Diposkan pada artikel, Kisahku, Opini

Insel Mainau Konstanz


Konstanz adalah kota wisata, setidaknya itu yang saya lihat dan apa yang orang-orang di sekitar saya katakan.

Ada banyak daya tarik wisata di kota ini. Beberapa di antaranya adalah wisata di daerah kota tua Konstanz, Bodensee (Danau Konstanz), sungai Rhein, taman di dekat Konzilstraße, dan pastinya Insel Mainau (Pulau Mainau).

Di Insel Mainau ada rumah kupu-kupu, tanaman-tanaman yang telah didesain membentuk burung-burung, bunga yang tersenyum, dan sebagainya. Bagi saya, rumah kupu-kupu tidak menarik. Biasa saja. Terlebih lagi suhunya panas, sama seperti di Indonesia. Akan tetapi, kupu-kupu sangat menarik bagi orang Jerman.

Selain rumah kupu-kupu, ada juga tempat menarik lainnya seperti kastil, rumah bunga tropis, dan pemandangan indah dengan bunga-bunga yang cantik. Lihatlah foto-foto saya berikut ini.

Kupu-kupu di rumah kupu-kupuBunga yang didesain menyerupai burung Merak Kastil di Insel Mainau

Dilihat dari bawah

Dilihat dari atas

Ini hanya beberapa tempat dari Insel Mainau yang berhasil saya dokumentasikan. Saya tidak sempat mengambil foto di tempat lainnya karena baterai ponsel saya habis. Selain itu, Insel Mainau cukup luas. Perlu waktu seharian untuk menelusuri setiap sudut Insel Mainau.

Tiket masuk ke tempat ini adalah 12€ untuk pelajar atau mahasiswa dan 21€ untuk orang dewasa. Cukup mahal!Dari Konstanz, kita dapat naik bus 4/13. Saya sarankan Anda naik bus ini dari halte Sternenplatz agar tidak memakan waktu lama untuk sampai di Mainau. Kalau Anda naik bus dari Bahnhof, waktu tempuh ke Mainaunya menjadi lebih lama. Tentu Anda tidak ingin berlama-lama di dalam bus, kan? 😁


Konstanz, 30 April 2018

Robita

Iklan
Diposkan pada Cerpen, Kisahku, Opini

Lalala Lilili


Ini adalah satu kisah tentang diriku. Aku adalah seorang wanita kuat, tegar menghadapi hidup, dan mandiri. Aku telah belajar hidup mandiri selama 15 tahun.

Kemandirian adalah yang positif. Juga dengan kekuatan dan ketegaran menjalani hidup yang pastinya tak mudah.

Kali ini, aku ingin bercerita tentang satu yang yang aku abaikan dari diriku sendiri. Ini adalah kisah cinta. Jadi, nikmatilah ceritanya, tak perlu berkomentar, dan tak perlu merasa sedih.

Kisah ini bermula ketika aku menyukai seseorang berwujud laki-laki yang kuyakini sebagai salah satu dari kaum Adam yang utuh.

Kami berkenalan. Tak mudah, tapi mengalir dengan lancar.

Tak lama kemudian, kami berteman. Dia baik. Dia juga berparas rupawan. Dia bisa melucu juga. Kadang-kadang dia keras kepala.

Aku senang bisa berteman dengannya, sampai aku tak menyadari bahwa hatiku menaruh simpati yang lebih daripada seorang teman. Aku menyukainya, terlepas dari beberapa hal yang tidak kusukai darinya.

Aku menyukainya sampai-sampai aku meyakini bahwa akan ada jalan bagi kami untuk bersatu, suatu saat nanti.

Namun, suatu hari, ketika aku menjadi lebih dekat dengannya, dan salah satu anggota keluarganya, dia berkata kepadaku bahwa tidak mungkin bagi kami untuk bersatu. Maksudku, bersatu sebagai sepasang kekasih. Dia lebih tertarik dengan sejenis dengannya.

Entah benar atau tidak. Tapi, kepalaku terus berpikir bahwa (mungkin) itu hanya alasan dia saja untuk menolakku.

Tapi, bisa jadi apa yang dia katakan itu benar. Terlebih ketika anggota keluarganya mengiyakan informasi tersebut.

Patahlah hatiku.

Tapi, aku tak ingin menunjukkan patah hati yang kurasakan. Aku berusaha untuk tetap ceria dan tampak normal-normal saja. Aku berusaha untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Aku tahu percis dampak yang akan aku rasakan kalau aku menceritakannya. Aku akan sedih.

Tapi, dengan menahan rasa sedihku, tubuhku justru memberikan reaksi yang tidak biasa. Seperti air sungai yang tak dibiarkan mengalir. Begitulah kira-kira analoginya.

Emosiku menjadi tak biasa. Kalaupun aku tersenyum, mataku menunjukkan kehampaan. Walaupun aku ceria, hatiku sedih. Meskipun aku senang berada dalam keramaian, aku merasa kesepian.

Aku tidak menikmati hari-hariku di saat teman-temanku cemburu kepadaku.

Aku tak pernah menangis. Oh, mungkin lebih tepatnya jarang menangis. Bahkan ketika aku tahu dia tak akan pernah memilihku. Sebenarnya aku bisa saja langsung menangis ketika mendengarnya, tapi aku tak membiarkan emosi sedihku muncul. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bersyukur dan tetap bahagia walaupun hanya bisa berteman dengannya.

Tapi, tak baik melawan arah. Aku harus melepaskan rasa sedihku, lalu melanjutkan perjalanan hidup ini (move on).

Akhirnya, malam ini kucoba menonton film yang dapat membuatku menangis. Aku menonton “50 First Dates”, dan benar saja aku menangis mengingat apa yang terjadi padaku.

Banyak orang bilang, “Cocok!”

Tapi apalah dayaku, ujung jalan kami tak tampak sama.

Malam ini, kubiarkan air mataku mengalir. Hanya untuk membuat hatiku lega. Berharap, setelah ini aku dapat benar-benar mengikhlaskannya.


Ternyata, aku tak menyadari hatiku sendiri, yang ingin menjerit atau sekadar meneteskan air mata.

Ternyata, aku acuh tak acuh dengan perasaanku sendiri ketika sebuah penolakan aku dapatkan.

Ternyata, aku mengabaikan respons naluriku yang menginginkan berekspresi sebagaimana-mestinya.


Malam ini, di Konstanz, aku minta maaf kepada diriku sendiri, kepada hatiku, dan kepada pikiranku, yang telah kuabaikan selama beberapa waktu.

Semoga, aku kembali bersemangat dan menemui ujung yang indah. Terima kasih, Cinta.

.

.

Konstanz, Jerman, April 2018

Robita

Diposkan pada artikel, Opini

Jam Makan Siang di Aussie Dibatasi


Jam makan siang yang bertepatan dengan jam istirahat, waktu untuk salat dan jeda dari hiruk pikuk pekerjaan adalah waktu yang sangat dinantikan. Ya gak? Hehe…

Nah, kali ini aku mau bercerita tentang jam makan siang di Aussie. Soalnya aku mengalami ini beberapa kali ketika masih di sana.

Facebook mengingatkanku bahwa aku punya cerita menarik yang ingin kusampaikan melalui blog ini.

2015, kala itu aku masih di Australia. Suatu hari, aku ingin membeli makan siang di luar, lagi malas masak dan perut sudah kadung kelaparan, sudah kukuruyuk.

Di daerah tempat aku tinggal, Alexandra, kuputuskan untuk makan siang di pub. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.15 waktu setempat, kalau ingatanku tak salah. Hehe… Saat itu aku lapaaaar banget! Masuklah ke sebuah pub yang terletak di perempatan jalan Grant Street. Biasanya, mereka punya menu khusus lunch yang berbeda setiap harinya. Otakku sudah bertanya-tanya, kira-kira menu apa yang mereka sajikan untuk makan siang kali ini.

Begitu masuk ke pub tersebut, seorang pramuniaga bertanya, “Ada yang bisa dibantu?”

“Aku mau makan siang di sini, kira-kira menu hari ini ada apa aja ya?” tanyaku sumringah.

“Oh maaf, jam makan siang sudah lewat. Jadi, kami tidak bisa melayani pesanan makan siang lagi,” jawabnya.

“Hah?” tanyaku tak percaya.

“Iya, di sini jam makan siang hanya sampai pukul 2 siang.”

Yaaaah… aku makan apa dong? Udah laper banget pula!

“Oh oke, terima kasih ya,” jawabku menyerah dan berjalan keluar pintu sambil memikirkan makanan apa yang bisa aku makan untuk siang hari ini.

Tidak aku sangka, ternyata tertibnya mereka terhadap waktu tak hanya berlaku di rumah dan di sekolah saja, tetapi juga di pub dan restoran-restoran.

Di kesempatan yang lain, aku mengalami hal yang sama. Saat itu adalah beberapa hari sebelum aku pulang ke Indonesia. Aku ingin sekali mengunjungi Great Ocean Road. Kuajak Ben dan Adit untuk menemaniku ke Great Ocean Road. Aku tak ingin melewatkan satu tempat pun di Australia sebelum aku kembali ke Indonesia.

Ben menyetir membawa mobil tuanya. Aku duduk di depan dan Adit di belakang. Rasa deg-degan muncul sangat kuat. Aku juga canggung. Karena duduk di samping Ben. Jujur saja saat itu aku menyukainya, hingga pada suatu detik aku mendengar dia mengatakan bahwa dia baru saja punya pacar.

Yaaah… telat! Padahal aku udah siapkan mental kalau memang harus aku yang nembak duluan.

Mengesalkan sekali!

“Baru saja jadian,” kata Ben.

Hiks, kenapa tidak dari dulu kukatakan padanya bahwa ada ruang di hatiku untuknya. Ruang yang sangat rapi dan siap dihuni.

Setelah mendengar pernyataan Ben tentang pacarnya, aku berusaha untuk tidak berubah. Aku berusaha untuk menunjukkan ekspresi yang sama, antusias yang sama, dan kegembiraan yang sama. Fokuskan saja bahwa kami akan bersenang-senang di Great Ocean Road hari ini. Bersama.

Dalam perjalanan, kudengar terjadi kebakaran di lingkungan sekolah di Alexandra. Marian meneleponku dan menanyakan lokasiku saat itu. Langsung saja kujawab bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju Great Ocean Road bersama temanku. Marian senang bahwa aku tidak sedang di Alexandra. Setidaknya aku tidak berada di lokasi terjadinya kebakaran.

Setelah menceritakan kepada Ben bahwa sedang terjadi kebakaran di lingkungan sekolahku, Ben menceritakan peristiwa kebakaran hutan yang dahsyat yang terjadi pada tahun 2009. Katanya, saat itu cuaca sangat panas, beberapa hari bahkan berminggu-minggu hujan tak turun. Udara sangat kering. Orang Australia mengenang peristiwa itu dengan nama black Saturday. Peristiwa itu memang terjadi pada hari Sabtu dan api membakar apapun yang dilaluinya. Suasan menjadi kelam. Banyak orang berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Beberapa selamat, tapi tak sedikit pula yang menjadi korban. Sungguh, ini bukan cerita yang bagus untuk dikenang.

Setelah bercerita panjang lebar tentang black Saturday, Ben bertanya padaku.

“Kalau kita tidak sampai Great Ocean Road, kamu kecewa gak?”

“Hm…,” aku tak langsung menjawab, tapi juga tak ingin membebaninya untuk mengantarkanku ke Great Ocean Road. Jadi, kuputuskan, “Ya, tidak apa-apa. Jadinya kita akan ke mana?”

“Kita akan ke Bell beach,” jawab Ben.

“Sebenarnya kita sudah berada di jalur Great Ocean Road. Hanya saja aku tidak bisa mengantarmu sampai tujuan yang kamu inginkan. Maaf ya,” sambungnya.

“Oh, jadi kita sudah berada di jalur Great Ocean Road? Jadi, jalan ini dapat membawa kita ke Great Ocean Road?” tanyaku antusias juga penasaran.

“Iya, betul.”

Tak lama kemudian, dia mengarahkan mobilnya ke sebuah pantai. Tak terlalu ramai, tapi ombaknya bagus untuk berselancar.

“Kita akan berselancar?” tanyaku.

“Yuhu!” jawabnya.

“Wah… serius?”

“Iya, serius. Kamu pernah berselancar?”

“Ya, pernah, waktu di Phillip Island bersama murid dan staf sekolah.”

“Wow… keren tuh!”

“Iya, dan kamu tahu gak, aku berhasil berdiri di atas papan selancar pada percobaan pertama loh!” jawabku bangga, “tapi sayangnya tak ada yang menyaksikan hal itu selain instrukturku. Jadi gak ada yang percaya kalau aku berhasil berdiri di atas papan selancar.”

“Nanti aku bantu kamu untuk belajar berselancar lagi ya.”

“Beneran? Yes! Aku mau!”

Kekecewaanku terhadapnya, tentang pacar yang baru saja dimilikinya, pupus begitu saja. Digantikan dengan kegembiraan bahwa kami akan berselancar.

Tak lupa kuajak Adit untuk mencoba berselancar juga. Itu adalah kali pertama Adit berselancar. Secara, dia belum lama juga tiba di Australia. Dengan senang hati Adit mengikuti ajakanku.

Berselancarlah kami. Tidak bertiga, karena ternyata Ben mengajak temannya dan temannya mengajak pacarnya yang orang Tiongkok itu. Jadilah kami berlima berselancar di pantai Bell.

Senang?

Pastinya dong!

Ya… walaupun secara tidak langsung aku menunjukkan bentuk tubuhku dalam balutan baju menyelam ke hadapan Ben, Adit, Daniel, dan pacarnya Daniel. Tapi pacarnya Daniel tidak ikut berselancar. Dia hanya duduk di tepi pantai.

Setelah beberapa jam. Tak kunjung aku berhasil berdiri di atas papan selancar. Tapi tubuhku sudah mulai kelelahan. Ben melihatnya. Sontak dia mengajakku keluar dari pantai dan beristirahat sejenak.

Oh my God! He is such a good man! Meleleh aku dibuatnya. Dia perhatian banget! Tapi sayangnya sudah ada yang punya.

Setelah beberapa saat, dia menawariky untuk kembali berselancar. Kuiyakan tawarannya itu. Berselancarlah kami. Namun, cuaca tampak mendung dan langit menjadi gelap. Lalu, Ben mebgajakku untuk menyudahi kegiatan berselancar ini. Berbahaya, katanya.

Okay. Akhirnya selesai sudah sesi berselancar saat itu. Kulihat jam di gawaiku menunjukkan pukul 2.30 siang. Ben bilang lapar. Aku dan yang lainnya mengiyakan, bahwa kami juga sudah merasa lapar. Berselancar membuat kami kelaparan.

Tapi, seperti yang sudah kualami sebelumnya. Ini sudah di atas jam 2 siang. Aku yakin tak ada restoran yang mau melayani kami makan siang. Sekalipun kami bayar dua kali lipat. Takkan ada.

Ben sudah pasti tahu tentang jam makan siang di sini. Lalu, ia berusaha menemukan tempat makan lain yang masih menyediakan makanan untuk kami makan.

Yap! Dia menemukan sebuah warung kecil di sebuah gang, atau tepatnya warung kecil yang terletak di antara 2 restoran. Lokasinya masih di daerah Bell. Di sana, hanya tersisa sushi. Tapi, itu sudah cukup untuk mengganjal perut kami yang keroncongan.

Dipesanlah sushi. Kami semua pesan sushi karena tak ada menu lain yang tersedia. Ben duduk di sampingku. Ya Allah… kenapa dia harus sudah punya pacar sih? Kenapa dia tak menjomblo sampai hari ini? Kalau jomblo kan kami bisa jadian. Ya kan? Hatiku terus berdialog. Tapi tak lama kemudian dia berdiri untuk mengambil sushi. Lalu, duduklah Adit di sampingku dan Ben di samping Adit. Yaaaahhh…

Simpulannya…

Jadi, jangan berharap bisa dilayani makan siang di luar jam makan siang. Khususnya di restoran-restoran Australia. Mungkin di restoran-restoran Asia masih bisa makan siang di atas jam 2 siang, tapi tidak di restoran atau pub Australia. Orang Australia itu tertib. Mereka bekerja saat waktunya bekerja, mereka istirah di waktu istirahat, dan mereka liburan saat waktu liburan tiba (walau kadang-kadang ada juga yang liburan duluan atau memperpanjang masa liburannya). Setidaknya, mereka tidak bekerja di waktu istirahat dan tidak istirahat di waktu bekerja. Begitu pula dengan jam makan siang. Mereka makan siang di waktu istirahat makan siang dan memulai kembali aktivitas mereka setelah jam makan siang habis.

Belajar dan biasakan tertiblah dengan waktu

Diposkan pada artikel, Opini

Sekilas Info Tentang Karakter Orang Australia


Bulan ini saya cukup aktif menulis di blog walau tidak semuanya langsung saya publikasikan. Mungkin kebuntuan saya mengerjakan tesis membawa saya menulis di blog. Jujur saja menulis di blog lebih mudah dan lebih ekspresif daripada menulis tesis, ahaha… (ya iyalah!)

Oke, kali ini saya ingin berbagi beberapa pengalaman saya tinggal di Australia selama tahun 2015. Tulisan saya ini terinspirasi tulisan Bundanya Ben di sini.

Selama setahun tinggal di sana, tentunya ada banyak hal yang saya alami, mulai dari gegar budaya (shock culture) sampai hal-hal tentang orang Australia yang di luar dugaan saya.

