Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Puisi untuk adikku


Dik, tak terasa waktu telah membawamu beranjak dewasa

Aku masih ingat betul saat pertama kali ibu membolehkanku menggendongmu

kau masih begitu rapuh

Matamu yang sayu, kulitmu yang putih lembut, dan wajahmu yang menggemaskan

membuat aku ingin selalu berada di dekatmu

Dik, aku masih ingat betul saat salah satu kawanku menjahili aku

Lalu tiba-tiba kau menangis seolah tak rela kakakmu disakiti

walau kutahu kawanku itu hanya bercanda

tapi jiwamu yang polos itu tentu belum memahaminya

Dik, tahukah kalau aku begitu bahagia saat Ibu bilang aku punya adik?

Adikku yang cantik, kau sungguh cantik, pun dengan adikmu. Tapi sekarang kita tak sedang membicarakan si bungsu.

Dik, tahu tidak

kadang-kadang kamu rese karena selalu ingin gabung dengan teman-temanku

atau merengek minta ikut ke manapun aku pergi

Tapi sungguh tak ada kebencian sedikitpun di hatiku

Walau mungkin kau tak tahu

Dik, di benakku kau masih anak kecil berumur lima tahun

Mungkin karena pada saat itulah kita berpisah

Aku merantau saat kau masih berusia lima tahun

Aku menjauh tanpa kusadari

Tapi sungguh, ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku lakukan hanya denganmu

Dengan adikku yang masih berumur lima tahun
bermain bersama
pakai baju dengan motif sama
menghabiskan waktu bersama
tapi kita tak boleh menyesalinya
karena takdir Tuhan tak pernah salah

Dik, hari ini kamu bertambah usia
Dua puluh tahun

Kepalamu jadi dua sekarang
Bukan dua sekadar angka dua,
tapi dalam banyak makna

kau akan segera mengetahuinya seiring berjalannya waktu
hadapilah dengan sabar dan tawakal

Dik, kalau kau kehilangan jejak,
kakakmu ada di sini
mungkin bukan dalam artian jarak
tapi aku akan selalu ada, insyaallah.

Jangan sungkan, Dik!

Dik, percayalah dengan dirimu sendiri
Tataplah masa depan
Menataplah dengan bangga dan yakin

Jadilah diri sendiri!
Melangit, tapi membumi!
Aku yakin kau bisa.

Selamat ulang tahun, adikku.
Semoga Allah selalu melindungimu.
Semoga Allah selalu memudahkan jalanmu.
Semoga Allah selalu menyayangimu.

Salam hangat dari Konstanz.

Jerman, 16 April 2018

Robita

Iklan

Hampa


Ya Allah,
dadaku pengap
napas terasa berat
badan tak mampu bergerak
kepala menahan karat

tapi aku tidak sakit, ya Allah

Ya Allah, mungkinkah ini perjuangan
menuju tangga kehidupan yang baru
terasa begitu sulit
terasa begitu melelahkan
terasa menyakitkan

Ya Allah, adakah obat untukku saat ini?

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
tak bergerak ke kanan
tak pula ke kiri

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
dengan satu cahaya di atas kepalaku
seolah akulah pemeran utama dalam hidup ini
tapi aku tak tahu arah
tak ada jalan yang dapat kupilih
semua tampak sama

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
ya, hanya di satu titik
ke mana aku harus beranjak?
ke mana aku harus melangkah?
ke mana aku harus membawa hidupku?

Ya Allah,
mundurpun aku tak tahu
tak ada jejak kaki maupun petunjuk

Ya Allah,
adakah kegelisahan dalam hatiku ini
menyiratkan sebuah arti
yang tak jua kumengerti
tapi terus membuat diri
pusing tak ada henti
hingga kini
lelah hati
lelah pikiran tak terobati

Bandung, 19 Desember 2016
Robita

Diposkan pada Puisi

Mengadu


FB_IMG_1434053936459

aku mengadu
dengan kututupi mukaku
tapi tak kututup mataku

aku mengadu
dengan kututupi telingaku
tapi bisingnya suara masih menderu

aku mengadu
dengan kututupi mulutku
tapi masih ada kata dalam debu

aku mengadu
dengan kututupi hatiku
tapi rindu itu masih menggebu

aku mengadu
dan akan terus mengadu
hingga bosan mengadu
datang mengadu padaku

Alexandra, 7 Oktober 2015

Diposkan pada Puisi, umum

Butiran Cinta


Tuhan, aku masih begitu terjaga dalam napas sendu ini,
mengadu kepasrahan lewat setangkai kata,
yang sempat kuberi dulu.

Tuhan, aku benar-benar lemah
entah kenapa bisa selama ini aku bertahan
entah kenapa bisa sekuat ini aku “menyiksa” batinku sendiri
entah kenapa dan kenapa entah Lanjutkan membaca “Butiran Cinta”

Diposkan pada Puisi

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari


 

(oleh: Sapardi Djoko Damono)

 

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Bagaimana Kalau


(oleh: Taufiq Ismail)

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, Lanjutkan membaca “Bagaimana Kalau”

Diposkan pada Puisi

Perahu Kertas


(oleh : Sapardi Djoko Damono)

 

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Diposkan pada Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG


(Taufik Ismail)

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku Lanjutkan membaca “KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG”