Posted in artikel, Opini

Sekilas Info Tentang Karakter Orang Australia


Bulan ini saya cukup aktif menulis di blog walau tidak semuanya langsung saya publikasikan. Mungkin kebuntuan saya mengerjakan tesis membawa saya menulis di blog. Jujur saja menulis di blog lebih mudah dan lebih ekspresif daripada menulis tesis, ahaha… (ya iyalah!)

Oke, kali ini saya ingin berbagi beberapa pengalaman saya tinggal di Australia selama tahun 2015. Tulisan saya ini terinspirasi tulisan Bundanya Ben di sini.

Selama setahun tinggal di sana, tentunya ada banyak hal yang saya alami, mulai dari gegar budaya (shock culture) sampai hal-hal tentang orang Australia yang di luar dugaan saya.

SATU. Sebelum pergi ke Australia, aku pikir orang-orang di Australia itu sama percis seperti orang Amerika atau orang Eropa yang sering aku lihat di acara-acara televisi atau di film-film Hollywood, contohnya kalau di film-film barat anak-anak dapat memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya, berbeda dengan orang Asia, khususnya Indonesia, iya kan?

Ternyata eh ternyata, orang Australia tidak seperti itu loh! Selama setahun tinggal di sana, tidak pernah sekali pun terdengar anak-anak memanggil orang tua mereka dengan nama orang tuanya. Mereka akan memanggil orang tuanya dengan kata mom dan dad. Mungkin ada pengaruh sosial-kultural dan geografis antara Australia dengan Asia sehingga mereka turut memerhatikan kesopanan berbicara kepada orang tuanya. (But it doesn’t mean western are rude. No, it’s just habbit or part of their culture.)

DUA. Sistem pendidikan di Australia mirip dengan sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam hal jenjang dan masa sekolahnya. Pendidikan SD dilakukan selama 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Sama kan kaya di Indonesia? Nah, tapi bedanya di Australia itu ada yang namanya pre-elementary.  Kelas pre-elementary ini dijalani siswa yang mau masuk SD, durasinya selama setahun. Jadi, di sini anak-anak yang mau masuk SD akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah dasar tersebut. Dengan kata lain, anak-anak yang akan memulai sekolah dasar diharapkan tidak kaget dengan lingkungan barunya, dengan sistem belajarnya, dan jam belajar di sekolah.

Namun, mereka yang mengikuti kelas pre-elementary ini tidak dipaksa untuk langsung belajar loh. Ya… kan tujuannya juga hanya pengenalan lingkungan sekolah dan pembiasaan diri mereka dengan kegiatan yang ada di sekolah.

TIGA. Cowo-cowo Australia gak malu untuk mengerjakan  pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, membereskan rumah, dan sebagainya. Di Indonesia, biasanya pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh perempuan kan? (Kalau pun ada cowo Indonesia yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jumlahnya tak banyak.) Nah, para suami atau pasangan hidup di sana mau mengerti kesibukan pasangannya, terus mereka juga gak malu untuk bersih-bersih rumah, belanja keperluan dapur, masak, nyuci baju, dan sebagainya. Tapi, bukan berarti cowo-cowo di Australia gak pekerja keras loh ya, mereka pekerja keras banget malah. Mereka mengerti banget perempuan itu sukanya apa. Eh tapi buat cewe-cewe muslim berhijab, jangan terlalu ngarep ya, soalnya agak susah kalau mau dapetin mereka, kecuali memang merekanya punya ketertarikan terhadap Islam. Itu sih beda ceritia, haha.

Nah, cowo-cowo Aussie sebenernya suka banget dengan cewe Indonesia, (well mostly western pun indeed). Kulit sawo matang yang eksotis, senyumnya yang manis, dan perhatian terhadap pasangan/suaminya, itu sesuatu yang sweeeeetttt banget! Mereka suka. Tapi ya itu, aku sendiri gak dapet cowo Aussie karena berhijab, atau mungkin emang belum berjodoh aja kali ya? Hihi… (ketahuan ngarepnya) ^_^

EMPAT. Anak-anak di Australia juga diajarkan untuk saling menghormati terhadap mereka yang berbeda suku bangsa, berbeda agama, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Contohnya, ketika anak-anak di sana cukup penasaran dengan alasan saya berhijab, guru mereka selalu menekankan batasan dalam rasa keingintahuannya. Maksudnya, mereka boleh bertanya dan mencari tahu, tetapi tidak boleh mengenyampingkan kesopanan terhadap orang yang ditanyainya.

Meskipun keempat hal tersebut tidak berlaku untuk seluruh masyarakat Australia, tetapi setidaknya orang-orang yang kutemui selama tinggal di sana seperti itu, baik-baik semuanya, sangat menghormati walaupun ada rasa penasaran yang tinggi, dan bersahabat.

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang cukup menarik untuk diceritakan, tetapi biar ceritanya berepisode-episode kucukupkan sampai di sini dulu ya. Nanti akan kusambung ketika ada waktu luang dan ketika pikiranku sudah segar kembali.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisanku di blog ini. Tunggu tulisanku yang lainnya dengan cara subscribe blog ini ya! 🙂

 

Advertisements
Posted in artikel, Opini

Yudhistira, Salah Satu Akar Masalah dalam Cerita Mahabarata


Tulisan saya kali ini adalah sebuah opini terhadap cerita Mahabarata yang saya tonton di televisi. Jadi, kepada semua pengunjung dan pembaca blog saya, saya harapkan kebijaksanaannya dalam menanggapi opini saya ini.

Judul yang saya tulis terdengar provokatif ya! Tapi, memang di situlah inti opini yang akan saya sampaikan ini.

Dalam cerita Mahabarata versi India yang ditayangkan di layar televisi, karakter tokoh-tokohnya sungguh berbeda dengan karakter tokoh Mahabarata yang aku dengar dari dongeng-dongeng masa kecil. Tapi, ya… bukan itu masalahnya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah karakter Yudhistira yang lemah dan (maaf) bodoh. Akan kuuraikan alasannya satu per satu.

  1. Drupadi terpaksa menikah dengan kelima anak Pandawa karena Arjuna tak mau melangkahi kakaknya, Yudhistira. Coba kalau Yudhistira lebih atraktif, lebih menunjukkan pesona dan kemampuannya, mungkin dia bisa mendapatkan istri lebih dulu sebelum Arjuna. Ya… walaupun karakter Yudhistira yang lembut dan (katanya) bijaksana itu sesuatu yang positif, tetapi ia juga seharusnya menunjukkan taringnya.
  2. Kekalahan Pandawa pada saat bermain dadu. Yudhistira bermain dadu melawan Duryodhana. Sejak beberapa kekalahan pertama yang diterima Yudhistira, kalau ia berpikir lebih kritis dan mencoba mengenali kejanggalan yang terjadi di dalam permainan, tentunya Pandawa tidak harus menerima rasa malu yang teramat pedih, terlebih lagi sampai mempertaruhkan Drupadi. Kalau alasan ketidakberdayaannya adalah karena janji, mengapa ia tak berpikir panjang tentang risiko dari janji tersebut? Dengan kesembronoannya ia membuat janji, apalagi berjanji kepada Duryodhana dan Sangkuni, tidakkah itu menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang bijaksana, atau secara kasarnya (maaf) bodoh.
  3. Ketika Drupadi merasa dilecehkan oleh Dursasana, Yudhistira tak berucap sepatah kata pun untuk berusaha membela Drupadi. Arjunalah yang membela Drupadi dengan segala kemampuannya. Arjuna juga yang membujuk Drupadi untuk tidak memberikan kutukan kepada Kerajaan Hastina/Astina Pura, walaupun pada akhirnya bujukan Arjuna tak menghentikan Drupadi untuk mengutuk orang-orang yang ada di sana.
  4. Yudhistira adalah anak pertama, karakternya yang lemah lembut memang cocok untuk mengayomi adik-adiknya, tetapi tak lantas diam dan menurut begitu saja, apalagi menurut kepada Duryodhana.
  5. Kelembutan karakter Yudhistira dalam cerita Mahabarata versi India ini membuat ia dilecehkan berkali-kali oleh Duryodhana, sejak pertama kali masuk ke istana hingga mereka harus pergi dari istana Hastina/Astina Pura. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan karakter lemah lembut seorang pria, tetapi karakter yang dimiliki Yudhistira ini terlalu lemah sampai-sampai ia hampir kehilangan semuanya, termasuk kehilangan istrinya yaitu Drupadi. Cowok macam apa coba yang mempertaruhkan istrinya sendiri demia sebuah permainan (judi)!

Dulu, aku suka dengan nama Yudhistira, bahkan berencana untuk memberikan nama itu jika di masa depan aku mendapatkan anak laki-laki. Tapi sekarang gak mau lagi! Hoho…

Ternyata tak banyak yang dapat kusampaikan di sini. Berhubung yang muncul di otakku saat ini hanya 5 poin tersebut, haha…  jadi kusudahi saja ya. Nanti akan kuperbarui ketika muncul hal lainnya.

Kalian punya pendapat yang berbeda? Silakan tuliskan di kolom komentar ya. Terima kasih.

 

Sekali lagi, ini hanyalah opini saya tentang salah satu akar masalah dalam kisah legenda Mahabarata. Semoga pembaca dapat menanggapi opini saya ini dengan bijaksana. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini ya.