SATU. Sebelum pergi ke Australia, aku pikir orang-orang di Australia itu sama percis seperti orang Amerika atau orang Eropa yang sering aku lihat di acara-acara televisi atau di film-film Hollywood, contohnya kalau di film-film barat anak-anak dapat memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya, berbeda dengan orang Asia, khususnya Indonesia, iya kan?

Ternyata eh ternyata, orang Australia tidak seperti itu loh! Selama setahun tinggal di sana, tidak pernah sekali pun terdengar anak-anak memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya. Mereka akan memanggil orang tuanya dengan kata mom dan dad. Mungkin ada pengaruh sosial-kultural dan geografis antara Australia dengan Asia atau mungkin juga itulah yang sebenarnya, itulah faktanya, sedangkan yang ditunjukkan oleh film-film itu hanya fiktif belaka.

DUA. Sistem pendidikan di Australia mirip dengan sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam hal jenjang dan masa sekolahnya. Pendidikan SD dilakukan selama 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Sama kan kaya di Indonesia? Nah, tapi bedanya di Australia itu ada yang namanya pre-elementary.  Kelas pre-elementary ini dijalani siswa yang mau masuk SD, durasinya selama setahun. Jadi, di sini anak-anak yang mau masuk SD akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah dasar tersebut. Dengan kata lain, anak-anak yang akan memulai sekolah dasar diharapkan tidak kaget dengan lingkungan barunya, dengan sistem belajarnya, dan jam belajar di sekolah.

Namun, mereka yang mengikuti kelas pre-elementary ini tidak dipaksa untuk langsung belajar loh. Ya… kan tujuannya juga hanya pengenalan lingkungan sekolah dan pembiasaan diri mereka dengan kegiatan yang ada di sekolah.

TIGA. Cowo-cowo Australia gak malu untuk mengerjakan  pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, membereskan rumah, dan sebagainya. Di Indonesia, biasanya pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh perempuan kan? (Kalau pun ada cowo Indonesia yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jumlahnya tak banyak.) Nah, para suami atau pasangan hidup di sana mau mengerti kesibukan pasangannya, terus mereka juga gak malu untuk bersih-bersih rumah, belanja keperluan dapur, masak, nyuci baju, dan sebagainya. Tapi, bukan berarti cowo-cowo di Australia gak pekerja keras loh ya, mereka pekerja keras banget malah. Mereka mengerti banget perempuan itu sukanya apa.

Nah, cowo-cowo Aussie sebenernya suka banget dengan cewe Indonesia, (well mostly western pun indeed). Kulit sawo matang yang eksotis, senyumnya yang manis, dan perhatian terhadap pasangan/suaminya, itu sesuatu yang sweeeeetttt banget! Mereka suka. Tapi ya itu, aku sendiri gak dapet cowo Aussie, entah karena apa! Hahaha… mungkin memang belum berjodoh saja kali ya? 😅

EMPAT. Anak-anak di Australia juga diajarkan untuk saling menghormati terhadap mereka yang berbeda suku bangsa, berbeda agama, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Contohnya, ketika anak-anak di sana cukup penasaran dengan alasan saya berhijab, guru mereka selalu menekankan batasan dalam rasa keingintahuannya. Maksudnya, mereka boleh bertanya dan mencari tahu, tetapi tidak boleh mengenyampingkan kesopanan terhadap orang yang ditanyainya.

Meskipun keempat hal tersebut tidak berlaku untuk seluruh masyarakat Australia, tetapi setidaknya orang-orang yang kutemui selama tinggal di sana seperti itu, baik-baik semuanya, sangat menghormati walaupun ada rasa penasaran yang tinggi, dan bersahabat.

LIMA. Orang Aussie suka banget pergi ke pub. Kalau menurut aku, pub itu perpaduan antara warteg dengan cafe. Bisa buat tempat nongkrong, main biliar dan beberapa permainan lainnya, tempat merayakan pesta atau ngumpul-ngumpul, makan-makan, minum-minum, dan nonton footie bareng. Ini tuh tempat favorit bagi orang Aussie.

Ada hal menarik tentang pub. Ini pengalamanku sendiri.

Waktu itu aku mau makan siang. Berhubung biasanya di pub ada menu spesial, aku ingin makan di pub hari itu. Waktu itu aku belum tahu kalau jam makan siang di Aussie itu terbatas. Aku pikir sama seperti di Indonesia, bisa makan jam berapa pun, eh di sini enggak dong! Jam makan siang di sini hanya sampai pukul 14.00. Jadi kalau mau makan siang di atas jam 2, gak akan dilayani. Maksudnya, ya… mereka gak akam serve makanan ke customer. Tapi kalau mau minum sih bisa aja. Yang pasti gak akan melayani menu makan siang.

