Hampa


Ya Allah,
dadaku pengap
napas terasa berat
badan tak mampu bergerak
kepala menahan karat

masa-lalu
sumber gambar: googleplus

 
tapi aku tidak sakit, ya Allah

Ya Allah, mungkinkah ini perjuangan
menuju tangga kehidupan yang baru
terasa begitu sulit
terasa begitu melelahkan
terasa menyakitkan

Ya Allah, adakah obat untukku saat ini?

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
tak bergerak ke kanan
tak pula ke kiri

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
dengan satu cahaya di atas kepalaku
seolah akulah pemeran utama dalam hidup ini
tapi aku tak tahu arah
tak ada jalan yang dapat kupilih
semua tampak sama

Ya Allah, aku berdiri di satu titik
ya, hanya di satu titik
ke mana aku harus beranjak?
ke mana aku harus melangkah?
ke mana aku harus membawa hidupku?

Ya Allah,
mundurpun aku tak tahu
tak ada jejak kaki maupun petunjuk

Ya Allah,
adakah kegelisahan dalam hatiku ini
menyiratkan sebuah arti
yang tak jua kumengerti
tapi terus membuat diri
pusing tak ada henti
hingga kini
lelah hati
lelah pikiran tak terobati

Bandung, 19 Desember 2016
Robita

Advertisements
Posted in Puisi

Mengadu


FB_IMG_1434053936459

aku mengadu
dengan kututupi mukaku
tapi tak kututup mataku

aku mengadu
dengan kututupi telingaku
tapi bisingnya suara masih menderu

aku mengadu
dengan kututupi mulutku
tapi masih ada kata dalam debu

aku mengadu
dengan kututupi hatiku
tapi rindu itu masih menggebu

aku mengadu
dan akan terus mengadu
hingga bosan mengadu
datang mengadu padaku

Alexandra, 7 Oktober 2015

Posted in Puisi

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari


 

(oleh: Sapardi Djoko Damono)

 

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

Bagaimana Kalau


(oleh: Taufiq Ismail)

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, Continue reading “Bagaimana Kalau”

Posted in Puisi

Perahu Kertas


(oleh : Sapardi Djoko Damono)

 

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Posted in Bahasa & Sastra Indonesia, Puisi

KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG


(Taufik Ismail)

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku Continue reading “KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG”