“Bunda, Bunda? Bunda di mana? Bunda….” teriak manja Andien. Tak lama kemudian ia terisak sendiri, ia tak menemukan sosok bundanya. Tak ada pesan, surat, atau note.
Hiks…hiks…hiks… “Bunda di mana?” Andien duduk memeluk dua kakinya. Ia ketakutan. Bunda yang biasanya menyambut ia ketika pulang ke rumah, kini tak tahu ke mana. Hati Andien gelisah. Ia mendapati dirinya hanya sendiri di ruangan itu, ruangan yang sebenarnya tak asing baginya. Tapi ke mana Bunda Andien?
Hiks…hiks…hiks… Andien tak dapat menghentikan tangisnya. “Bunda… Bunda…” sekali lagi Andien memanggil bundanya dan berharap ada jawaban. “Bunda…. Andien takut….” air mata Andien mengalir deras. Malam sudah datang. Tapi, malam ini terasa sangat menakutkan karena ia tak dapat menemukan Bundanya.
Andien mencoba berdiri dan berjalan menyusuri tiap ruangan di rumah yang gelap itu. Ia meraba-raba dinding. “Bunda….” Andien memanggil bundanya, namun tetap tak ada jawaban. “Bunda… Bunda di mana? Andien takut, Bunda.” kembali ia memanggil bundanya sambil menyusuri ruangan gelap itu. Entah kenapa listrik tidak menyala. Andien terus memanggil-manggil bundanya, penuh rasa takut, dan tangisan yang tak terhenti.
“Bundaaaa….” panggil Andien.
Lalu ia melihat sosok bundanya mengenakan pakaian putih, berkerudung, dan rapi. Andien bingung, kenapa bundanya tidak menjawab panggilannya sementara ia benar-benar ketakutan.
“Bunda, kenapa Bunda tidak menjawab panggilan Andien? Apa Bunda lupa kalau Andien takut gelap?” Andien mencoba menSanati bundanya.
“Bunda jangan diam saja. Ini Andien, Bun.” Andien menghentikan isak tangisnya. “Em…. Bunda mau ke mana? Kok berpakaian serba putih gitu? Rapi dan wangi pula.”
Terukir senyuman manis dari wajah Sang Bunda. “Bunda, jawab dong, jangan bikin Andien takut gini… Bunda ada acara ya? Sama Ayah?” tanyanya polos.
Tanpa menjawab satu pertanyaan pun, Bunda Andien berjalan ke pintu keluar. Andien yang polos mengikuti Sang Bunda ke pintu keluar. Di depan pintu yang sudah terbuka itu muncul sebuah cahaya yang membentuk tangga menuju langit. Andien bingung, kenapa di depan pintu rumahnya ada cahay seperti itu?
Seingatku tadi ga’ ada cahaya apa-apa dari depan pintu. Itu cahaya apa ya? Ajaib dan terang banget. Lalu, Andien menyaksikan bundanya menaiki satu per satu tangga yang terbuat dari cahaya itu. Ketika Andien hendak menaiki tangga itu, seperti ada pintu gerbang yang menahannya, ia tidak dapat menapakkan kakinya di tangga. Jangankan menapakkan kaki, melewati garis luar tangga pertama saja ia tak bisa.
“Bunda, tunggu! Bunda mau ke mana? Andien mau ikut Bunda….” teriak Andien, tapi Bunda telah jauh menapaki tangga cahaya itu. “Bundaaaa…… jangan tinggalin Andien! Bundaaaaaaaaaaa….”
***
Andien terbangun adari tidurnya. Perlahan ia mengatur napasnya. Andien masih dalam ketakutan. Mimpi itu terlihat nyata. Dan sekarang, di ruang tidurnya gelap. Andien meraba-raba meja Sanat tempat tidurnya, ia mencari HP.
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan memanggil bundanya, “Bunda… Bunda… Kok gelap gini ya, Bun? Mati lampu ya?”
Tak ada jawaban dari luar kamar. Ia menekan tombol saklar di tembok Sanat pintu, tapi lampu tak menyala. Oh, mungkin lagi mati lampu. Andien ke luar kamar dengan membawa HP-nya. “Bun….” teriaknya.
“Bunda ke mana sih? Kok ga ngejawab panggilan Andien? Hmm… yang lain pada ke mana pula, sepi banget rumah ini.”
Ketika ia berjalan melewati ruang keluarga, di sana Sang Bunda dan anggota keluarga lainnya sedang berkumpul. Namun semuanya diam. “Bun, kok ga’ ngejawab panggilan Andien?” berjalan menSanati bundanya. “Ayah juga! Diem aja! Huh!”
Andien merasa kesal pada semuanya. “Kalian sedang apa sih? Kok pada diem-dieman?”
“San, kok Ayah sama Bunda diem-dieman? Ada apa sih?” tanya Andien pada sepupu kecilnya.
Seketika itu Andien kaget dan ketakutan, tangan sepupunya terasa dingin. Ia pun tak berkata apa-apa. Lalu, Bunda, Ayah, dan si sepupu beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan menjauhi Andien. Mereka berjalan menuju pintu keluar rumah. Andien bingung, “Kenapa situasi ini sepertinya pernah terjadi? Ta… tapi, kapan ya?”
Andien langsung teringat pada mimpinya. “Ya Allah! Ini persis sama dengan mimpiku tadi.” Andien berlari menuju pintu depan, ia hendak menahan Bunda, Ayah, dan sepupunya. Sama seperti di mimpinya, di depan pintu itu ada tangga yang bersinar terang seperti cahaya. “Bunda, Ayah, sadarlah! Ada apa dengan kalian?”
Namun Andien bukanlah batu karang yang dapat menahan deburan ombak besar. Dengan mudahnya Bunda, Ayah, dan si kecil Santi dapat melewatinya dan pergi menapaki tangga bercahaya itu. “Jangan! Jangan keluar! Kumohon Bunda, Ayah, Santi, kalian jangan melewati pintu ini. Kumohon jangan pergi. Kumohon….” teriaknya.
Tiba-tiba semua menjadi gelap dan…..
Andien terbangun dari mimpinya. Astagfirullah…. ada apa ini ya Allah? Kenapa aku bisa bermimpi di atas mimpi? Dan….. sama! Mimpinya sama. Ya Allah….
Andien beranjak adri tempat tidurnya. Ia mengambil air wudhu. Tapi ari kran tidak keluar. Andien pun keluar kamarnya. Ia pergi ke kamar mandi sepupunya.
Di ruang keluarga, ia melihat semua orang sedang berkumpul. Mereka menangis. Andien kaget, apa yang terjadi di rumah ini?
Andien mencoba memerhatikan sekitarnya. Ia takut ini masih di dunia mimpi. Tapi, kali ini berbeda. Rumah tidak gelap, dan orang-orang tidak diam seperti di mimpinya.
“Bunda….” ia mendekati bundanya. Terlihat sangat sendu wajah bunda.
“Bunda, ini ada apa? Kenapa semua orang menangis? Dan…. astagfirullah…. siapa yang meinggal Bunda?” Andien mencoba mendekati sesosok tubuh yang telah ditutupi kain itu. Tapi, belum sampai ia membukanya, ia kembali pada bundanya dan bertanya, “Bunda, apakah itu Ayah?” Menunjuk ke sosok yang telah ditutupi kain itu.
Anehnya Sang Bunda seperti tak mendengar apa-apa. Padahal Andien berbicara cukup keras. Andien hampir pingsan, tetapi ia masih dapat menahan dirinya untuk tetap dalam keadaan sadar. Ia kembali mendekati sosok yang ditutupi kain itu. Perlahan. Bismillah….
“Bun, sudahlah. Kita harus tabah.” kata Ayah pada bundanya.
Andien mendengar kata-kata ayahnya. Ia melihat Sang Ayah berada di sisi Bunda. “Ha? Kok ayah ada di sana?” Andien kembali memerhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan, ia tak menemukan wajah sepupu kecilnya, Santi.
Astagfirullah…. jangan-jangan ini…. Jantung Andien berdegup kencang. Ia yakin bahwa orang yang ditutupi kain itu adalah sepupu kecilnya yang lucu. Seketika itu ia teringat kenangan-kenangan bersama sepupunya. Ya Allah…. ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Santi meninggal?
Andien membuka kain yang menutupi wajah mayat itu. Dan….. Astagfirullah!!! Ini kan aku! Andien tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Orang-orang semakin banyak, dan di luar telah siap sebuah keranda.
“Bunda! Ayah! Ini…. ini siapa? Jawab Bunda!” tanya Andien pada bundanya. Namun Bunda dan Ayah tak mendengar apapun. Dan semua orang di rumah itu penuh dengan isak tangis.
Andien pasrah. Ia lelah. Senja sore ini adalah sebuah batas waktu baginya. Ia menatap ke langit. Di sana ia melihat sebuah tangga yang bersinar, sedang menyusuk baris-baris tangga hingga sampai ke tanah.
Ya Allah, kalau memang ini waktuku. Aku pasrah. Tolong bawalah aku ya Allah, tapi tolong Kau tenangkan dan lapangkan hati Ayah dan Bundaku.
Air mata Andien menetes. Ia memejamkan matanya, dan saat itu ia merasa seseorang memegang tangannya. Andien pun kembali membuka matanya. “Ya Allah….” reflek Andien.
Seesorang berwajah cerah telah berdiri di depannya. Orang itu mengajaknya pergi. Entah kenapa Andien menurut saja dengan orang itu. “Tunggu! Kau mau membawaku ke mana? Bagaimana bisa kau melihat dan menyentuhku? Aku sudah meninggal! Apa kau tak melihat wajah itu?” Andien menunjuk ke jasadnya. Orang itu hanya tersenyum. Dan secepat cahaya, ia dibawa orang itu entah ke mana.
Kini Andien telah tiada. Mimpi buruk yang dialaminya ternyata bukanlah mimpi. Entah hal itu dinamakan apa. Tapi yang jelas, Andien, siswa SD kelas 4 itu kini telah pergi. Waktun telah habis baginya. Kini terasa benar waktu tak dapat diputar. Andien mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Ia jatuh dari tangga dan terjadi kebocoran di kepalanya. Andien hanya mampu bertahan satu hari di rumah sakit.
Takkan ada lagi tawa dan ceria dari Andien. Anak manis itu pergi menemui Sang Mahapencipta, Mahapenguasa. Andien telah jauh dari Ayah dan Bundanya, bukan Bunda dan Ayahnya yang menjauh darinya.
***
Waktu akan terus berjalan. Tak dapat kita hentikan dan tak dapat pula kita percepat. Cerita ini hanyalah sebuah pengingat untuk kita semua agar dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Agar tak ada penyesalan di akhir nanti. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beriman dan diselamatkan di akhirat nanti. Aamiin….
short story by Robita
Comments