Lapar tak dapat ditahan. Jadi aku pergi ke kedai fish and chips. Kalau yang ini sih mereka melayani pelanggan jam berapapun. Dengan harga terjangkau dan porsi banyak, cukuplah buat perut kecilku yang sedang kelaparan ini. Hehe…

Menurut aku, adanya batasan jam makan siang seperti itu membuat orang-orangnya tertib terhadap waktu. Jadi, aku sih menyimpulkan seperti ini:

Istirahatlah di waktu istirahat, makanlah di waktu makan, dan bekerjalah di waktu bekerja.

Jangan abaikan hal sepele seperti ini walaupun kamu seorang pekerja keras. (Ini sih kata-kata buat diri sendiri yang sering menunda-nunda jam makan siang, hihi…)

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang cukup menarik untuk diceritakan, tetapi biar ceritanya berepisode-episode kucukupkan sampai di sini dulu ya. Nanti akan kusambung ketika ada waktu luang dan ketika pikiranku sudah segar kembali.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisanku di blog ini. Tunggu tulisanku yang lainnya dengan cara subscribe blog ini ya! 🙂

Diposkan pada artikel, Opini

Yudhistira, Salah Satu Akar Masalah dalam Cerita Mahabarata


Tulisan saya kali ini adalah sebuah opini terhadap cerita Mahabarata yang saya tonton di televisi. Jadi, kepada semua pengunjung dan pembaca blog saya, saya harapkan kebijaksanaannya dalam menanggapi opini saya ini.

Judul yang saya tulis terdengar provokatif ya! Tapi, memang di situlah inti opini yang akan saya sampaikan ini.

Dalam cerita Mahabarata versi India yang ditayangkan di layar televisi, karakter tokoh-tokohnya sungguh berbeda dengan karakter tokoh Mahabarata yang aku dengar dari dongeng-dongeng masa kecil. Tapi, ya… bukan itu masalahnya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah karakter Yudhistira yang lemah dan (maaf) bodoh. Akan kuuraikan alasannya satu per satu.

  1. Drupadi terpaksa menikah dengan kelima anak Pandawa karena Arjuna tak mau melangkahi kakaknya, Yudhistira. Coba kalau Yudhistira lebih atraktif, lebih menunjukkan pesona dan kemampuannya, mungkin dia bisa mendapatkan istri lebih dulu sebelum Arjuna. Ya… walaupun karakter Yudhistira yang lembut dan (katanya) bijaksana itu sesuatu yang positif, tetapi ia juga seharusnya menunjukkan taringnya.
  2. Kekalahan Pandawa pada saat bermain dadu. Yudhistira bermain dadu melawan Duryodhana. Sejak beberapa kekalahan pertama yang diterima Yudhistira, kalau ia berpikir lebih kritis dan mencoba mengenali kejanggalan yang terjadi di dalam permainan, tentunya Pandawa tidak harus menerima rasa malu yang teramat pedih, terlebih lagi sampai mempertaruhkan Drupadi. Kalau alasan ketidakberdayaannya adalah karena janji, mengapa ia tak berpikir panjang tentang risiko dari janji tersebut? Dengan kesembronoannya ia membuat janji, apalagi berjanji kepada Duryodhana dan Sangkuni, tidakkah itu menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang bijaksana, atau secara kasarnya (maaf) bodoh.
  3. Ketika Drupadi merasa dilecehkan oleh Dursasana, Yudhistira tak berucap sepatah kata pun untuk berusaha membela Drupadi. Arjunalah yang membela Drupadi dengan segala kemampuannya. Arjuna juga yang membujuk Drupadi untuk tidak memberikan kutukan kepada Kerajaan Hastina/Astina Pura, walaupun pada akhirnya bujukan Arjuna tak menghentikan Drupadi untuk mengutuk orang-orang yang ada di sana.
  4. Yudhistira adalah anak pertama, karakternya yang lemah lembut memang cocok untuk mengayomi adik-adiknya, tetapi tak lantas diam dan menurut begitu saja, apalagi menurut kepada Duryodhana.
  5. Kelembutan karakter Yudhistira dalam cerita Mahabarata versi India ini membuat ia dilecehkan berkali-kali oleh Duryodhana, sejak pertama kali masuk ke istana hingga mereka harus pergi dari istana Hastina/Astina Pura. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan karakter lemah lembut seorang pria, tetapi karakter yang dimiliki Yudhistira ini terlalu lemah sampai-sampai ia hampir kehilangan semuanya, termasuk kehilangan istrinya yaitu Drupadi. Cowok macam apa coba yang mempertaruhkan istrinya sendiri demia sebuah permainan (judi)!

