan yang ramai itu aku tetap menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan lawan jenis yang nantinya merasuk dalam pikiranku. Pernah satu kali aku hampir menabrak ibu-ibu di sebuah belokan gara-gara menghindari kontak mata dengan setiap laki-laki yang lewat. Aku pun terkejut dan dengan segera aku meminta maaf kepada ibu tersebut.

“Duh, niatnya menghindari kontak mata dengan lawan jenis, tapi malah jadi nabrak ibu-ibu. Malu deh…” kembali kutundukkan wajahku.

Gara-gara sering menundukkan kepala saat jalan, aku bahkan sering dibilang sombong oleh teman-temanku karena tidak menyapa mereka.

“Ya Allah… kok serba salah ya? Apa caranya yang masih belum tepat?”

Aku takut jatuh cinta. Ya, aku takut jatuh cinta. Aku takut salah memilih cinta sehingga Continue reading “Aku Takut Jatuh Cinta”

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Cerpen

Menyesal


Arlin, remaja putri kelahiran Tegal, 10 Oktober 1991 ini adalah anak yang periang, semangat tinggi, dan cantik. Kulitnya putih dan lembut, senyumnya manis, dan rambutnya lurus. Satu hal kebiasaannya adalah ketika berjalan dia selalu tampak girang, walaupun ketika itu tidak ada hal yang menggirangkan. Tapi, hari ini Arlin terlihat sedih dan murung.

Ternyata benar, setelah kutanya padanya, dia mengaku sedang menyesali masa-masa SMP dan SMA-nya. Waktu SMP dia pernah suka sama cowo yang namanya Panji. Panji adalah cowo idaman bagi anak-anak putri waktu itu. Panji memiliki wajah yang manis, kulitnya putih bersih, baik, perhatian, cool, berwibawa, tinggi badannya sedang, badannya berisi tapi tidak termasuk kategori gendut, dan menarik. Itu merupakan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di sekitarnya, termasuk Arlin. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba Panji menyapa Arlin.

“Arlin…!” sapa Panji.

Arlin berlalu begitu saja tanpa ekspresi dan rasa. Tapi, perlahan Arlin menengokkan wajahnya ke arah Panji.

“Dag…dig…dug…” jantung Panji berdegup ketika Arlin menengokkan wajahnya, dan Continue reading “Menyesal”