Posted in artikel, Opini

Saat Orang Tua dan Anak Tak Sejalan


Kali ini aku mau bercerita tentang hubungan anak dan orang tuanya ketika mereka tak sejalan.

Hubungan anak-orang tua tak selamanya mulus, sama seperti hubungan-hubungan lainnya. Ada kalanya hubungan orang tua dengan anak dibumbui masalah atau perdebatan yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Ada banyak masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua, salah satunya ketika anak memiliki pola pikirnya sendiri yang cukup berbeda dengan pola pikir orang tua.

Suatu ketika, seorang anak berada di tingkatan terakhir masa kuliahnya. Ia berusaha keras agar dapat lulus tepat waktu, seperti yang diharapkan. Akan tetapi, rencana hanyalah rencana karena kadang-kadang ada beberapa hal yang terjadi di masa depan yang tidak terduga terjadi. Akibatnya, rencana ya hanya rencana, jalan penelitian tidak sesuai ekspektasi.

Pak, Bu, saya ingin sekali bilang kepada Bapak dan Ibu, saya di sini benar-benar belajar. Belajar menjadi peneliti, belajar menjadi pakar, belajar bertanggung jawab dengan ilmu yang saya dapatkan, dan belajar menjadi seseorang yang berguna serta jujur. Saya tidak ingin sekadar lulus lalu menyandang gelar, Pak. Saya ingin lebih dari itu, yakni tanggung jawab dan profesional.

Beberapa orang tua kurang sabar dengan proses yang dijalani anaknya, bahkan kadang ada juga yang memutuskan jalan si anak dan membawanya ke jalan yang lain sesuai dengan rencana si orang tua.

Selain itu, setiap anak punya karakter dan caranya sendiri. Yang perlu orang tua lakukan hanyalah dukungan, baik tersurat maupun tersirat, baik secara materi maupun nonmateri. 

Bagi saya, menjadi peneliti adalah hal yang serius. Saya tidak bisa dan tidak boleh main-main dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu, Pak, Bu, berikan saya ruang sendiri agar dapat menemukan diri saya sendiri di sana, agar dapat menemukan jalan keluar, dan agar dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab, khususnya terkait dengan penelitian yang saya lakukan ini.

Di sisi lain, orang tua juga kerap melihat anaknya dengan sudut pandang orang lain. Hal inilah yang kadang membuat anak stres dan merasa orang tuanya seperti bukan orang tuanya sendiri. Saya tidak tahu apakah orang tua mengetahui hal ini atau tidak.

Anak yang sudah tumbuh dewasa juga tidak dapat disaturuangkan dengan saudaranya, baik dengan umur yang berdekatan maupun dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Alasannya adalah alasan paikologis.

Simpulannya, orang tua hendaknya lebih bersabar dalam menghadapi proses yang dijalani anaknya. Sebaiknya orang tua tidak menekan atau memaksakan kehendak dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sifatnya menghancurkan atau melemahkan rasa percaya diri anak. Selain itu, orang tua juga harus lebih selektif dalam memilih kata-kata. Akan tetapi, hal ini tak berarti orang tua percaya begitu saja dengan anak. Bingung ya? Haha… Kalau mau tahu lebih jelasnya, tanyakan kepada psikolog atau pendidik-pendidik, khususnya di jurusan Bimbingan Konseling.

Mudah-mudahan opini saya kali ini bermanfaat ya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca opini ini.

Posted in artikel, K-drama, Opini

Review Korean Drama (Ruler: Master of The Mask)


sumber: Google Image

Hi everyone, here I want to write about “Ruler: Master of The Mask” a new Korean drama that has been started at May 10th, 2017. I know it’s too early to write a review about this drama, but I just can’t stand like this.

I have just watched the drama for 2 episodes, and I think I can guess the conflicts and so on in the next episodes. I think it’s just like the other Korean dramas. It’s too much drama and I don’t know how but I just feel like oh I can guess what’s going on in the next episodes.

The Crown Prince was too careless and it’s not something new in Korean  drama. Since it’s not my first K-drama that I have watched, I guess my reviews here is not perfunctorily.

These two episodes are too boring to be followed (but I watched them anyway, haha). The way Lee Sun (L) get mad when he wants to kill the Crown Prince, the way Crown Prince or Lee Sun (Yoo Seung Ho) want to take off his mask and run away from the Palace, the way Gon-Ah find a place where the Crown Prince and his guard talking, etc., those are boring!
I’m sorry if my review here isn’t good. But I think it doesn’t matter from which point of view you talk. Since  everyone has their own idea or opinion about something so I think yeah I think it’s my opinion if you has yours you can write down on the comments.

I’m pretty sure someone else will write a positive review about this drama but from my point of view so far I’m not satisfy with this drama even though it’s just two episodes and we still have so many episodes that we haven’t watch yet.

Thank you for coming and reading.

(Someday, when I change my mind about this drama I will write a review  about it) 😉

Thaaaaaaaaannkkkk yoooooouuuu…

Posted in artikel, Opini

Perempuan, Usia, Adat, dan 24 Tahun


Saya adalah seorang perempuan, anak pertama dari tiga bersaudara. Umur saya saat ini 24 tahun. Saya senang memasang target-target yang ingin saya capai, karena dengan seperti itu hidup saya tidak statis, tidak membosankan, dan selalu ada alasan untuk terus melangkah.

image
Catch your dreams, @riannisa162

Saya baru saja melangkahkan kaki saya di negeri kangguru pada tahun 2015. Seperti sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat perizinan orang tua yang cukup sulit dan hal lainnya yang berkenaan dengan budaya dan status saya sebagai anak perempuan. Orang tua saya masih memegang erat budaya yang konon katanya anak perempuan itu tidak boleh pergi jauh-jauh. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan kehendak saya yang sangat ingin bepergian ke luar negeri untuk mengeksplor isi dunia. Saya yakin, dengan cara tersebut saya dapat mempelajari banyak hal yang tidak pernah saya temukan sebelumnya di buku atau di guru-guru saya.

Dunia ini terlalu luas untuk dibiarkan begitu saja. Sangat disayangkan kalau kita tidak pernah menjejakkan kaki di belahan dunia lainnya selain negeri Ibunda. Sayang disayangkan kalau kita sudah puas dengan apa yang ada di tanah kelahiran. Ada banyak rahasia yang perlu kita telusuri. Ada banyak misteri yang perlu kita ketahui. Tapi bukan berarti saya tidak bersyukur dengan apa yang ada di tanah Ibunda. Saya hanya ingin membuka cakrawala dan alam buana saya. Saya ingin mengetahui banyak hal di berbagai penjuru dunia.

Tapi, kembali ke usia dan budaya, di usia saya saat ini dan status saya sebagai anak perempuan, orang tua sangat menginginkan saya untuk segera menikah. Sementara saya masih ingin mengeskplor isi dunia.

Menikah bukanlah perkara mudah, bukan juga perkara sulit. Mudah dan sulitnya menikah itu tergantung situasi di mana posisi kita saat itu.

Kembali ke perkara usia dan budaya. Selalu ada dua sisi dalam hal apapun di dunia ini, termasuk perihal usia dan budaya yang saya hadapi saat ini. Dua sisi tersebut terdiri atas sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif yang berkenaan dengan usia 24 yaitu adanya sebuah penelitian yang menyatakan bahwa menikah di rentang usia 20-26 untuk perempuan adalah masa-masa yang baik karena pada usia tersebut perempuan berada pada masa suburnya. Selain itu, pada usia tersebut perempuan juga berada pada puncak kecantikan alaminya (yang satu ini hanya pendapat saya berdasarkan pengamatan pribadi saya terhadap orang-orang di sekitar saya). Akan tetapi di sisi lain, yang mana bisa membawa dampak negatif maupun dampak positif dari usia 24 tahun adalah puncaknya semangat dan ambisi untuk meraih apapun yang ia inginkan. Keegoan akan meninggi seolah ia yakin semua akan berjalan baik dan sesuai rencana, bahkan ia merasa bahwa ia tak perlu lagi nasihat orang tua karena keyakinan dan keegoannya memantapkan hatinya untuk terus melihat ke depan, tanpa melihat ke arah yang lainnya. Sisi positifnya, pada usia tersebut semangat dan idealisme serta rasa optimisme akan sangat menggelora, sangat baik kalau dimanfaatkan untuk membangun karier dan masa depan.

Dari sudut pandang budaya, wanita yang berusia 24 dan belum kunjung menikah dikhawatirkan akan menjadi perawan tua, tanpa mempertimbangkan potensi karier dan masa depan dari sudut pandang akademik. Selain itu, adat budaya juga memberlakukan bahwa wanita muda lebih disenangi kaum adam ketimbang wanita yang sudah mapan. Adanya ketidaknyamanan dari kaum adam ketika secara akademik atau materi wanita melebihi lelakinya membuat wanita harus merunduk.

Terlihat seperti zaman Kartini?

Hm… tergantung dari mana Anda menyikapi hal ini, tergantung sudut pandang siapa yang Anda gunakan untuk menyikapi hal ini. Semuanya tergantung, karena hampir semua hal itu seperti koin, memiliki dua sisi yang berbeda.

Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?

Silakan tulis komentar Anda pada kolom komentar di bawah ini.