Dulu, aku suka dengan nama Yudhistira, bahkan berencana untuk memberikan nama itu jika di masa depan aku mendapatkan anak laki-laki. Tapi sekarang gak mau lagi! Hoho…

Ternyata tak banyak yang dapat kusampaikan di sini. Berhubung yang muncul di otakku saat ini hanya 5 poin tersebut, haha…  jadi kusudahi saja ya. Nanti akan kuperbarui ketika muncul hal lainnya.

Kalian punya pendapat yang berbeda? Silakan tuliskan di kolom komentar ya. Terima kasih.

 

Sekali lagi, ini hanyalah opini saya tentang salah satu akar masalah dalam kisah legenda Mahabarata. Semoga pembaca dapat menanggapi opini saya ini dengan bijaksana. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini ya.

Diposkan pada artikel, Opini

Saat Orang Tua dan Anak Tak Sejalan


Kali ini aku mau bercerita tentang hubungan anak dan orang tuanya ketika mereka tak sejalan.

Hubungan anak-orang tua tak selamanya mulus, sama seperti hubungan-hubungan lainnya. Ada kalanya hubungan orang tua dengan anak dibumbui masalah atau perdebatan yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Ada banyak masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua, salah satunya ketika anak memiliki pola pikirnya sendiri yang cukup berbeda dengan pola pikir orang tua.

Suatu ketika, seorang anak berada di tingkatan terakhir masa kuliahnya. Ia berusaha keras agar dapat lulus tepat waktu, seperti yang diharapkan. Akan tetapi, rencana hanyalah rencana karena kadang-kadang ada beberapa hal yang terjadi di masa depan yang tidak terduga terjadi. Akibatnya, rencana ya hanya rencana, jalan penelitian tidak sesuai ekspektasi.

Pak, Bu, saya ingin sekali bilang kepada Bapak dan Ibu, saya di sini benar-benar belajar. Belajar menjadi peneliti, belajar menjadi pakar, belajar bertanggung jawab dengan ilmu yang saya dapatkan, dan belajar menjadi seseorang yang berguna serta jujur. Saya tidak ingin sekadar lulus lalu menyandang gelar, Pak. Saya ingin lebih dari itu, yakni tanggung jawab dan profesional.

Beberapa orang tua kurang sabar dengan proses yang dijalani anaknya, bahkan kadang ada juga yang memutuskan jalan si anak dan membawanya ke jalan yang lain sesuai dengan rencana si orang tua.

Selain itu, setiap anak punya karakter dan caranya sendiri. Yang perlu orang tua lakukan hanyalah dukungan, baik tersurat maupun tersirat, baik secara materi maupun nonmateri. 

Bagi saya, menjadi peneliti adalah hal yang serius. Saya tidak bisa dan tidak boleh main-main dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu, Pak, Bu, berikan saya ruang sendiri agar dapat menemukan diri saya sendiri di sana, agar dapat menemukan jalan keluar, dan agar dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab, khususnya terkait dengan penelitian yang saya lakukan ini.

Di sisi lain, orang tua juga kerap melihat anaknya dengan sudut pandang orang lain. Hal inilah yang kadang membuat anak stres dan merasa orang tuanya seperti bukan orang tuanya sendiri. Saya tidak tahu apakah orang tua mengetahui hal ini atau tidak.

Anak yang sudah tumbuh dewasa juga tidak dapat disaturuangkan dengan saudaranya, baik dengan umur yang berdekatan maupun dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Alasannya adalah alasan paikologis.

Simpulannya, orang tua hendaknya lebih bersabar dalam menghadapi proses yang dijalani anaknya. Sebaiknya orang tua tidak menekan atau memaksakan kehendak dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sifatnya menghancurkan atau melemahkan rasa percaya diri anak. Selain itu, orang tua juga harus lebih selektif dalam memilih kata-kata. Akan tetapi, hal ini tak berarti orang tua percaya begitu saja dengan anak. Bingung ya? Haha… Kalau mau tahu lebih jelasnya, tanyakan kepada psikolog atau pendidik-pendidik, khususnya di jurusan Bimbingan Konseling.

Mudah-mudahan opini saya kali ini bermanfaat ya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca opini ini.

Diposkan pada artikel, Opini

Perempuan, Usia, Adat, dan 24 Tahun


Saya adalah seorang perempuan, anak pertama dari tiga bersaudara. Umur saya saat ini 24 tahun. Saya senang memasang target-target yang ingin saya capai, karena dengan seperti itu hidup saya tidak statis, tidak membosankan, dan selalu ada alasan untuk terus melangkah.

image
Catch your dreams, @riannisa162

Saya baru saja melangkahkan kaki saya di negeri kangguru pada tahun 2015. Seperti sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat perizinan orang tua yang cukup sulit dan hal lainnya yang berkenaan dengan budaya dan status saya sebagai anak perempuan. Orang tua saya masih memegang erat budaya yang konon katanya anak perempuan itu tidak boleh pergi jauh-jauh. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan kehendak saya yang sangat ingin bepergian ke luar negeri untuk mengeksplor isi dunia. Saya yakin, dengan cara tersebut saya dapat mempelajari banyak hal yang tidak pernah saya temukan sebelumnya di buku atau di guru-guru saya.

Dunia ini terlalu luas untuk dibiarkan begitu saja. Sangat disayangkan kalau kita tidak pernah menjejakkan kaki di belahan dunia lainnya selain negeri Ibunda. Sayang disayangkan kalau kita sudah puas dengan apa yang ada di tanah kelahiran. Ada banyak rahasia yang perlu kita telusuri. Ada banyak misteri yang perlu kita ketahui. Tapi bukan berarti saya tidak bersyukur dengan apa yang ada di tanah Ibunda. Saya hanya ingin membuka cakrawala dan alam buana saya. Saya ingin mengetahui banyak hal di berbagai penjuru dunia.

Tapi, kembali ke usia dan budaya, di usia saya saat ini dan status saya sebagai anak perempuan, orang tua sangat menginginkan saya untuk segera menikah. Sementara saya masih ingin mengeskplor isi dunia.

Menikah bukanlah perkara mudah, bukan juga perkara sulit. Mudah dan sulitnya menikah itu tergantung situasi di mana posisi kita saat itu.

Kembali ke perkara usia dan budaya. Selalu ada dua sisi dalam hal apapun di dunia ini, termasuk perihal usia dan budaya yang saya hadapi saat ini. Dua sisi tersebut terdiri atas sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif yang berkenaan dengan usia 24 yaitu adanya sebuah penelitian yang menyatakan bahwa menikah di rentang usia 20-26 untuk perempuan adalah masa-masa yang baik karena pada usia tersebut perempuan berada pada masa suburnya. Selain itu, pada usia tersebut perempuan juga berada pada puncak kecantikan alaminya (yang satu ini hanya pendapat saya berdasarkan pengamatan pribadi saya terhadap orang-orang di sekitar saya). Akan tetapi di sisi lain, yang mana bisa membawa dampak negatif maupun dampak positif dari usia 24 tahun adalah puncaknya semangat dan ambisi untuk meraih apapun yang ia inginkan. Keegoan akan meninggi seolah ia yakin semua akan berjalan baik dan sesuai rencana, bahkan ia merasa bahwa ia tak perlu lagi nasihat orang tua karena keyakinan dan keegoannya memantapkan hatinya untuk terus melihat ke depan, tanpa melihat ke arah yang lainnya. Sisi positifnya, pada usia tersebut semangat dan idealisme serta rasa optimisme akan sangat menggelora, sangat baik kalau dimanfaatkan untuk membangun karier dan masa depan.

Dari sudut pandang budaya, wanita yang berusia 24 dan belum kunjung menikah dikhawatirkan akan menjadi perawan tua, tanpa mempertimbangkan potensi karier dan masa depan dari sudut pandang akademik. Selain itu, adat budaya juga memberlakukan bahwa wanita muda lebih disenangi kaum adam ketimbang wanita yang sudah mapan. Adanya ketidaknyamanan dari kaum adam ketika secara akademik atau materi wanita melebihi lelakinya membuat wanita harus merunduk.

Terlihat seperti zaman Kartini?

Hm… tergantung dari mana Anda menyikapi hal ini, tergantung sudut pandang siapa yang Anda gunakan untuk menyikapi hal ini. Semuanya tergantung, karena hampir semua hal itu seperti koin, memiliki dua sisi yang berbeda.

Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?

Silakan tulis komentar Anda pada kolom komentar di bawah ini.